Trump Sebut Washington Tak Berunding, Qatar Dorong Diplomasi; Iran Masih Mengganggu Pelayaran di Hormuz, Program Nuklir Belum Terselesaikan, dan Perang Menguras Persediaan Militer serta Dukungan Politik AS
GAZA MEDIA – Enam bulan setelah perang dengan Iran dimulai, Washington mulai mengalihkan strategi dari tekanan militer berkelanjutan menuju upaya menekan Teheran secara ekonomi. Namun, Iran belum menyerah, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz masih terganggu, dan belum terlihat terobosan diplomatik untuk mengakhiri perang. Berdasarkan laporan Media Israel, Yedioth Ahronot (YNet Global) Jumat (28/8).
Presiden AS Donald Trump pada Kamis mengatakan Washington tidak sedang berunding dengan Teheran, meskipun berbagai upaya diplomatik di kawasan terus dilakukan untuk membuka kembali jalur perundingan.
“Kami tidak ingin berbicara dengan mereka. Kami juga tidak ingin bertemu dengan mereka,” kata Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Pada saat yang sama, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani tiba di Teheran untuk bertemu dengan sejumlah pejabat senior Iran. Kunjungan tersebut bertujuan menciptakan kondisi yang lebih memungkinkan bagi dimulainya kembali dialog.
Al Thani bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Presiden Masoud Pezeshkian.
Menurut pemerintah Qatar, Al Thani dan Araghchi membahas proposal terkait Selat Hormuz, termasuk pembentukan koridor pelayaran sementara dan kerja sama dalam proyek pembersihan ranjau.
Di tengah serangan Iran terhadap negara-negara Teluk, Al Thani menekankan pentingnya menghormati kedaulatan negara-negara tetangga serta kebebasan navigasi. Dalam pertemuannya dengan Ghalibaf, ia juga menyerukan dimulainya kembali diplomasi.
Ghalibaf menyalahkan Washington atas perang yang terus berlangsung. Ia menilai pemerintahan Trump mengambil keputusan berdasarkan informasi yang keliru dan memperburuk ketidakamanan di kawasan.
“Rencana pengepungan ekonomi terhadap Iran juga akan gagal,” kata Ghalibaf.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada Kamis malam menegaskan bahwa kedaulatan Iran atas Selat Hormuz tetap kuat.
AS Beralih ke Tekanan Ekonomi
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump masih mempertahankan “semua opsi di atas meja” terkait Iran.
Menurutnya, kemampuan militer Iran telah mengalami kerusakan besar selama perang. Washington kini mengalihkan fokus pada tekanan ekonomi.
“Operasi boikot ekonomi sedang berlangsung untuk menghancurkan perekonomian mereka,” kata Leavitt kepada Fox News.
Ia menegaskan bahwa tidak ada perundingan yang sedang berlangsung dan tekanan akan berlanjut hingga Trump menilai Iran benar-benar siap kembali ke meja perundingan.
Seorang pejabat senior Iran menyebut langkah AS tersebut sebagai “perang ekonomi habis-habisan” setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk memutus Iran dari mitra dagangnya.
Perang dimulai pada 28 Februari. Enam bulan kemudian, pelayaran melalui Selat Hormuz masih terganggu dan Iran secara berkala terus menyerang kapal tanker.
Washington menginginkan lalu lintas di selat tersebut kembali seperti sebelum perang. Jalur laut selebar sekitar 34 kilometer antara Iran dan Oman itu merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia.
Namun, Iran menolak melepaskan kendali atas selat tersebut dan menyatakan Hormuz akan tetap ditutup sampai AS memenuhi sejumlah tuntutannya, termasuk mengakhiri blokade terhadap pelabuhan Iran, memberikan kompensasi, serta mencabut sanksi.
Enam Bulan Perang, Belum Ada Kemenangan yang Jelas
Trump sebelumnya menggambarkan perang tersebut sebagai “operasi kecil” dan berulang kali menyatakan perang akan berakhir dalam hitungan pekan.
Namun, perang justru berubah menjadi kebuntuan yang mahal dengan dampak politik, militer, dan ekonomi yang meluas jauh di luar Iran.
