HomeLiterasiPanen dengan Izin: Zaitun, Tentara, dan Tanah yang Tak Bisa Didatangi

Panen dengan Izin: Zaitun, Tentara, dan Tanah yang Tak Bisa Didatangi

Kamis pagi, 5 November, beberapa keluarga di desa al-Mughayyir, timur laut Ramallah, turun ke kebun zaitun mereka. Hari itu termasuk segelintir hari yang diizinkan militer Israel untuk memanen. Tentara berjaga di tepi kebun. Rekaman Euronews memperlihatkan gas air mata ditembakkan di dekat para pemetik. Asapnya merayap di sela pohon, dan seorang anak laki-laki memungut tabungnya lalu melemparnya menjauh.

Desa itu dihuni sekitar 3.000 orang dan memiliki kurang lebih 4.300 hektare lahan. Kata warganya, yang bisa mereka jangkau hanya sekitar 100 hektare. Untuk sampai ke kebun, mereka harus mengantongi persetujuan militer lebih dulu. Jumlah harinya dibatasi, ada batas usia pemetik, dan sebagian alat dilarang dibawa. Padahal zaitun minta dirawat sepanjang tahun: dipangkas, dibersihkan gulmanya, digemburkan tanahnya. Masih menurut Euronews, enam warga desa itu tewas sepanjang 2026, gerbang timur desa sudah lebih dari dua tahun ditutup tentara, dan sekitar 12.000 pohon zaitun dicabut dari dataran timurnya pada 2025.

Musim yang tercatat paling buruk

Al-Mughayyir bukan kasus tunggal. Dalam laporan situasi 5 November 2026, OCHA, kantor koordinasi kemanusiaan PBB, mencatat 377 serangan pemukim yang terkait panen zaitun sejak musim dimulai pada September hingga 2 November. Yang dihitung hanya serangan yang menimbulkan korban atau kerusakan harta benda, dan jumlahnya sudah melewati total musim mana pun sebelumnya. Menurut ringkasan OCHA yang dikutip Middle East Eye (7 November), serangan-serangan itu menewaskan satu warga Palestina, melukai lebih dari 200 orang, dan merusak lebih dari 3.850 pohon serta bibit. Ini angka tertinggi sejak PBB mulai mendokumentasikannya pada 2006.

Yang dipertaruhkan adalah dapur ribuan rumah. Mitra ketahanan pangan PBB memperkirakan 80.000 sampai 100.000 keluarga di Tepi Barat menggantungkan pendapatan pada panen zaitun.

Jumat kemarin (6/11), menurut kantor berita Palestina WAFA yang dikutip Arab News, 17 orang ditahan di Kafr Ni’ma, barat Ramallah, setelah pemukim menyerang petani yang sedang memanen. Mereka terdiri atas 12 aktivis internasional, dua jurnalis asing, dan tiga warga Palestina. Otoritas Israel kemudian memerintahkan ke-12 aktivis itu dideportasi. Sampai tulisan ini dibuat, saya belum menemukan pernyataan resmi Israel tentang kejadian tersebut.

Versi Israel, dan bantahannya

Militer Israel (IDF), seperti dilaporkan Times of Israel, menyatakan lebih dari 220.000 dunam (1 dunam = 1.000 m²) kebun telah dipanen warga Palestina. Titik rawan, kata IDF, hanya beberapa persen dari total area, dan sebagian besar panen yang dikoordinasikan di bawah pengawalan tentara berjalan tanpa insiden. Pasukan di Tepi Barat juga ditambah selama musim panen. Kepala Staf Eyal Zamir menegaskan tentara akan terus memastikan panen bisa berlangsung, dan pencabutan pohon zaitun oleh tentara disebut dilakukan atas alasan keamanan. (Data IDF bertanggal akhir Oktober 2026, perlu diperbarui.)

Bantahan paling tajam justru datang dari dalam Israel. Organisasi HAM Israel Yesh Din mencatat lebih dari 670 insiden kekerasan pemukim antara 27 September dan 22 Oktober, dan lebih dari 23 persen terjadi saat tentara ada di lokasi atau ikut terlibat (Times of Israel; perlu diperbarui). Pada 3 November, sekitar 30 mantan perwira senior Israel, enam di antaranya jenderal, ikut memetik zaitun bersama petani di Qusra (ringkasan Newscord atas laporan Jerusalem Post, sumber sekunder). Presiden Isaac Herzog sendiri, menurut Times of Israel, memperingatkan Netanyahu bahwa kekerasan pemukim yang dibiarkan akan membawa akibat berat bagi Israel dan bagi orang Yahudi.

