Khutbah pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita tingkatkan takwa kepada Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, seraya memohon agar Allah mewafatkan kita dalam keadaan Muslim.
Ada satu pertanyaan yang mungkin pernah terlintas di hati kita, meski jarang kita ucapkan dengan keras. Palestina itu jauh, ribuan kilometer dari tempat kita duduk siang ini. Di rumah, ada cicilan yang belum lunas, ada biaya sekolah anak, dan ada tetangga yang juga sedang kesusahan. Lalu, apa urusan kita dengan Baitul Maqdis?
Pertanyaan itu wajar, dan kita tidak perlu malu menanyakannya. Pertanyaan yang jujur berhak mendapat jawaban yang jujur. Siang ini khatib ingin menjawabnya dengan satu pesan: Baitul Maqdis menjadi urusan kita karena Allah dan Rasul-Nya telah mengikatkannya dengan iman dan ibadah kita. Ikatan itu tetap ada, baik ketika beritanya ramai maupun ketika tidak ada lagi yang membicarakannya.
Ikatan pertama kita temukan di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya, Nabi Muhammad, pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Dalam satu ayat ini, Allah menyebut dua masjid sekaligus, lalu menyambungkan keduanya dalam satu perjalanan Nabi-Nya ﷺ pada satu malam. Ayat ini berada di awal surah Al-Isra. Artinya, selama umat ini membaca Al-Qur’an, nama Masjidil Aqsa akan terus dibaca. Anak kita yang menghafal surah ini menyebut namanya, dan kita yang mengkhatamkan Al-Qur’an pasti melewatinya.
Ikatan ini tidak kita buat sendiri. Kita tidak mengarangnya karena semangat sesaat, dan kita tidak mengambilnya dari berita. Allah sendiri yang menyambungkan Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsa di dalam kitab-Nya. Karena itu, kepedulian kita juga tidak boleh naik turun mengikuti berita. Hari ini Palestina mungkin menjadi berita utama, dan bulan depan mungkin tidak lagi. Ayat ini tetap sama, dan kita tetap membacanya.
Imam Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan mengapa masjid itu disebut Al-Aqsa, yang berarti paling jauh. Disebutkan, karena ia masjid terjauh yang diziarahi, dan dikatakan pula karena jaraknya yang jauh dari Masjidil Haram. Itulah penjelasan ulama tafsir. Dari sana, khatib mengajak kita merenung. Jarak sudah tercatat dalam nama masjid itu sejak awal, tetapi jarak tidak memutuskannya dari Masjidil Haram. Maka jarak ribuan kilometer pun tidak seharusnya memutuskannya dari hati kita.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Ikatan kedua kita temukan dalam sabda Rasulullah ﷺ. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ ﷺ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى
“Janganlah bersengaja melakukan perjalanan jauh kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul ﷺ, dan Masjid Al-Aqsa.” Hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
Masjid di dunia ini sangat banyak, dan semuanya rumah Allah, termasuk masjid tempat kita duduk sekarang. Tetapi ketika Nabi ﷺ menyebut masjid yang secara khusus dituju dengan perjalanan jauh, beliau menyebut tiga nama. Dua di antaranya sangat akrab bagi kita. Banyak dari kita menabung bertahun-tahun untuk Makkah dan Madinah, dan banyak yang menangis ketika pertama kali melihat Ka’bah.
Lalu bagaimana dengan masjid yang ketiga? Hadits ini tidak mewajibkan kita berangkat ke sana, dan rincian hukumnya dibahas oleh para ulama. Yang kita ambil siang ini adalah kedudukannya, karena Nabi ﷺ menyebutnya dalam satu kalimat bersama dua masjid yang kita rindukan. Maka nasib Al-Aqsa tidak bisa kita anggap urusan orang Palestina atau bangsa Arab saja.
Coba kita bertanya kepada diri sendiri, dengan jujur. Kita bisa menceritakan Masjidil Haram kepada anak-anak kita, lengkap dengan rasa rindunya. Kita juga bisa bercerita tentang Masjid Nabawi. Kalau hari ini anak kita bertanya tentang Masjid Al-Aqsa, apa yang bisa kita ceritakan? Bila jawabannya belum banyak, tidak perlu berkecil hati. Justru dari situlah kita mulai belajar bersama.
Jamaah sekalian,
Pekan ini kita melewati satu tanggal yang mengingatkan kita mengapa kepedulian itu perlu dijaga. Pada 2 November 1917, seratus sembilan tahun yang lalu, Menteri Luar Negeri Inggris, Arthur Balfour, menulis sepucuk surat pendek kepada Lord Rothschild. Isinya, pemerintah Inggris memandang baik pendirian tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina.
Ketika itu, kira-kira sembilan dari sepuluh penduduk negeri tersebut adalah orang Arab, Muslim dan Kristen. Namun surat itu tidak menyebut mereka sebagai bangsa Arab atau bangsa Palestina. Mereka hanya disebut komunitas non-Yahudi, dan yang dijanjikan untuk dijaga hanyalah hak sipil dan hak agama mereka. Hak politik mereka tidak disebut. Pasukan Inggris sendiri baru memasuki Yerusalem pada bulan Desember tahun itu.
Bayangkan ada orang dari negeri jauh yang menulis surat tentang kampung kita. Masa depan kampung itu dibicarakan di dalamnya, sementara kita, warganya, hanya disebut sebagai “selain mereka”.
