Pengungsian berulang di Gaza biasanya dihitung dalam jutaan orang. Lima kesaksian ini menunjukkan sisi lain dari hitungan itu: sebuah perpustakaan, seekor anjing, sebuah oud, sehelai kaus, dan sekantong mainan.
Menjelang tengah malam, di tengah pengeboman, Omar Abdel Hakim Hamad (30) menerima perintah pengosongan rumah di Beit Hanoun, Gaza utara. Ia tidak langsung pergi. Ia menunda keberangkatan untuk mengumpulkan apa yang bisa diselamatkan, takut tidak akan pernah kembali. Yang pertama terlintas di kepalanya bukan perabot atau dokumen, melainkan perpustakaan pribadinya: sekitar 500 buku. Ia hanya sanggup membawa sekitar 200, dengan mendahulukan buku-buku tua dan langka yang tak mungkin dibeli lagi. Pada 30 Oktober 2023 ia meninggalkan Beit Hanoun. Menurut kesaksiannya kepada Al Jazeera, ia kini telah mengungsi 13 kali dan masih tinggal di kamp pengungsi Maghazi.
Kita terbiasa mengukur perang dengan angka. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 73.651 warga Palestina tewas per 5 September 2026, dan 74.018 tewas serta 175.079 terluka per 27 September 2026. Ini hitungan kementerian setempat, bukan audit independen; angkanya terus bergerak karena jenazah masih ditemukan dari bawah reruntuhan, dan pihak Israel kerap mempertanyakannya. Di sisi lain, UNRWA melaporkan lebih dari 1,9 juta orang di Gaza mengungsi, dengan sekitar 90 persen penduduk telah berpindah berkali-kali. Angka sebesar itu mudah dibaca, dan justru karena itu mudah dilewati.
Al Jazeera menanyakan kepada lima warga Gaza apa yang mereka bawa ketika mengungsi setelah 7 Oktober 2023: sebuah perpustakaan, seekor anjing, sebuah oud, sehelai kaus bertanda tangan, dan sekantong mainan. Tulisan ini membaca kelimanya bukan sekadar sebagai kisah haru, melainkan sebagai indikator. Setiap benda menunjuk satu dimensi kerugian yang jarang masuk laporan: warisan budaya, kelaparan, kesehatan jiwa anak, pendidikan, dan hilangnya jejak hidup sebuah keluarga.
Perlu dinyatakan sejak awal mana yang faktual dan mana yang argumentatif. Yang faktual adalah data pengungsian, kelaparan, dan kerusakan budaya yang dikutip dari lembaga PBB dan sumber terverifikasi. Yang argumentatif adalah tesis kami: pengungsian berulang menghasilkan kerugian yang tidak tertangkap statistik korban, dan kerugian itu layak dicatat sebagai bagian dari akuntabilitas dan pemulihan. Tesis ini bersifat analitis, bukan pembenaran moral atas satu pihak. Perang ini bermula dari serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, dan konteks itu tidak kami hapus; namun hukum humaniter internasional melindungi warga sipil tanpa melihat siapa yang memulai. Kelima kesaksian juga berasal dari satu laporan satu media, sehingga tidak mewakili dua juta orang. Pertanyaan intinya sederhana: jika kita hanya menghitung yang mati, apa yang luput kita lihat dari yang hidup?
Pengungsian di Gaza Adalah Siklus, Bukan Peristiwa
Kisah Omar bukan pengecualian. Huda Helassa (20) meninggalkan rumahnya di Tal al-Hawa, Kota Gaza, pada jam-jam pertama perang. Keluarganya menumpang di rumah nenek, lalu bergerak ke selatan, sebagian dengan berjalan kaki, hingga Rafah. Pada Mei 2024 mereka dipindahkan lagi ke Khan Younis. Ketika kembali ke Gaza pada Januari 2025, rumah mereka sudah terbakar habis. Mereka mengungsi lagi pada April 2025, berpindah ke Remal, Tal al-Hawa, az-Zawaida, lalu kembali pada Oktober, dan kini kembali berada di Tal al-Hawa. Keluarga Mahmoud Hussein, bocah delapan tahun, menurut ibunya berpindah sekitar tujuh kali.
Pola ini terkonfirmasi di tingkat lembaga. Laporan gabungan Norwegian Refugee Council, Shelter Cluster, dan UNHCR pada Agustus 2026 menyebut hampir seluruh penduduk Gaza pernah mengungsi, banyak di antaranya berkali-kali. OCHA pada 19 Juni 2026 melaporkan bahwa perluasan “Garis Kuning”, batas area yang aksesnya dibatasi pasukan Israel sejak Oktober 2025, memicu pengungsian baru. Artinya, gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 tidak otomatis menghentikan siklusnya. Kementerian Kesehatan Gaza menghitung gencatan senjata sejak 11 Oktober, dan mencatat 1.283 warga Palestina tewas sejak itu hingga 20 Agustus 2026.