Di Gaza, panen yang tinggal sisa

Di Jalur Gaza ceritanya lain. Saed Abu Baraka, 45 tahun, bercerita kepada The National bahwa dulu ia memanen empat hari setiap musim gugur bersama kerabat di kebun keluarga seluas 17 dunam di timur Deir al-Balah. Mereka bernyanyi, memasak, dan berkumpul di depan api sampai malam. Tahun ini sebagian besar tanahnya berada di balik “Garis Kuning”, wilayah yang dikuasai militer Israel, dan banyak kerabat yang biasa ikut sudah tiada. Keluarganya sempat sarapan roti za’atar di bawah pohon yang tersisa, tetapi, katanya, “selalu ada yang kurang.” Kementerian Pertanian Gaza memperkirakan sekitar 40.000 dari 45.000 dunam kebun zaitun rusak, dan produksi anjlok dari hampir 40.000 ton menjadi paling banyak 3.300 ton musim ini (data kementerian, belum diverifikasi pihak independen).

Akar Sejarah

Tepi Barat diduduki Israel sejak Perang 1967. Perjanjian Oslo II (1995) membaginya menjadi Area A, B, dan C. Area C, sekitar 60 persen wilayah dan tempat sebagian besar lahan pertanian berada, berada di bawah kendali sipil dan keamanan penuh Israel. Banyak kebun kini berbatasan langsung dengan permukiman atau outpost, pos permukiman yang bahkan tidak berizin menurut hukum Israel. Peace Now menghitung 390 outpost per Agustus 2026, 65 di antaranya berdiri tahun ini (Times of Israel).

Kerangka hukumnya jelas. Pasal 49 Konvensi Jenewa IV melarang kekuatan pendudukan memindahkan penduduk sipilnya ke wilayah yang didudukinya. Pada 19 Juli 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) dalam pendapat nasihat (advisory opinion) menyatakan kehadiran Israel di wilayah Palestina yang diduduki melanggar hukum, serta mewajibkan Israel menghentikan seluruh aktivitas permukiman baru dan mengevakuasi pemukim. Pendapat nasihat tidak mengikat seperti putusan dalam sengketa antarnegara, tetapi Majelis Umum PBB mengadopsinya lewat resolusi pada 18 September 2024. Israel menolaknya. Netanyahu menyatakan bangsa Yahudi bukan penjajah di tanahnya sendiri dan menyebut Tepi Barat dengan nama Yudea dan Samaria (AFP via Al-Monitor).

Perbedaan nama itu lebih dari soal kosakata. “Wilayah pendudukan” dipakai PBB, ICJ, dan sebagian besar negara. Pemerintah Israel menyebutnya wilayah “sengketa” atau tanah leluhur. Siapa yang menang dalam pilihan kata, dialah yang menentukan apakah memetik zaitun di tanah sendiri dianggap hak atau perlu izin.

Pelajaran literasi hari ini: tanyakan definisi sebelum membandingkan angka

Pekan ini beredar tiga angka yang sekilas saling bertabrakan: 377 dari OCHA, lebih dari 670 dari Yesh Din, dan 409 dari Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok Palestina (dikutip ISM). Ketiganya tidak saling membatalkan. OCHA hanya menghitung serangan pemukim yang menimbulkan korban atau kerusakan, 1 September sampai 2 November. Yesh Din menghitung semua insiden kekerasan pemukim, 27 September sampai 22 Oktober. Komisi Palestina menghitung serangan pemukim dan tentara sekaligus, 1 sampai 22 Oktober.

Jadi, sebelum membagikan angka, biasakan tiga pertanyaan: siapa yang menghitung, untuk periode kapan, dan apa persisnya yang dihitung. Lalu uji kewajarannya. Contoh kecil: laporan yang mengutip IDF menyebut 22.500 ton zaitun menghasilkan sekitar 5.500 liter minyak. Dengan rendemen zaitun yang lazimnya belasan sampai dua puluhan persen, hasilnya mestinya jutaan liter. Kemungkinan ada salah satuan, dan angka itu layak dicek ke pernyataan aslinya sebelum dikutip.

Satu pertanyaan untuk direnungkan: kalau kebun keluargamu hanya boleh didatangi beberapa hari setahun, apa saja yang ikut hilang selain hasil panennya?

ARTIKEL TERKAIT

Terkini