Iran belum menyerah. Lalu lintas maritim melalui Hormuz masih terganggu dan belum ada jalur yang jelas untuk mengakhiri perang.
Setelah Washington menyimpulkan bahwa serangan udara saja kemungkinan tidak cukup untuk memaksa Teheran menyerah, pemerintahan Trump kembali mengandalkan tekanan ekonomi untuk semakin melemahkan rezim Iran.
Biaya Politik bagi Trump
Sejak awal, perang ini tidak populer di Amerika Serikat. Penolakan publik semakin meningkat seiring kenaikan harga bahan bakar akibat terganggunya ekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Survei Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Trump turun dari 40% menjadi 33% sejak perang dimulai, menjadi salah satu titik terendahnya.
Dampak politik tersebut sangat sensitif karena Trump berkampanye pada 2024 dengan janji menurunkan biaya hidup warga Amerika dan mengakhiri perang, bukan memulai perang baru.
Hanya 31% warga Amerika yang mendukung perang tersebut, menurut survei.
Kenaikan harga juga berpotensi merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu November, ketika partai tersebut harus mempertahankan mayoritas tipis di DPR dan Senat.
Perang juga memperdalam perpecahan di tubuh Partai Republik. Kelompok Republikan yang lebih isolasionis, termasuk sebagian pendukung gerakan MAGA, menginginkan perang segera diakhiri. Sementara kelompok lain menilai Trump harus mempertahankan atau bahkan meningkatkan tekanan militer terhadap Teheran sampai Iran benar-benar dikalahkan.
Ekonomi Global Menanggung Dampak
Serangan AS dan Israel langsung memicu kekhawatiran terhadap perekonomian global karena terganggunya jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan energi dunia melewati jalur tersebut.
Harga minyak melonjak dan memicu kekhawatiran terhadap kemungkinan resesi global.
Dampaknya masih terasa karena kenaikan harga bahan bakar memengaruhi pelayaran, logistik, dan rantai pasok di seluruh dunia. Namun, dampaknya sejauh ini lebih kecil dibandingkan perkiraan awal sejumlah ekonom.
Dana Moneter Internasional (IMF) telah dua kali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global sejak perang dimulai. IMF kini memperkirakan ekonomi dunia tumbuh 3 persen tahun ini, turun dari proyeksi 3,3 persen pada Januari.
Meski demikian, perekonomian global dinilai lebih tangguh dibandingkan saat terjadi krisis minyak pada 1970-an.
Iran Terluka, tetapi Belum Kalah
Militer dan perekonomian Iran mengalami kerusakan besar. Namun, Teheran masih memiliki kemampuan melancarkan serangan di berbagai wilayah Timur Tengah dan mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz.
Pada Mei, Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengatakan kepada Kongres bahwa pasukan Amerika telah menghancurkan 161 kapal militer Iran dan menonaktifkan sekitar 82 persen sistem pertahanan udara Iran.
Angkatan Udara Iran yang sebelumnya mampu melakukan hingga 100 penerbangan tempur per hari juga disebut tidak lagi menjalankan misi.
Namun, Iran masih memiliki persediaan drone dan rudal dengan berbagai jangkauan. Teheran juga terus melancarkan serangan terhadap kapal dan fasilitas militer AS di kawasan.
Reuters melaporkan pada Maret bahwa AS baru dapat memastikan penghancuran sekitar sepertiga persenjataan rudal Iran yang jumlahnya sangat besar. Nasib sepertiga lainnya masih belum jelas. Sejumlah penilaian intelijen menyebut rudal-rudal tersebut kemungkinan rusak, hancur, atau disembunyikan di terowongan dan bunker bawah tanah.
Ribuan anggota Garda Revolusi dan Basij tewas selama perang, sementara krisis ekonomi Iran semakin dalam. Inflasi meningkat dan perdagangan terganggu.
Pada saat yang sama, perang mendorong pemerintah Iran meningkatkan represi di dalam negeri dengan alasan menghadapi ancaman eksternal yang dianggap eksistensial.
Timur Tengah Semakin Tidak Stabil
Perang awalnya disebut sebagai upaya untuk menghilangkan ancaman Iran terhadap kawasan Timur Tengah.