Ada dua pembacaan atas pola ini, dan keduanya patut disebut. Israel menyatakan perintah pengosongan sebagai langkah melindungi warga sipil dari operasi tempur, dan pembatasan akses sebagai kebutuhan keamanan. Lembaga bantuan seperti Islamic Relief sejak 2024 memperingatkan bahwa perintah yang berulang di wilayah yang terus menyempit membuat konsep “zona aman” kehilangan makna. Kita tidak perlu memenangkan perdebatan niat untuk menilai hasilnya: yang terukur adalah jutaan orang yang berpindah berkali-kali dengan sedikit tempat untuk dituju.
Statistik menghitung yang hilang. Benda yang dibawa menunjukkan apa yang masih diperjuangkan untuk tetap dimiliki.
Buku yang Diselamatkan adalah Arsip yang Diselamatkan
Di antara 200 buku yang dibawa Omar ada cetakan 1933 Kalila wa Dimna, kumpulan fabel klasik yang diterjemahkan ke bahasa Arab pada abad ke-8 oleh Ibn al-Muqaffa’ dan akarnya ditelusuri hingga tradisi India. Ia memilihnya karena tak tergantikan. Pada masa kondisi serupa kelaparan, ia bahkan sempat mempertimbangkan menukar seluruh perpustakaannya dengan satu-dua kilogram tepung, meski akhirnya sebagian besar bisa dipertahankan. Hari ini Perpustakaan Phoenix miliknya di pusat Kota Gaza menyimpan sekitar 7.000 buku, termasuk sekitar 3.000 yang diselamatkan dari perpustakaan yang hancur dan 4.000 yang dibeli.
Kerusakan yang melatarinya terdokumentasi. UNESCO memverifikasi kerusakan pada 150 situs di Gaza per Januari 2026. Perpustakaan Masjid Agung Omari di kota tua Gaza, salah satu yang tertua di wilayah Palestina, kini berupa cangkang berdebu yang diselamatkan para relawan, menurut laporan AFP pada Februari 2026. Komisi Penyelidikan Independen PBB menyimpulkan pada Juni 2025 bahwa serangan atas sekolah serta situs keagamaan dan budaya di Gaza merupakan kejahatan perang, dan menyebut lebih dari separuh situs semacam itu hancur. Israel menolak kesimpulan tersebut dan berulang kali menyatakan bahwa operasinya menyasar target militer.
Kisah Omar sendiri menyimpan nuansa yang sering hilang. Dalam wawancara dengan Asymptote, ia mengaku mendapati orang-orang membakar buku di perpustakaan Universitas Islam Gaza untuk memasak dan menghangatkan diri. Kehancuran memori tidak selalu datang dari bom; ia juga datang dari keputusasaan warga yang lapar dan kedinginan. Angka perpustakaannya pun berasal dari pengakuan sendiri dan berubah menurut waktu: laporan sebelumnya menyebut sekitar seribu buku dari reruntuhan. Kami memakai angka Al Jazeera sebagai gambaran terkini, bukan hitungan terverifikasi.
Mainan dan Oud: Cara Anak dan Remaja Mencari Rasa Aman
Mahmoud menolak meninggalkan kantong mainannya pada setiap pengungsian, sekalipun ibunya membujuk. Saat gencatan senjata singkat, keluarga itu pulang dan mendapati kamarnya hancur: ranjang, lemari, dan sebagian besar mainannya. Menurut ibunya, Mahmoud memiliki kondisi neurologis yang membuat aktivitas listrik otaknya tidak normal, dan rasa takut atau sedih bisa memicu kejangnya. Mainan menjadi “tempat aman”: dengan menyusun cerita bersama mainannya, ia tetap tenang. Pengobatannya terganggu perang, dan tes neurologis bulanan yang ia butuhkan, kata ibunya, tidak tersedia di Gaza.
Yaseen al-Qubt (16) membawa oudnya saat meninggalkan Beit Lahiya pada 12 Oktober 2023. Rumahnya kemudian dibom dan alat musik itu tertimbun, tetapi ia berhasil mengambilnya kembali dan terus bermain. Di kamp pengungsian, ia memainkannya untuk menenangkan anak-anak saat dengung drone membuat mereka ketakutan. Ia bercita-cita belajar musik di luar Gaza, dan tetap melekat pada alat musiknya karena, katanya, “we still have something beautiful to offer”.
