Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan semakin frustrasi dan skeptis terhadap kelanjutan peluang perdamaian seiring perang di Iran memasuki bulan kelima dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, menurut pejabat pemerintahan dan orang-orang yang dekat dengan presiden.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang diterbitkan pada Kamis (23/7), sejumlah penasihat khawatir konflik yang berkepanjangan itu membebani citra kepresidenan Trump dengan memicu kenaikan harga di Amerika, menggerus tingkat persetujuan publik serta merugikan peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu mendatang.
Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan, Trump meyakini satu-satunya hal yang dipahami Iran adalah kekuatan militer dan kini ia berada dalam “mode balas dendam” terhadap Teheran, hanya sedikit pilihan selain melanjutkan serangan.
Amerika Serikat juga mengerahkan lebih banyak pasukan dan persenjataan ke Timur Tengah ketika Trump mempertimbangkan eskalasi militer, meskipun muncul kekhawatiran mengenai besarnya biaya dan menurunnya dukungan publik.
Perang tersebut juga disebut membuat hubungan Trump dan Netanyahu retak. Menurut seorang pejabat senior pemerintahan, Trump enggan berbicara maupun bertemu dengan Netanyahu.
Perang itu juga memberikan dampak secara pribadi terhadap Trump dan para penasihat seniornya. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, beberapa di antara mereka telah diperingatkan oleh badan intelijen mengenai ancaman pembunuhan dari Iran dan disarankan untuk menghindari penggunaan layanan mobil.
Saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump menerima pengarahan mengenai informasi intelijen Israel terkait dugaan rencana Iran untuk membunuhnya. Meskipun para pejabat AS meragukan kredibilitas informasi tersebut, pengarahan itu disebut mendorong Trump untuk pulang menggunakan pesawat Air Force One yang lebih tua, alih-alih jet yang dihadiahkan oleh Qatar.
Trump dikabarkan murka setelah The New York Times mengungkap alasan pergantian pesawat tersebut. Ia menyebut kebocoran informasi itu sebagai risiko keamanan, sementara pemerintahannya berupaya mengidentifikasi sumber kebocoran.
Menurut orang-orang yang mengetahui pembahasan internal, untuk memperbaiki citranya, Trump juga mendorong penurunan harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu dan dinilai tidak terlalu mengkhawatirkan dampak politik dari perang dibandingkan para penasihatnya.


