spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Thursday, March 19, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniAnalis: Jika Saudi perang dengan Iran, Pakta Pertahanan dengan Pakistan bisa aktif

Analis: Jika Saudi perang dengan Iran, Pakta Pertahanan dengan Pakistan bisa aktif

Jika Arab Saudi memutuskan bergabung dalam perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, kerajaan tersebut berpotensi mengaktifkan pakta pertahanan bersama dengan Pakistan, termasuk kemungkinan berada di bawah “payung nuklir” Islamabad.

Hal itu disampaikan analis geopolitik Saudi, Salman al-Ansari, dalam wawancara dengan CBC News. Ia menilai bahwa keterlibatan penuh Arab Saudi akan membuat Iran berada pada posisi yang paling dirugikan.

“Jika Saudi memutuskan untuk terlibat secara penuh, Iran akan menjadi pihak yang paling merugi karena Saudi akan mengaktifkan perjanjian pertahanan bilateralnya dengan Pakistan,” ujarnya. Ia menambahkan, secara praktis terdapat “payung nuklir” yang melindungi Arab Saudi.

Arab Saudi dan Pakistan menandatangani perjanjian pertahanan bersama tahun lalu, menyusul serangan Israel terhadap negosiator Hamas di Doha, Qatar. Inti dari perjanjian tersebut menyerupai prinsip Pasal 5 dalam NATO, yang mengatur kewajiban pertahanan kolektif.

Dalam pernyataan resmi kedua negara, disebutkan bahwa setiap agresi terhadap salah satu pihak akan dianggap sebagai serangan terhadap keduanya. Dengan demikian, Pakistan secara teoritis dapat berkewajiban membantu jika Arab Saudi menghadapi serangan besar.

Arab Saudi sendiri sebelumnya telah menjadi target serangan rudal balistik dan drone Iran, termasuk terhadap kedutaan besar AS di Riyadh, Pangkalan Udara Prince Sultan, serta infrastruktur energi kerajaan. Selain itu, ekspor minyak Saudi turut terdampak oleh kendali Iran atas Selat Hormuz.

Untuk mengurangi dampak tersebut, Saudi mengandalkan jalur pipa East-West dari kawasan Teluk guna menghindari Selat Hormuz, sehingga tetap dapat menyalurkan sekitar empat juta barel minyak per hari ke pasar global, dibandingkan sekitar tujuh juta barel per hari sebelum konflik.

Sebelumnya, Arab Saudi bersama sejumlah negara Teluk lainnya sempat melobi Presiden AS, Donald Trump, agar tidak terlibat dalam perang melawan Iran. Namun, meningkatnya serangan dari Iran memicu perdebatan internal mengenai sejauh mana dukungan Riyadh terhadap operasi militer AS.

Pakta pertahanan Saudi–Pakistan kini menambah kompleksitas konflik, sekaligus membuka kemungkinan meluasnya dampak perang ke kawasan lain jika tidak segera dikendalikan.

Di sisi lain, Pakistan juga berperan sebagai mediator antara Saudi dan Iran. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengungkapkan bahwa ia telah menyampaikan keberadaan pakta tersebut dalam pembicaraan dengan Menlu Iran, Abbas Araghchi. Teheran, kata dia, meminta jaminan bahwa wilayah Saudi tidak akan digunakan sebagai basis serangan terhadap Iran.

Selain hubungan pertahanan dan diplomatik, Pakistan juga bergantung pada negara-negara Teluk untuk pasokan minyak mentah dan gas alam. Baru-baru ini, kapal berbendera Pakistan, Karachi (Lorax), menjadi kapal pertama yang mengangkut minyak non-Iran yang melintasi Selat Hormuz dengan sistem pelacakan aktif.

Kapal tersebut dimiliki oleh perusahaan pelayaran milik negara Pakistan, dan diketahui mengangkut minyak dari Uni Emirat Arab. Para analis menilai kemungkinan Pakistan telah bernegosiasi dengan Iran untuk memastikan kelancaran jalur pelayaran tersebut.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler