KHAN YOUNIS – Begitu peluit dibunyikan, mereka semua berlari sekuat tenaga. Untuk sesaat, tak seorang pun memikirkan puing-puing kehancuran yang mengelilingi mereka.
Disemangati keluarga dan teman-teman, memberitakan dari Al Jazeera, puluhan anak laki-laki dan perempuan pada Jumat (31/7) mengikuti lomba lari yang bertujuan menyoroti penderitaan anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tua mereka akibat perang yang dilancarkan Israel di Jalur Gaza.
“Saya merindukan ayah setiap hari. Dulu beliau yang mengurus semua kebutuhan kami,” kata Saif Hijazi (13), yang kehilangan ayahnya, Rami Hijazi, dalam serangan Israel yang menghantam rumah keluarganya di Gaza utara pada Januari 2024.
Berbeda dengan anak-anak lainnya, Saif tidak dapat ikut berlari. Sejak Januari 2025 ia mengalami kelumpuhan setelah tembakan artileri Israel menghantam area dekat tenda pengungsian keluarganya. Dari kursi rodanya, ia menyaksikan adik-adiknya berlari bersama anak-anak yatim lainnya.
“Sejak saya terluka, saya tidak bisa lagi berjalan atau bergerak sendiri,” ujarnya dengan suara pelan. “Saya hanya ingin hidup saya menjadi lebih baik.”
Anak-anak Paling Terdampak
Lebih dari 58.000 anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya akibat perang Israel, menyoroti mendesaknya tantangan kemanusiaan di Gaza.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, menurut otoritas kesehatan setempat.
Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mencatat lebih dari 58.000 anak di Gaza kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya, sementara lebih dari satu juta anak membutuhkan perlindungan dan dukungan psikososial akibat dampak perang yang masih berlangsung.
UNICEF sebelumnya juga memperkirakan sekitar 17.000 anak hidup tanpa pendamping atau terpisah dari keluarganya, menciptakan salah satu krisis perlindungan anak terbesar yang pernah terjadi di Gaza.
Banyak dari mereka mengalami pengungsian berulang kali, kehilangan sumber penghasilan keluarga, serta terbatasnya akses terhadap layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan perlindungan.
Maraton untuk Anak-Anak Yatim
Dalam upaya meningkatkan kepedulian terhadap kondisi anak-anak yatim di Gaza sekaligus mendorong dukungan bagi keluarga yang mengasuh mereka, International Networking for Humanitarian (INH) menggelar kegiatan lari pada Jumat (31/7) di Kota Khan Younis, Gaza selatan.
Kegiatan maraton tersebut mempertemukan anak-anak yatim dari berbagai wilayah Gaza agar mereka dapat mengikuti kegiatan publik sekaligus merasakan dukungan dari masyarakat.
“Anak-anak yatim selalu menjadi kelompok yang paling terdampak dalam setiap perang,” ujar Mohammed Yassin, Koordinator Program INH di Gaza.
“Sebesar apa pun upaya organisasi kami, kami tidak mungkin mampu menjangkau mereka semua,” tambahnya.
“Melalui kegiatan ini kami ingin mengingatkan dunia sekaligus mengajak masyarakat memberikan dukungan dan sponsorship yang dapat membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka.”

Yassin menjelaskan bahwa keluarga di Gaza yang masih memiliki pencari nafkah pun kini sudah kesulitan memenuhi kebutuhan dasar akibat hilangnya daya beli dan memburuknya krisis kemanusiaan.
“Namun ketika sebuah keluarga kehilangan pencari nafkah utamanya, penderitaan untuk memperoleh kebutuhan pokok seperti air dan makanan menjadi jauh lebih berat,” katanya.
Bertahan Tanpa Pilihan
Realitas itu sangat dirasakan Warda Hijazi, ibu Saif.
Sejak suaminya meninggal, perempuan berusia 33 tahun tersebut harus menjalani perjuangan setiap hari. Ia merawat Saif yang juga mengalami gangguan ginjal, sekaligus memenuhi kebutuhan kedua adiknya, Sarah (9) dan Ammar (10).