Surat itu tidak berhenti sebagai surat. Isinya kemudian dimasukkan ke dalam naskah Mandat Palestina yang disetujui Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1922, dan menjadi pedoman pemerintahan Inggris di sana selama sekitar tiga puluh tahun. Penduduk Arab menolaknya sejak awal. Dari tahun 1918 sampai 1936, setiap 2 November mereka peringati sebagai hari berkabung, dengan unjuk rasa dan mogok umum selama satu hari. Bagi mereka, tanggal itu bukan sekadar catatan sejarah. Tanggal itu menyangkut rumah, tanah, dan masa depan anak-anak mereka.
Dalam hal ini kita harus adil. Yang kita kritik adalah keputusan yang mengabaikan hak penduduk, serta pendudukan dan kezaliman yang datang kemudian. Kritik kita tidak ditujukan kepada orang Yahudi sebagai umat, karena Islam memerintahkan kita berlaku adil kepada siapa pun. Sejarah Palestina juga panjang dan sebabnya banyak, sehingga surat itu bukan satu-satunya sebab.
Mengapa kisah lama ini perlu kita ingat? Karena persoalan yang sudah berjalan lebih dari seratus tahun itu belum selesai. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, yang dikutip OCHA, badan kemanusiaan PBB, dalam laporan tanggal 29 Oktober 2026, sebanyak 1.559 warga Palestina dilaporkan tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025. Di balik angka itu ada ibu, ayah, dan anak. Kita menjaga kehormatan nyawa warga sipil dari pihak mana pun, dan kita tidak bersorak atas kematian siapa pun. Kita berduka, kita berdoa, dan kita berbuat sesuai kemampuan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Sekarang kita kembali ke pertanyaan di awal. Apa urusan kita dengan Baitul Maqdis? Urusan kita adalah iman, karena Allah menyebutnya dalam kitab yang kita baca. Urusan kita juga ibadah, karena Rasulullah ﷺ menyandingkannya dengan dua masjid yang kita rindukan.
Lalu apa wujud urusan itu dalam hidup kita sehari-hari? Khatib mengajak kita melihatnya dalam tiga hal. Pertama, ilmu. Kita belajar mengenal Baitul Maqdis dari Al-Qur’an, hadits, dan sejarah, supaya kepedulian kita berdiri di atas pengetahuan, bukan sekadar terbawa berita. Kedua, hati. Kita menjaga rasa peduli itu tetap hidup, juga pada pekan-pekan ketika berita tentang Palestina tidak lagi kita lihat di layar telepon. Ketiga, amal. Kita memilih langkah yang damai dan bisa kita lakukan, seperti berdoa, bersedekah melalui lembaga yang amanah, dan belajar bersama keluarga.
Khatib mengingatkan diri sendiri lebih dahulu. Sering kali kita merasa sudah peduli karena sudah marah membaca berita atau membagikan sebuah unggahan. Padahal kepedulian yang bertahan lama memerlukan kebiasaan, dan kebiasaan dibangun sedikit demi sedikit.
Peduli pada Al-Aqsa tidak berarti kita mengabaikan keluarga dan tetangga. Cicilan tetap harus dibayar, anak tetap harus dididik, dan tetangga yang susah tetap harus dibantu. Hati seorang mukmin cukup luas untuk semua itu. Kepedulian ini juga tidak harus dimulai dari hal yang besar. Ia bisa dimulai di rumah kita sendiri, ketika anak-anak kita mengenal ayat yang menyebut masjid itu, lalu tumbuh dengan mengetahui mengapa masjid itu penting bagi mereka.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ.
Khutbah kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تَقْوَاهُ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita jaga takwa kita kepada Allah, di mana pun kita berada dan dalam keadaan apa pun.
Tadi kita sudah melihat bahwa ikatan kita dengan Baitul Maqdis dimulai dari ayat yang kita baca. Maka langkah pertama kita juga sebaiknya dimulai dari ayat itu. Tidak perlu menunggu punya banyak uang atau banyak waktu, karena yang dibutuhkan hanya beberapa menit bersama keluarga.
Khatib mengajak kita melakukan satu langkah pada pekan ini: menghafalkan surah Al-Isra ayat 1 bersama keluarga, lengkap dengan artinya. Ayat ini bisa kita bagi menjadi empat bagian, satu bagian setiap hari, misalnya setelah Maghrib.
Bagian pertama:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
Bagian kedua:
مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Bagian ketiga:
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا
Bagian keempat:
إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Yang sudah hafal, ajarkan artinya kepada anak atau cucu. Yang tinggal sendiri, ajak teman kerja atau teman pengajian. Yang lidahnya masih terbata-bata, tidak mengapa, karena kita mulai dari yang bisa kita lakukan.
Semoga sebelum Jumat depan, setiap rumah kita dapat membaca ayat ini bersama-sama. Dan semoga bila anak kita ditanya di mana Masjidil Aqsa dan mengapa masjid itu penting, ia bisa menjawabnya dengan yakin.
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Doa penutup
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ إِخْوَانَنَا فِي فِلَسْطِينَ، وَارْحَمْ ضُعَفَاءَهُمْ، وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ.
اللَّهُمَّ احْفَظِ الْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَاجْعَلْهُ فِي قُلُوبِنَا وَقُلُوبِ أَبْنَائِنَا.
Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, yang masih hidup maupun yang telah wafat. Lindungilah saudara-saudara kami di Palestina. Sayangilah mereka yang lemah, sembuhkan yang sakit, dan angkatlah kezaliman dari mereka. Jagalah Masjidil Aqsa, dan tanamkan cintanya di hati kami dan hati anak-anak kami.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.


