GAZA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (29/7) memperingatkan risiko besar kesehatan masyarakat yang mengancam warga sipil di Jalur Gaza. Sebanyak 83% lokasi pengungsian pada awal bulan ini dilaporkan mengalami infestasi tikus dan ektoparasit, lapor Anadolu Agency dilanisr dari Middle East Eye.
Mengutip Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), juru bicara PBB Farhan Haq mengatakan dalam konferensi pers, warga sipil di Gaza menghadapi risiko besar terhadap kesehatan masyarakat, semakin memperparah kondisi ketidakamanan akibat pengungsian.
Infestasi tikus dan ektoparasit yang meluas dilaporkan terjadi di 83 persen lokasi pengungsian yang dinilai pada awal bulan ini. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan adanya limbah cair di jalanan, genangan air, serta buruknya sanitasi, ujarnya.
Ia menambahkan, para pekerja kemanusiaan di lapangan sedang meningkatkan upaya pengendalian tikus pada pekan ini.
Untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat, akses berkelanjutan terhadap peralatan dan pasokan penting seperti suku cadang dan oli mesin sangat mendesak dibutuhkan, kata Haq.
Ia juga menegaskan mitra kemanusiaan yang menangani pengelolaan sampah padat harus diizinkan mengakses tempat pembuangan akhir (TPA) di wilayah yang aksesnya dibatasi oleh pasukan Israel. Menurutnya, pembatasan tersebut mencakup sekitar 65% wilayah Jalur Gaza.
Akses terhadap air juga masih menjadi tantangan sehari-hari bagi keluarga, lanjutnya. Ia mengatakan, PBB bersama para mitranya terus memberikan layanan penting di bidang air bersih, sanitasi, dan kebersihan (WASH) kepada ratusan ribu anak-anak beserta keluarga mereka.
Israel terus melanjutkan perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida di Jalur Gaza sejak 8 Oktober 2023. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 73.000 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 174.000 orang terluka, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.
Meskipun gencatan senjata mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, serangan Israel dilaporkan terus berlanjut. Menurut kementerian tersebut, sedikitnya 1.207 warga Palestina tewas dan 3.914 lainnya terluka sejak gencatan senjata diberlakukan.