Keduanya adalah gambaran kecil dari krisis yang diukur UNICEF dalam skala besar: hampir seluruh anak Gaza, lebih dari satu juta, membutuhkan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial. Penghormatan atas ketangguhan mereka sah, tetapi mudah disalahgunakan. Mainan dan oud adalah cara bertahan, bukan pengganti layanan. UNICEF sejak 2023 menyatakan bahwa dukungan psikososial hanya bisa diberikan dalam skala besar bila ada rasa aman. Menyebut anak-anak Gaza “tangguh” tanpa menambah akses medis berarti memuji korban agar tidak perlu menolongnya. Kami juga tidak dapat memverifikasi kondisi medis Mahmoud secara independen; yang kami pegang adalah keterangan ibunya sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Ketangguhan anak-anak Gaza adalah fakta yang patut dihormati, bukan alasan untuk menunda bantuan.
Kelaparan Sampai ke Seekor Anjing: Indikator yang Jarang Dihitung
Shahd Abu Khosa (30) meninggalkan lingkungan al-Jalaa pada 16 Oktober 2023 bersama dua anjingnya, Lily dan Bobby. Rutenya dari Rumah Sakit al-Shifa ke Tal al-Hawa, lalu ke sebuah rumah, hingga akhirnya ke tempat penampungan di sekolah. Ketika makanan lenyap, Bobby mati kelaparan. Lily bertahan karena Shahd terus membagi makanan keluarga, lentil dan roti, meski jatahnya sendiri nyaris tak cukup. Shahd mengaku dulu takut pada anjing; kedekatan itu tumbuh kemudian. Dalam tradisi kita, Rasulullah pernah mengisahkan seorang lelaki yang diampuni karena memberi minum anjing yang kehausan, sebagaimana diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Kasih sayang pada makhluk hidup bukan perkara sepele.
Anekdot ini sejalan dengan data. IPC, lembaga pemantau pangan global yang didukung PBB, pada 22 Agustus 2025 mengonfirmasi kelaparan di Governorat Gaza, dengan sekitar 514.000 orang, hampir seperempat penduduk, berada dalam kondisi tersebut. Israel menolak klasifikasi itu; Kementerian Luar Negerinya menyatakan tidak ada kelaparan di Gaza. Pada 19 Desember 2025, IPC menyatakan tidak ada lagi wilayah yang terklasifikasi kelaparan setelah akses bantuan membaik pasca-gencatan senjata. Namun antara 16 Oktober dan 30 November 2025 sekitar 1,6 juta orang (77 persen penduduk yang dianalisis) berada pada Fase 3 (krisis) atau lebih buruk, dan proyeksi Desember 2025 hingga April 2026 tetap sekitar 1,6 juta. Sekitar 101.000 anak usia 6 hingga 59 bulan diproyeksikan menderita malnutrisi akut hingga pertengahan Oktober 2026.
Kami mencatat kedua sisi: laporan IPC Desember 2025 sendiri menggambarkan perbaikan nyata, dan penolakan Israel atas klasifikasi kelaparan Agustus 2025 patut disebut, meski IPC berpegang pada temuannya. Tetapi “bukan kelaparan” tidak sama dengan “cukup pangan”. Kisah Bobby dan keluarga Shahd tentu bukan data, hanya konfirmasi kecil bahwa kelangkaan itu sampai ke tingkat rumah tangga yang paling kecil.
Kaus Bertanda Tangan: Masa Depan yang Terhenti di Usia Dua Puluh
Benda yang dibawa Huda ke dalam tasnya hampir tanpa berpikir adalah kaus dari Access Microscholarship, program pendidikan bahasa Inggris dan budaya berdana Amerika Serikat. Teman-teman sekelasnya menandatanganinya pada 15 September 2023, di pertemuan terakhir kelas, kurang dari sebulan sebelum perang. Ia menyebutnya salah satu hal pertama yang terlintas saat keluarga pergi di hari pertama. Ketika rumah keluarganya ditemukan terbakar pada Januari 2025, ia mengatakan tak ada barang, foto, atau kenangan yang tersisa; hanya dinding yang menghitam. Kaus itu menjadi tautan dengan masa belajar, persahabatan, dan pengalaman yang membentuknya.
