Di tengah eskalasi terbaru antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, doktrin “menghadap ke Timur” (Look East) yang dianut Iran selama satu dekade terakhir kini menjadi perdebatan hangat di kalangan pejabat dan analis di Teheran.
Alex Vatanka, pakar Iran dari Middle East Institute di Washington, menjelaskan bahwa doktrin ini menekankan penguatan hubungan dengan Rusia dan China. Tujuannya adalah memberi perlindungan strategis bagi Iran terhadap tekanan Barat, sanksi ekonomi, dan kemungkinan serangan militer.
Namun, perkembangan terakhir menunjukkan bahwa harapan Iran terhadap dukungan penuh Moskwa ternyata belum terpenuhi. Selama eskalasi, AS terus melontarkan ancaman, sementara Iran mengirim pesan militer melalui Teluk. Dalam situasi ini, Iran awalnya menaruh harapan besar pada Rusia sebagai sekutu strategis, tetapi kenyataannya berbeda.
Pada musim semi 2025, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Andrei Rudenko menegaskan bahwa perjanjian strategis antara kedua negara bukanlah pakta pertahanan bersama. Artinya, jika Iran diserang Amerika Serikat, Rusia tidak berkewajiban memberikan bantuan militer. Pernyataan ini mengejutkan elite politik Iran yang selama ini menaruh kepercayaan besar pada Moskwa.
Kekecewaan ini semakin nyata ketika Rusia menolak memasok jet tempur Su-35 dan sistem pertahanan udara S-400, sementara peralatan serupa justru diberikan kepada India. Hal ini memperlihatkan kesenjangan antara retorika “kemitraan strategis” Rusia dan kenyataan dukungan yang diterima Iran.
China, menurut Vatanka, mengambil pendekatan serupa. Beijing terus bekerja sama secara ekonomi dan memberikan dukungan verbal, tetapi menghindari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat demi kepentingan Iran. Baik Moskwa maupun Beijing, kata Vatanka, lebih mengutamakan jarak yang terukur ketimbang mengikuti logika aliansi militer penuh di kawasan.
Kondisi ini memaksa Iran meninjau kembali strategi regionalnya. Meski Rusia dan China tetap dianggap mitra penting, Teheran kini menyadari bahwa kemitraan tidak selalu berarti jaminan perlindungan. Situasi ini menempatkan Iran pada persimpangan jalan, di mana keputusan strategis terkait hubungan dengan kekuatan besar dunia menjadi semakin krusial.
Vatanka menutup analisanya dengan catatan bahwa doktrin “menghadap ke Timur” memang memberi ruang manuver bagi Iran, tetapi tidak lagi memberikan jaminan keamanan yang selama ini diharapkan.


