GAZA CITY — Sejumlah sumber medis di Jalur Gaza pada Ahad (24/5) memperingatkan kondisi genting persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis yang kian memperparah krisis layanan kesehatan dan mengancam nyawa ribuan pasien di wilayah kantong tersebut. Peringatan disampaikan menyusul tidak masuknya pasokan medis dalam jumlah memadai selama beberapa pekan terakhir, di tengah pembatasan akses kemanusiaan yang masih diberlakukan otoritas Israel.
Sebanyak 250 pasien gagal ginjal di Gaza dilaporkan berada di ambang kehilangan akses dialisis akibat kekurangan larutan Bibag—cairan vital yang digunakan dalam proses cuci darah. Tanpa pasokan segera, prosedur dialisis yang menjadi penopang hidup ratusan pasien tersebut terancam terhenti dalam hitungan hari. Bagi pasien gagal ginjal stadium akhir, terhentinya dialisis bisa berakibat fatal dalam waktu kurang dari satu pekan.
Selain itu, perawatan untuk delapan anak yang sedang sakit kritis kemungkinan akan terhenti karena minimnya filter medis yang diperlukan. Yang paling memprihatinkan secara skala, kekosongan suntikan insulin saat ini memperburuk kondisi kesehatan sekitar 11.000 pasien diabetes di seluruh Jalur Gaza, yang menggantungkan hidupnya pada injeksi rutin harian.
Sistem Kesehatan di Ambang Kelumpuhan
Sumber medis di lapangan menyebut situasi ini sebagai akumulasi dari pembatasan berkepanjangan terhadap akses bantuan kemanusiaan. Pada periode 1 hingga 18 Mei 2026, hanya sekitar 2.719 truk dari 10.800 truk bantuan yang dijadwalkan berhasil mencapai Gaza—setara dengan seperempat kebutuhan minimum. Pasokan medis termasuk dalam kategori yang paling sering tertahan di titik-titik inspeksi perbatasan.
Rumah sakit-rumah sakit di Gaza City, Khan Younis, dan Rafah dilaporkan beroperasi dengan kapasitas jauh di bawah standar. Beberapa fasilitas bahkan terpaksa menunda operasi-operasi yang tidak tergolong darurat akibat keterbatasan obat anestesi, antibiotik, dan peralatan steril. Tenaga medis bekerja dalam tekanan ekstrem, dengan rasio dokter terhadap pasien yang berlipat-lipat di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia.
Kondisi ini diperburuk oleh kerusakan infrastruktur kesehatan akibat serangan-serangan sebelumnya. Sejumlah rumah sakit besar di Gaza utara hingga kini belum dapat berfungsi penuh karena kerusakan struktural berat, sementara fasilitas kesehatan tingkat primer di kawasan pengungsian sebagian besar hanya beroperasi dengan tenda dan peralatan seadanya.
Anak-Anak dan Lansia Menjadi Korban Paling Rentan
Dampak krisis pasokan medis dirasakan paling berat oleh kelompok rentan: anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Delapan anak yang disebutkan sumber medis sebagai berisiko kehilangan perawatan merupakan bagian dari jumlah yang jauh lebih besar—ribuan anak Gaza dengan kondisi medis kompleks yang memerlukan penanganan berkelanjutan.
Data kantor hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya mencatat setidaknya 21.000 anak di Gaza menyandang disabilitas akibat konflik sejak Oktober 2023. Ribuan di antaranya menjalani amputasi dan membutuhkan layanan rehabilitasi serta prostetik yang saat ini hampir mustahil diakses di Gaza.
Penderita diabetes yang berjumlah sekitar 11.000 orang berada dalam situasi yang tidak kalah genting. Tanpa insulin reguler, mereka menghadapi risiko komplikasi serius seperti ketoasidosis diabetik, kerusakan organ permanen, hingga kematian. Sebagian pasien dilaporkan terpaksa mengurangi dosis insulin sendiri untuk memperpanjang persediaan—sebuah praktik yang dalam dunia medis dianggap sangat berbahaya.
Seruan Pembukaan Akses Bantuan
Otoritas kesehatan Gaza dan sejumlah organisasi kemanusiaan internasional kembali menyerukan pembukaan akses penuh bagi pasokan medis ke Jalur Gaza. Pasokan yang dibutuhkan mencakup obat-obatan esensial, peralatan dialisis, filter medis, insulin, antibiotik, vaksin, hingga peralatan bedah dasar.
Uni Eropa dalam pernyataan sebelumnya telah menegaskan tuntutan agar Israel segera mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dalam skala besar tanpa hambatan, serta memastikan distribusinya berlangsung secara berkelanjutan. Namun di lapangan, implementasi tuntutan tersebut belum menunjukkan perubahan signifikan.
Organisasi-organisasi medis internasional seperti Médecins Sans Frontières dan International Committee of the Red Cross berulang kali menyatakan bahwa krisis pasokan medis di Gaza saat ini telah memasuki kategori darurat kemanusiaan tingkat tertinggi, dan menuntut intervensi diplomatik segera dari komunitas internasional.
Bagi 250 pasien gagal ginjal, delapan anak yang sakit kritis, dan 11.000 penderita diabetes di Gaza, intervensi tersebut bukan lagi soal kebijakan—melainkan soal waktu yang terus menipis. (IW)


