Mengacu pada serangan terbaru Iran, Arab Saudi menetapkan atase militer Iran, asisten atase, serta tiga staf Kedutaan Besar Iran lainnya sebagai persona non grata, dan memberi mereka waktu 24 jam untuk meninggalkan wilayah kerajaan, menurut laporan Anadolu.
Dalam pernyataan yang dirilis Sabtu malam, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyampaikan kecaman keras terhadap serangan Iran ke negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC).
Serangan yang menargetkan Arab Saudi itu disebut sebagai “pelanggaran nyata terhadap berbagai konvensi internasional, prinsip hubungan bertetangga yang baik, serta penghormatan terhadap kedaulatan negara.”
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa tindakan Iran melanggar “Perjanjian Beijing, Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2817, serta bertentangan dengan semangat persaudaraan Islam dan nilai-nilai ajaran Islam yang selama ini diklaim oleh Iran—yang pada kenyataannya tidak tercermin dalam tindakan mereka.”
Kementerian menambahkan bahwa serangan-serangan tersebut akan berdampak besar terhadap hubungan kedua negara, baik dalam jangka pendek maupun panjang, sekaligus menegaskan komitmen Arab Saudi untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi menjaga kedaulatan dan keamanannya.
Langkah ini menjadikan Arab Saudi sebagai negara kedua yang mengambil tindakan tegas sejak perang pecah pada 28 Februari.
Sebelumnya, Qatar juga telah mengusir atase militer dan keamanan Iran setelah serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan signifikan pada fasilitas gas alam cair (LNG) di Ras Laffan.
Ketegangan di kawasan terus meningkat sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari. Teheran pun membalas dengan serangkaian serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.


