Gaun yang dikenakan Olivia Rodrigo saat membuka festival musik Daisy Chains pada 29 Agustus 2026 menyimpan cerita panjang di balik pembuatannya. Dirancang oleh jenama asal Palestina, Nöl Collective, gaun itu dibuat oleh tangan para perajin di Tepi Barat di tengah berbagai keterbatasan.
Gaun berwarna baby pink itu dihiasi sulaman tatreez berbentuk burung dan bunga yang dikerjakan selama kurang dari sepekan. Di balik tampilannya yang feminin, gaun itu juga menjadi simbol perjuangan masyarakat Palestina di tengah blokade ketat Israel yang terus berlangsung.
Nöl Collective didirikan Yasmeen Mjalli pada 2020. Nöl berasal dari kata dalam bahasa Arab yang berarti alat tenun atau loom. Kolektif tersebut bekerja dengan koperasi perempuan, bengkel jahit, serta penyulam independen untuk menciptakan busana yang mempertahankan kerajinan tradisional Palestina.
Bagi Mjalli, proses kreatif Nöl Collective tidak bisa dipisahkan dari kondisi Palestina. Pembatasan mobilitas dan berbagai kendala dalam rantai pasok membuat proses yang biasanya sederhana menjadi jauh lebih rumit.
“Kami berada dalam situasi yang unik karena pergerakan kami dan apa yang kami lakukan dibatasi oleh berbagai hal yang sulit dibayangkan,” kata Mjalli dikutip dari laman Vogue Arabia, Kamis (10/9/2026).
Nöl Collective hampir sepenuhnya menggunakan pewarna dan serat alami yang diimpor dari luar negeri. Mjalli menceritakan perjuangannya membawa bahan baku kain dari Ramallah ke Bethlehem. Perjalanan yang biasanya memakan waktu sekitar 90 menit harus ditempuh selama tiga jam.
Saat itu, ibunya berada di balik kemudi, sementara selembar kain sutra mentah ada di kursi belakang. Mereka harus melewati sejumlah pos pemeriksaan. Di sisi lain, Nöl Collective hanya memiliki waktu kurang dari satu pekan untuk menyelesaikan gaun tersebut sebelum akhirnya dikirim ke Rodrigo di Los Angeles.
Masalah tidak berhenti di situ. Saat Rodrigo menghubungi Nöl Collective, paket wol tenun handmade dari India untuk koleksi musim gugur mereka telah ditahan selama berbulan-bulan oleh bea cukai Israel. Kiriman tersebut bahkan dimusnahkan Israel.
Mjalli sempat mencoba berkendara ke Yerusalem untuk mencari bahan pengganti. Namun, ia akhirnya putar balik setelah tentara menutup jalan keluar dari Ramallah.
“Saya berharap bisa mengatakan bahwa hal seperti itu jarang terjadi, tapi kenyataannya itu sangat sering terjadi,” kata Mjalli.
Situasi tersebut bahkan hampir membuat Mjalli menyerah dan menutup Nöl Collective. Namun, pesanan dari Rodrigo membuat dia kembali bangkit dan memutar otak untuk bisa merampungkan pesanan di tengah keterbatasan.
“Pesanan dari Olivia Rodrigo terasa seperti campur tangan Tuhan. Saya akhirnya sadar, hambatan akan selalu ada, tetapi jika kita bisa beradaptasi, kita akan menuai hasilnya. Saya bangkit, bangkit, dan terus bangkit,” kata Mjalli.
Dengan waktu kurang dari sepekan, Mjalli tidak memiliki banyak pilihan selain menggunakan kain yang tersedia di Ramallah. Dibantu rekannya, Majdy, ia menemukan satu-satunya serat alami yang tersedia di pasar yaitu sutra mentah berwarna merah muda lembut atau baby pink. Warna tersebut secara kebetulan sangat mencerminkan gaya Rodrigo.
Kain kemudian dibawa ke Bethlehem untuk dikerjakan oleh para perajin. Paman Ibrahim bertugas memotong kain, Bibi Amal menjahitnya, sementara Bibi Adileh turut menangani gaun tersebut. Setelah proses pemotongan dan penjahitan selesai, gaun tersebut diteruskan kepada para penyulam.
“Semua prosesnya sangat cepat. Rasanya seperti saya sedang berada di ruang bersalin. Gaun ini bisa lahir kapan saja,” kata Mjalli.
Proses pembuatan gaun juga berlangsung di tengah kondisi ekonomi yang sulit bagi banyak keluarga Palestina di Tepi Barat. Setelah izin kerja bagi pekerja Palestina dicabut pasca-peristiwa 7 Oktober, banyak rumah tangga di Tepi Barat kehilangan sumber penghasilan utama. Kondisi ini membuat banyak perempuan beralih menjadi penyulam.
Bagi banyak keluarga, Nöl Collective juga menjadi satu-satunya sumber penghasilan yang tersisa. “Kami terus melangkah agar komunitas ini tetap bertahan dan berkembang,” kata Mjalli.
Gaun Rodrigo akhirnya diselesaikan oleh dua penyulam, Um Musa dan Um Mohammad. Kendala selanjutnya adalah proses pengiriman gaun dari Bethlehem ke Los Angeles. Tidak ada jasa kurir yang mampu mengirim gaun itu dalam waktu express. Pada akhirnya, gaun itu dititipkan kepada dua orang asing yang secara sukarela membawanya ke dalam bagasi mereka dan menyerahkannya langsung ke Rodrigo Los Angeles.
Pilihan Rodrigo mengenakan karya Nöl Collective juga berkaitan dengan tradisi politik dalam fesyen punk. Pilihan busana Rodrigo telah menjadi bahan perdebatan sepanjang tahun. Gaun babydoll yang menjadi ciri khas di era album You Look Pretty Sad for a Girl So in Love miliknya, merupakan bagian dari warisan gaya punk yang sengaja menggunakan pakaian sebagai bentuk pernyataan dan konfrontasi.