Namun, sejumlah pejabat dan pakar regional yang dikutip Reuters menilai posisi Teheran dalam beberapa aspek justru menguat. Kawasan kini dianggap semakin tidak aman karena perang belum terselesaikan dan Iran masih mengeluarkan berbagai ancaman serta tuntutan.
Negara-negara Teluk juga masih terpecah mengenai cara menghadapi Teheran. Serangan rudal dan drone Iran terhadap negara-negara Arab di Teluk, termasuk sekutu AS, telah merusak fasilitas militer, menimbulkan korban dan mengganggu penerbangan regional.
Serangan Iran terhadap kapal tanker, ditambah blokade yang dilakukan kelompok Houthi Yaman terhadap pelayaran yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah, turut meningkatkan biaya asuransi dan transportasi.
Dampaknya meluas ke rantai pasok dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi di kawasan Teluk.
Ancaman Nuklir Iran Belum Terselesaikan
Serangan AS dan Israel pada Juni 2025 serta fase awal perang saat ini menyebabkan kerusakan berat pada tiga fasilitas pengayaan uranium Iran yang diketahui, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan. Sejumlah fasilitas yang diduga terkait program persenjataan juga menjadi sasaran. Israel juga membunuh sejumlah ilmuwan nuklir senior Iran yang berperan penting dalam program tersebut.
Penilaian intelijen AS pada Mei menyebut waktu yang dibutuhkan Iran untuk mencapai nuclear breakout—yakni memproduksi bahan fisil yang cukup untuk membuat bom nuklir—mencapai hingga satu tahun, dibandingkan sekitar enam bulan sebelum perang.
Namun, mencegah Iran memperoleh senjata nuklir tetap menjadi salah satu tujuan utama yang dikemukakan Trump, dan tujuan tersebut masih jauh dari kepastian. Kondisi sebenarnya program nuklir Iran juga belum diketahui secara pasti karena inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA) belum kembali ke fasilitas nuklir Iran.
Akibatnya, IAEA belum dapat memastikan keberadaan sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen sejak serangan Juni 2025. Persediaan tersebut berpotensi diperkaya lebih lanjut hingga mencapai tingkat yang dapat digunakan untuk senjata nuklir di fasilitas yang lokasinya tidak diketahui.
Iran sendiri terus membantah bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir.
Militer AS Semakin Tertekan
Perang juga memberikan tekanan besar terhadap militer AS. Pasukan Amerika kehilangan drone dan pesawat akibat serangan Iran maupun kecelakaan. Laporan Congressional Research Service pada Mei menyebut 42 pesawat militer AS telah hilang.
Persediaan amunisi juga menjadi perhatian utama, terutama rudal pencegat. Reuters melaporkan militer AS telah menggunakan “hampir seluruh” persediaan global untuk sejumlah senjata presisi tertentu.
Penilaian Center for Strategic and International Studies menyebut hingga Juli, AS telah menggunakan sekitar 65 persen rudal pencegat Patriot dan mengurangi persediaan rudal pencegat THAAD sedikitnya 38 persen.
Washington juga memindahkan jet tempur, kapal perang, dan aset militer lainnya dari Eropa dan Asia ke Timur Tengah serta memperpanjang penempatan pasukan di kawasan tersebut. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan militer AS di wilayah lain.
Kapal induk USS Gerald R. Ford bahkan menjalani penugasan lebih dari satu tahun, menjadi misi terlama kapal tersebut sejak Perang Vietnam.
Para anggota parlemen juga menyuarakan kekhawatiran mengenai kondisi di atas USS Abraham Lincoln setelah kapal tersebut berada di laut selama 200 hari berturut-turut. Pekan lalu, Lincoln digantikan USS George Washington yang sebelumnya beroperasi di Pasifik.
Enam bulan setelah perang, Iran mengalami kerusakan berat tetapi masih mampu bertempur, Selat Hormuz tetap menjadi titik tekanan bagi ekonomi global, persoalan nuklir belum terselesaikan, dan militer AS semakin terbebani oleh pengerahan pasukan di berbagai medan.
Meskipun Qatar kembali mendorong jalur diplomasi, baik Washington maupun Teheran tampaknya belum siap memberikan konsesi yang diperlukan untuk mengakhiri perang.


