GAZA CITY — Pada Sabtu pagi, 7 Oktober 2023, sekitar pukul 06.30 waktu setempat, Brigade Izzuddin al-Qassam melancarkan serangan lintas batas ke Israel selatan. Panglima Brigade, Mohammed Deif, mengumumkan dimulainya “Operasi Banjir Al-Aqsa” dan menyebut gelombang pertamanya mencakup lebih dari 5.000 roket dan peluru.
Tiga tahun kemudian, hari itu tetap menjadi titik awal perang yang menewaskan lebih dari 74.000 orang di Gaza. Artikel ini menyusun kronologi hari itu dan akibat-akibat yang tercatat, dengan memisahkan angka yang terverifikasi dari klaim yang masih diperdebatkan.
Pagi Hari: Roket dan Pagar Perbatasan
Rentetan roket menyasar Israel selatan, dan sirene terdengar hingga Tel Aviv dan Beersheba. Angka jumlah roket berbeda-beda. Hamas menyebut 5.000, militer Israel pada hari itu menyebut 2.500, dan estimasi lain berkisar 2.000 hingga 7.000.
Di bawah rentetan itu, petempur membobol pagar perbatasan dengan bahan peledak di sedikitnya empat titik, antara lain dekat Erez, Kerem Shalom, Nahal Oz, dan Be’eri. Mereka masuk dengan berjalan kaki, kendaraan, dan sepeda motor, lalu menyerang pos militer dan permukiman di sekitar perbatasan.
Serangan itu jatuh pada hari Sabat sekaligus Simchat Torah. Waktunya juga hampir tepat 50 tahun setelah pecahnya Perang Oktober 1973.
Jumlah penyerang belum dapat dipastikan. Anti-Defamation League (ADL) menyebut sekitar 6.000 orang dari Hamas dan kelompok lain. Sumber dekat Al-Qassam yang dikutip harian Asharq Al-Awsat menyatakan operasi itu dimulai hanya dengan 70 petempur. Keduanya tidak terverifikasi independen, dan tidak jelas apakah keduanya mengukur hal yang sama.
Dalam pernyataannya, Deif menyebut alasan operasi: serbuan pemukim ke kompleks Al-Aqsa selama Sukkot, perlakuan terhadap tahanan Palestina, serta tindakan Israel di Tepi Barat dan Gaza. Ini adalah pembingkaian Hamas sendiri.
Korban di Israel dan Sandera
Korban tewas di Israel berjumlah sekitar 1.200 orang. Sumber memberi angka berbeda: 1.163 menurut otoritas Israel (dikutip Dawn), 1.195 menurut Kementerian Luar Negeri Israel (dikutip Statista), dan sekitar 1.200 menurut PBB. Pakar PBB mencatat setidaknya 809 di antaranya warga sipil.
Insiden paling mematikan terjadi di festival musik Nova dekat Kibbutz Re’im. Sekitar 3.500 orang hadir, 364 tewas, dan sekitar 40 dibawa ke Gaza. Di Kibbutz Nir Oz, 47 orang tewas dan 76 disandera dari 427 penduduk.
Sebanyak 251 orang dibawa ke Gaza sebagai sandera. PBB menghitung 252. Gencatan senjata empat hari pada November 2023 membebaskan 50 sandera perempuan dan anak-anak, ditukar 150 tahanan Palestina.
Jenazah sandera terakhir, Rani Gvili, dikembalikan ke Israel pada 26 Januari 2026. Perinciannya sekitar 168 sandera pulang hidup dan 85 hingga 87 dikembalikan dalam keadaan meninggal. Sumber-sumber berbeda tipis pada angka ini. Berdasarkan kesepakatan Oktober 2025, Israel membebaskan 250 tahanan Palestina berhukuman seumur hidup dan sekitar 1.700 warga Gaza yang ditahan tanpa dakwaan.
Pertanyaan atas Respons Israel pada Hari Itu
Angka korban Israel juga dipengaruhi oleh pertanyaan soal tembakan pasukan sendiri. Komisi Penyelidik Independen PBB menyimpulkan pada Juni 2024 bahwa militer Israel kemungkinan menerapkan Direktif Hannibal. Direktif itu adalah protokol untuk mencegah penangkapan tentara, bahkan dengan risiko bagi tawanan. Komisi mencatat setidaknya 14 warga Israel kemungkinan sengaja ditewaskan oleh pasukannya sendiri, termasuk dalam kasus 13 sandera sipil di sebuah rumah di Be’eri. Tembakan tank Israel menewaskan sebagian atau seluruh dari mereka.
Laporan investigasi internal militer Israel pada Februari 2025 mengakui sebagian warga Israel tewas oleh tembakan pasukan sendiri dan bahwa angkatan udara kesulitan membedakan petempur dari warga sipil. Haaretz melaporkan bahwa Direktif Hannibal diperintahkan hari itu. Militer Israel menyatakan tidak mengetahui adanya warga sipil yang terkena dalam pengeboman tersebut.
Haaretz juga melaporkan, mengutip sumber kepolisian, bahwa helikopter tempur Israel kemungkinan menembak sebagian peserta Nova saat mengincar petempur. Laporan itu menyebut Hamas diperkirakan tidak mengetahui festival tersebut sebelumnya. Keduanya adalah temuan awal dari satu sumber media dan belum dikonfirmasi resmi.
Jumlah pasti korban yang tewas oleh tembakan Israel belum pernah dipublikasikan. Klaim bahwa “sebagian besar” korban tewas akibat tembakan Israel tidak didukung data resmi mana pun yang ditemukan dan tidak dimasukkan di sini.
Perang yang Menyusul
Kabinet Israel menyatakan perang terhadap Hamas pada 8 Oktober 2023. Menteri pertahanan memerintahkan pengepungan penuh atas Gaza, dan operasi darat besar dimulai 27 Oktober. Pemimpin Hamas di Gaza, Yahya Sinwar, yang disebut ADL sebagai otak serangan, kemudian tewas dibunuh Israel.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 74.016 orang tewas dan 175.068 terluka dalam perang itu. Kementerian tidak membedakan warga sipil dan petempur, dan menyebut perempuan dan anak-anak sekitar separuh korban. Lembaga PBB dan organisasi internasional umumnya menilai pencatatan kementerian cukup andal.
Gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, meski kementerian menghitung masa gencatan dari 11 Oktober. Sejak itu 1.145 warga Palestina tewas dan tujuh tentara Israel tewas. Pasukan Israel menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza, Hamas belum melucuti senjata, dan rekonstruksi belum dimulai.
Penutup
Hari ini genap tiga tahun sejak 7 Oktober. Para sandera Israel telah kembali, hidup maupun meninggal. Di Gaza, tahap-tahap lanjutan gencatan senjata masih mandek. Investigasi atas kegagalan dan tindakan militer Israel pada hari itu juga belum menghasilkan penghitungan akhir.


