HomeBaitul MaqdisOPINI - Menghitung Korban Tak Akan Menghentikan Genosida Israel

OPINI – Menghitung Korban Tak Akan Menghentikan Genosida Israel

Oleh Dr. Ramzy Baroud

Kata-kata seperti “tewas”, “terluka”, “cacat”, dan istilah serupa perlahan kehilangan sebagian besar maknanya ketika terus diulang tanpa henti.

Ambil contoh sebuah judul berita seperti: “13 Warga Palestina Tewas di Gaza, Sejumlah Lainnya Terluka.” Meski banyak dari kita masih merasakan kesedihan yang mendalam atas tragedi semacam itu, berita tersebut lambat laun menjadi tidak lagi mengejutkan.

Menurut data Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Israel telah menewaskan dan melukai lebih dari 250.000 warga Palestina sejak dimulainya genosida pada 2023.

Angka tersebut diperbarui setiap hari karena pembunuhan tidak pernah berhenti.

Pada 23 Juli, enam warga Palestina tewas di Gaza. Sehari sebelumnya, 13 orang tewas. Sehari sebelumnya lagi, sembilan orang tewas, dan demikian seterusnya.

Ungkapan “dan demikian seterusnya” itulah yang membuat kita perlahan kehilangan pemahaman tentang apa sebenarnya makna dari setiap tragedi tersebut. Mereka adalah manusia tak berdosa yang dibakar hidup-hidup di dalam tenda, dibom saat berada di dalam mobil, atau dibunuh ketika mencoba menikmati sejenak kesejukan di pantai dari teriknya cuaca.

Di antara sembilan korban yang tewas pada 21 Juli, terdapat satu keluarga yang seluruh anggotanya, termasuk empat anak kecil, terbunuh dalam satu serangan.

Seiring laporan harian mengenai jatuhnya korban Palestina di Gaza terus bertambah, para jurnalis pun terlalu sering gagal memanusiakan mereka yang terbunuh.

Sebuah foto yang beredar di media sosial memperlihatkan tiga dari anak-anak tersebut: seorang anak laki-laki mengenakan kaus bertuliskan “Santa Monica Beach”; kakak perempuannya berkacamata memakai kaus merah muda sambil dengan bangga memegang piagam penghargaan sekolah; serta adik perempuan mereka yang paling kecil berpose dengan lembut.

Ketiga anak itu mewakili setiap anak Palestina yang terbunuh sejak dimulainya genosida ini.

Menurut estimasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga internasional, lebih dari 21.000 anak telah terbunuh di Gaza, sementara puluhan ribu lainnya mengalami cacat permanen atau masih tertimbun reruntuhan.

Meski rutinitas pembunuhan setiap hari membuat tragedi itu terasa semakin biasa bagi mereka yang hanya melihat angka-angka, penderitaan tersebut justru menjadi jauh lebih menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya secara langsung.

Di Gaza, tidak ada satu pun keluarga yang luput dari kehilangan orang-orang tercinta. Kesedihan mereka terus bertambah dari hari ke hari.

Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan penderitaan kolektif rakyat Gaza.

Yang membuat tragedi ini semakin tak tertahankan adalah kenyataan bahwa seluruh dunia mengetahui apa yang telah dan terus terjadi di Gaza, namun gagal melakukan apa pun untuk menghentikannya.

Kita terus menghitung jumlah korban, menunjukkan kebrutalan Israel, mengecam kegagalan lembaga-lembaga internasional, dan hanya bisa menggelengkan kepala dalam keputusasaan.

Namun hasilnya tetap sama: jumlah korban terus meningkat, dan statistik baru terus muncul setiap hari untuk mengingatkan kita akan besarnya krisis tersebut.

Laporan bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), UNICEF, dan Program Pangan Dunia (WFP) yang dirilis pada 23 Juli menemukan bahwa 1,4 juta warga Palestina di Gaza menghadapi kerawanan pangan akut.

Laporan itu juga memperingatkan bahwa lebih dari 74.000 anak berusia di bawah lima tahun diperkirakan membutuhkan penanganan segera akibat malnutrisi akut dalam satu tahun ke depan.

Laporan tersebut diterbitkan pada hari yang sama ketika otoritas kesehatan Gaza memperbarui jumlah korban tewas menjadi lebih dari 73.311 warga Palestina. Kini angkanya sudah lebih tinggi lagi karena korban terus bertambah.

Pada hari yang sama, Thameen Al-Kheetan dari Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) menyatakan bahwa “tidak ada satu pun tempat di Gaza yang dapat dianggap aman.”

Pernyataan itu tentu benar. Namun ironisnya, itu juga merupakan fakta yang paling diketahui dunia saat ini. Tidak ada yang membantahnya. Namun tidak ada pula yang bertindak.

Israel terus membombardir Gaza.

Kongres Amerika Serikat terus menyetujui pengiriman lebih banyak senjata kepada Israel.

Sementara dunia hanya terus menghitung jumlah korban.

Di saat yang sama, Israel—yang telah menguasai wilayah yang lebih luas di Gaza sejak apa yang disebut sebagai gencatan senjata—kini membangun tanggul tanah raksasa sepanjang sekitar 23 kilometer yang membelah Jalur Gaza.

Padahal, meskipun sejak awal tidak adil, bahkan rencana Gaza yang pernah diajukan Donald Trump tidak pernah mencakup pembangunan perbatasan di dalam wilayah Gaza, perampasan wilayah tambahan, ataupun pemusatan warga Palestina yang mengungsi ke kantong-kantong kecil di wilayah yang memang sudah sempit.

Rencana jangka panjang Israel bukan hanya mempertahankan kendali militer permanen atas Gaza, sebagaimana telah berulang kali dinyatakan para pejabat tinggi Israel, tetapi juga memperpanjang penderitaan rakyat Gaza tanpa batas waktu.

Bahkan ketika saya sedang menulis artikel ini, laporan berita menyebutkan bahwa empat warga Palestina lagi baru saja terbunuh.

Kemungkinan besar jumlah itu tidak akan berhenti di angka empat. Tentara Israel jarang menewaskan korban dalam jumlah kecil.

Namun, bahkan angka yang tampak kecil itu tetap mewakili manusia-manusia yang kesedihannya tidak dapat diukur dengan statistik, tidak dapat diringkas dalam pernyataan resmi, dan tidak pantas direduksi menjadi sekadar judul berita yang klise.

Para penyintas pun tidak lagi menggantungkan harapan pada janji kosong bahwa hukum internasional suatu saat akan mengalahkan impunitas yang didukung Amerika Serikat.

Sejarah telah membuat rakyat Palestina bersikap sinis.

Selama beberapa generasi, sejak setiap pembantaian dan perampasan tanah yang terjadi sejak Nakba 1948, menunggu keadilan hanya menghasilkan janji-janji kosong dan bertambahnya jumlah korban jiwa.

Satu-satunya perbedaan antara masa lalu dan masa kini adalah bahwa sekarang kita semua mengetahui, melihat, dan mendengar secara langsung apa yang sedang terjadi di Gaza dan di seluruh Palestina.

Hal paling sedikit yang dapat kita lakukan adalah menolak berpaling dan menolak mereduksi genosida yang terjadi di depan mata kita menjadi sekadar angka-angka.

Jika kita membiarkan hal itu terjadi, maka kita pun ikut memikul tanggung jawab moral.

Israel melakukan pembunuhan dengan senjata buatan Amerika Serikat, sementara kita hanya duduk diam, menghitung jumlah korban, dan menggelengkan kepala melihat betapa tragisnya keadaan dunia.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini