GAZAMEDIA.NET – Film dokumenter NAZA karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, dua sineas Israel yang sebelumnya meraih Oscar lewat No Other Land, mengguncang Festival Film Venesia 2026. Film ini disambut tepuk tangan berdiri selama 25 menit dan membawa pulang Special Jury Prize.
Diproduksi The Guardian dan James Wilson, dengan Jonathan Glazer (The Zone of Interest) sebagai produser eksekutif, film ini akan tayang di bioskop berbagai negara sebelum bisa ditonton gratis di situs The Guardian.
Judulnya diambil dari singkatan militer Ibrani untuk perkiraan jumlah korban sipil dari sebuah serangan, padanan istilah “kerusakan kolateral”. Inti film ini adalah kesaksian 24 personel intelijen dan tentara Israel yang identitasnya disamarkan: wajah ditutupi, suara diubah, dan wawancara dilakukan di atap gedung di Tel Aviv.
Kesaksian mereka mengungkap bahwa setiap target anggota Hamas dibekali “jatah” sedikitnya 20 korban sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Seorang petugas intelijen bahkan mengaku pernah ada persetujuan serangan dengan perkiraan 500 korban sipil.
Film ini juga menyoroti peran kecerdasan buatan: sistem Lavender yang memberi skor kemungkinan seseorang terlibat kelompok bersenjata meski tingkat kesalahannya diakui tinggi, serta perangkat lunak pengintaian yang menyasar target saat mereka pulang ke rumah keluarga, sehingga anak-anak dan anggota keluarga ikut menjadi bagian dari perhitungan serangan.
Narasi resmi bahwa Hamas memakai warga sebagai tameng manusia dipertanyakan oleh para narasumber sendiri sebagai penjelasan utama tingginya korban, yang kini melampaui 73.000 jiwa.
Sebagian tentara Israel mengaku menyesal dan trauma, sebagian lain membenarkan pembunuhan warga sipil sebagai harga perang, bahkan ada yang membanggakannya. Seorang perwira, ketika ditanya apakah bayangan korban menghantuinya, menjawab dingin: “Tidak ada yang tersisa dalam diri saya. Nol.”
Film ini juga menautkan Gaza hari ini dengan Nakba 1948, serta menampilkan gambar-gambar warga Tel Aviv yang hidup nyaman di apartemen mereka, terpisah dari kenyataan di seberang perbatasan.
Di Israel, reaksinya keras. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sejumlah politisi menuntut kewarganegaraan kedua sutradara dicabut, sementara mural bertuliskan “Pengkhianat” muncul di Ashdod.
Menurut pengulas Middle East Eye, Joseph Fahim, NAZA adalah gugatan paling telak terhadap militer Israel sejak 7 Oktober, dan ditujukan terutama kepada publik yang selama ini menolak mendengar suara warga Palestina.
*Sumber: Middle East Eye, “NAZA review: Portrait of Israel as a nation stuck in a moral abyss” (Joseph Fahim, 24 September 2026).