“Semua kini menjadi tanggung jawab saya,” kata Warda.
“Makanan mereka, obat-obatan mereka, membesarkan mereka, sekaligus berusaha menggantikan kasih sayang yang telah mereka kehilangan.”
Setelah beberapa kali mengungsi, Warda dan anak-anaknya kini tinggal sementara di al-Zawaida, Gaza tengah.
Ia mengaku kehilangan suami, kemudian melihat Saif mengalami luka parah, membuatnya mengalami depresi berat. Kondisinya mulai membaik setelah memperoleh dukungan psikologis melalui sebuah program komunitas.
Namun bantuan tersebut belum mampu mengubah kenyataan hidup sehari-harinya.
Ia tetap menjadi satu-satunya penanggung jawab seluruh kebutuhan anak-anaknya dalam situasi yang sangat sulit.
“Terkadang saya merasa beban ini jauh melebihi kemampuan saya, tetapi saya tidak punya pilihan selain terus bertahan,” ujarnya.
“Anak-anak yatim hidup dalam kenyataan yang sangat berat. Mereka bukan hanya membutuhkan makanan. Mereka membutuhkan seseorang yang membuat mereka merasa aman, memeluk kesedihan mereka, dan memberikan kasih sayang yang telah hilang.”
Anak Yatim Harus Didengar
Kisah Saif dan ibunya mencerminkan krisis yang dialami ribuan keluarga lain di Gaza.
“Hidup sangat sulit. Kondisinya melampaui apa yang mampu ditanggung manusia,” ujar Samah Abu Amra, seorang ibu berusia 43 tahun yang memiliki lima anak berusia antara tujuh hingga 19 tahun.
Janda asal Rafah yang kini mengungsi itu menjadi satu-satunya pengasuh anak-anaknya setelah sang suami tewas dalam serangan Israel saat berjalan di sebuah jalan di Khan Younis pada tahun pertama perang.
“Saya tidak mampu memenuhi semua kebutuhan mereka,” katanya.
“Anak-anak membutuhkan dukungan psikologis, finansial, dan emosional. Mereka membutuhkan makanan, pakaian, pendidikan, bahkan waktu untuk bermain. Semua itu menjadi tanggung jawab yang sangat besar bagi seorang ibu yang harus menjalaninya sendiri.”
Menurut Abu Amra, banyak anak yatim akibat perang kali ini tidak memperoleh tingkat dukungan seperti yang pernah diberikan pada konflik-konflik sebelumnya.
“Anak yatim harus dilihat dan didengar. Kebutuhan mereka harus dipenuhi. Mereka membutuhkan orang yang peduli dan terus memperhatikan mereka, bukan hanya bantuan sementara,” ujarnya.
Yassin sependapat.
“Kami menyerukan kepada organisasi internasional dan lembaga hak asasi manusia agar memberikan perhatian yang lebih besar kepada kelompok ini, karena mereka termasuk yang paling terdampak dalam masyarakat yang dilanda perang,” katanya.
Simbol Harapan
Di lintasan lari sederhana itu, sorak-sorai kembali terdengar ketika para peserta kecil melintasi garis finis.
Usai perlombaan, mereka berbaris dengan penuh antusias untuk menerima medali.
Penyelenggara juga memberikan penghormatan simbolis kepada 100 anak yatim. Nama Saif dipanggil pertama sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan perjuangannya setelah kehilangan sang ayah serta harus bergantung pada orang lain akibat cedera yang dialaminya.
“Anak saya perlu merasa bahwa ia masih menjadi bagian dari dunia ini, bahwa masih ada orang yang melihat dan peduli kepadanya,” kata Warda sambil menyaksikan Saif menerima medalinya.
“Anak-anak yatim ini telah kehilangan begitu banyak hal. Namun mereka tetap berhak mendapatkan lebih banyak dukungan dan harapan.”