Bagi generasi muda yang kehilangan rumah dan tempat belajar sekaligus, benda semacam ini sering menjadi satu-satunya bukti kecil dari identitas yang sedang dibangun. Komisi Penyelidikan Independen PBB menyimpulkan pada Juni 2025 bahwa sistem pendidikan Gaza telah dihancurkan oleh serangan Israel; Israel menolak temuan tersebut. Satu catatan metodologis: laporan Al Jazeera tidak menyebut siapa yang membakar rumah keluarga Huda, dan kita menahan diri dari menarik atribusi yang tidak ada dalam sumber.
Yang Tak Bisa Diganti oleh Donasi, tetapi Bisa Dicatat
Pemulihan Gaza biasanya dibayangkan sebagai rekonstruksi fisik: tenda, air, jalan, dan bangunan. Kelima benda tadi menunjukkan dimensi yang tidak selesai oleh semen. Memori budaya memerlukan arsip. Kesehatan jiwa anak memerlukan layanan yang konsisten. Pendidikan memerlukan ruang dan waktu yang aman. Kerugian-kerugian ini sulit diuangkan, tetapi layak dipertimbangkan dalam diskusi reparasi dan pemulihan, dan itu hanya mungkin bila dicatat sejak sekarang.
Tuntutan akuntabilitas, di sisi lain, berlaku untuk semua pihak. Kritik terhadap operasi militer Israel, terhadap tata kelola di dalam Gaza, dan terhadap serangan 7 Oktober tidak saling meniadakan. Empati kita pada warga sipil Gaza tidak perlu menunggu pihak mana pun dinyatakan bersih; ia diarahkan pada manusia, bukan faksi. Satu catatan untuk diri kita sendiri sebagai pembaca di Indonesia: empati kita sering bersifat episodik. Kita tersentuh oleh satu foto, lalu lupa pada pekan berikutnya, padahal kerugian yang dibahas di sini bekerja jangka panjang.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
- Dukung kebutuhan tempat bernaung. Lebih dari 1,9 juta orang mengungsi dan sekitar 90 persen berpindah berkali-kali menurut UNRWA. Salurkan zakat dan infak melalui lembaga yang punya program Gaza dan melaporkannya secara terbuka, misalnya INH, BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Adara Foundation, atau MER-C. Periksa laporan program mereka sebelum berdonasi.
- Dahulukan layanan anak. UNICEF memperkirakan lebih dari satu juta anak Gaza butuh dukungan psikososial, dan sekitar 101.000 anak berusia 6 hingga 59 bulan diproyeksikan malnutrisi akut hingga Oktober 2026. Pilih program yang secara eksplisit menyebut layanan psikososial dan nutrisi anak, dan dukung desakan agar Pemerintah Indonesia menyuarakan akses medis, termasuk bagi pasien seperti Mahmoud yang tes neurologis bulanannya tidak tersedia.
- Rawat memori. Dengan 150 situs yang kerusakannya diverifikasi UNESCO dan perpustakaan seperti Omari yang sedang diselamatkan relawan, kampus dan komunitas kita bisa membuat arsip kesaksian dan perpustakaan solidaritas. Catat nama, tanggal, tempat, dan sumbernya; dokumentasi yang rapi lebih berguna bagi pemulihan daripada simpati sesaat.
Omar membawa 200 dari 500 bukunya, dan hari ini ia merawat tujuh ribu. Shahd membawa dua anjing dan kehilangan satu. Yaseen membawa oud yang sempat tertimbun reruntuhan, dan memainkannya untuk anak-anak yang takut pada langit. Huda membawa sehelai kaus dari kehidupan yang berakhir kurang dari sebulan kemudian. Mahmoud membawa kantong mainan melewati sekitar tujuh kali pengungsian, dan kehilangan kamar tempat mainan itu seharusnya tinggal.
Masing-masing memilih apa yang tidak sanggup mereka tinggalkan, dengan waktu yang hanya cukup untuk satu tas. Pilihan-pilihan itu mengungkap hal yang tidak diungkap angka: bahwa di tengah perang, orang masih menimbang apa yang membuat mereka tetap menjadi diri sendiri.
Kita tidak tahu ke mana arah gencatan senjata yang rapuh ini. Kita tidak tahu apakah “Garis Kuning” akan bergeser lagi, apakah bantuan akan mengalir stabil, atau apakah sekolah dan klinik akan dibuka sebelum musim dingin berikutnya. Yang kita tahu: orang-orang ini masih bertahan, dan dunia masih punya pilihan untuk menjadikan pengungsian mereka berakhir atau berlanjut.
Maka pertanyaan yang tersisa bukan lagi apa yang mereka bawa. Pertanyaannya, ketika akhirnya mereka bisa pulang, apa yang akan kita pastikan masih ada di sana untuk menyambutnya?


