HomeBerita169 Ribu Warga Mengungsi akibat Perang di Yaman Selatan

169 Ribu Warga Mengungsi akibat Perang di Yaman Selatan

TAIZ — Pertempuran antara pasukan pemerintah Yaman dan kelompok Houthi kembali meningkat di Provinsi Taiz, Yaman selatan. Pasukan pemerintah dilaporkan bergerak memasuki sejumlah wilayah baru setelah berhasil menguasai sebuah gunung strategis di bagian barat daya kota Taiz.

Di tengah eskalasi pertempuran tersebut, jumlah warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik juga meningkat tajam. Unit Eksekutif Pengelolaan Kamp Pengungsi Internal Yaman mencatat jumlah pengungsi mencapai 169.000 orang, naik dari sekitar 131.000 orang hanya dalam waktu lima hari.

Kolonel Abdul Basit Al-Baher, seorang perwira Angkatan Darat Yaman di Taiz, mengatakan pasukan pemerintah telah menguasai Gunung Qarfan dan mengamankan wilayah di sekitarnya.

Setelah itu, pasukan pemerintah bergerak menuju wilayah yang sebelumnya dikuasai Houthi di sepanjang rangkaian pegunungan yang mengarah ke Provinsi Lahj, Selat Bab Al-Mandab dan Laut Merah.

“Pertempuran sengit dengan berbagai jenis senjata saat ini berlangsung di medan perang di selatan Taiz,” kata Al-Baher kepada Arab News.

Menurut dia, pasukan pemerintah juga menangkap sejumlah anggota Houthi, termasuk seorang komandan lapangan senior. Identitas komandan tersebut belum dipublikasikan.

Ratusan Jenazah Pejuang Houthi Ditemukan

Al-Baher mengatakan pasukan pemerintah menemukan lebih dari 800 jenazah pejuang Houthi yang tersebar di sejumlah pegunungan dan lembah setelah memasuki wilayah yang berhasil direbut kembali.

Menurut keterangan tersebut, para pejuang itu diduga tewas akibat serangan udara atau tembakan artileri pasukan pemerintah Yaman.

Al-Baher juga mengatakan pihaknya telah menyerahkan 860 jenazah pejuang Houthi kepada Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Jenazah tersebut disebut merupakan korban pertempuran sejak awal September dan ditemukan di sejumlah medan pertempuran.

Pertempuran di sejumlah distrik di Provinsi Taiz meningkat sejak awal September setelah Houthi melancarkan ofensif militer besar. Dalam serangan tersebut, Houthi dilaporkan berhasil menguasai sejumlah wilayah di pesisir barat Yaman, termasuk kawasan Mokha dan sekitar Selat Bab Al-Mandab.

Namun, pasukan pemerintah memberikan perlawanan ketika Houthi berusaha memperluas penguasaan wilayah ke bagian barat dan selatan Taiz.

Menurut Al-Baher, kelompok Houthi menggunakan taktik perang gerilya dan mengirim gelombang pasukan secara berturut-turut untuk mencoba menembus pertahanan pemerintah.

Pasukan pemerintah Yaman, termasuk personel dari beberapa wilayah militer dan Brigade Giants, juga dilaporkan melakukan serangan menggunakan drone terhadap konsentrasi pasukan, kendaraan, serta penguatan militer Houthi di sejumlah medan pertempuran.

Wilayah yang menjadi sasaran operasi antara lain Marib, Al-Bayda, Lahj dan Al-Jawf.

Militer Yaman merilis rekaman yang disebut memperlihatkan drone menyerang posisi dan kendaraan militer Houthi. Rekaman tersebut menunjukkan ledakan dan kepulan debu di lokasi yang menjadi sasaran.

Jumlah Pengungsi Melonjak

Di tengah pertempuran, krisis kemanusiaan di Yaman semakin memburuk.

Unit Eksekutif Pengelolaan Kamp Pengungsi Internal Yaman melaporkan jumlah warga yang mengungsi akibat pertempuran mencapai 169.000 orang, meningkat dari 131.000 orang lima hari sebelumnya.

Provinsi Taiz menjadi wilayah yang menerima jumlah pengungsi terbesar dengan 88.324 orang, disusul Lahj sebanyak 39.375 orang dan Aden sebanyak 15.003 orang.

Ribuan warga lainnya mencari perlindungan di Abyan, Hadramout dan sejumlah provinsi lainnya.

Badan pemerintah tersebut mengatakan banyak keluarga terpaksa meninggalkan rumah secara tiba-tiba tanpa memiliki tempat tinggal, makanan maupun sumber penghasilan yang memadai.

Pekerja bantuan di Taiz juga melaporkan sebagian pengungsi tinggal di rumah yang sudah penuh, tenda-tenda kecil, bahkan tidur di ruang terbuka.

Mohammed Mahmoud, seorang pekerja bantuan di distrik Al-Ma’afer, Taiz, mengatakan respons kemanusiaan terhadap gelombang pengungsian masih belum mencukupi.

Menurut dia, sebagian keluarga bahkan mengalami pengungsian untuk kedua kalinya setelah tidak mampu membayar biaya sewa tempat tinggal di Aden dan wilayah lain yang berada di bawah kendali pemerintah.

Ia menyebut bantuan tunai untuk berbagai kebutuhan menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak karena banyak warga meninggalkan rumah dalam kondisi tergesa-gesa akibat meningkatnya pertempuran.

Eskalasi terbaru di Taiz menambah tekanan terhadap situasi kemanusiaan di Yaman, ketika ribuan keluarga harus kembali meninggalkan tempat tinggal mereka untuk mencari wilayah yang dianggap lebih aman.

Sebagai konteks, laporan Anadolu yang mengutip badan pemerintah Yaman sebelumnya mencatat 146.943 orang atau 21.583 keluarga mengungsi sepanjang 1–18 September 2026 akibat memburuknya kondisi keamanan. Taiz juga menjadi provinsi dengan jumlah penerima pengungsi terbesar dalam periode tersebut. (cky)

Ahmad Tasori
Ahmad Tasori
Aktif sebagai koresponden jurnalis iNews dan bagian dari jaringan MNC Group yang memiliki pengalaman dalam peliputan berbagai isu nasional, keagamaan, dan internasional. Berpengalaman meliput penyelenggaraan ibadah haji di Makkah serta isu Palestina dan Gaza. Pada 2025, pernah melaporkan langsung dari Tunis, Tunisia, mengenai misi Global Freedom Flotilla menuju Gaza.
ARTIKEL TERKAIT

Terkini