spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Tuesday, March 3, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Akankah negara-negara Teluk membalas rudal Iran?

ANALISIS – Akankah negara-negara Teluk membalas rudal Iran?

Ketika rudal-rudal Iran menghantam ibu kota dan kota-kota besar di Teluk akhir pekan lalu, yang hancur bukan sekadar kaca dan beton. Serangan itu merobek citra yang selama ini dipoles susah payah: bahwa negara-negara Teluk adalah oase stabilitas yang steril dari konflik Timur Tengah.

Kini, para pemimpin di kawasan menghadapi pilihan pelik. Membalas serangan berarti berisiko terlihat berdiri di kubu Israel. Namun, jika pasif, mereka hanya akan menonton kota-kota mereka rontok menjadi abu.

Meski asap masih mengepul di kaki langit, suara-suara dari kawasan tersebut menyerukan menahan diri. Mereka memperingatkan agar Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) tidak ditarik ke dalam perang yang tidak pernah mereka inginkan.

Mantan Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, memperingatkan melalui unggahan di X bahwa GCC tidak boleh terjebak dalam konfrontasi langsung dengan Iran. Walaupun, ia mengakui Teheran telah melanggar kedaulatan dan menjadi agresor.

“Ada kekuatan yang ingin negara-negara Dewan terseret langsung dengan Iran,” tulis Sheikh Hamad. Menurutnya, bentrokan langsung hanya akan menguras sumber daya kedua belah pihak dan memberi celah bagi kekuatan luar untuk mengendalikan kawasan dengan dalih bantuan krisis.

Senada dengan itu, Faisal Al-Mudahka, Pemimpin Redaksi Gulf Times, menegaskan bahwa ini adalah perang Amerika Serikat dan Israel. “Kami hanya terjebak di lokasi geopolitik ini. Teluk adalah soal kemakmuran dan pembangunan, bukan pencari perang,” ujarnya kepada Al Jazeera.

Sumbu Ledak dari Sabotase Damai

Serangan Iran ini merupakan balasan atas gempuran masif AS-Israel pada Sabtu lalu yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah petinggi militer lainnya. Serangan itu juga menghantam situs-situs pemerintah dan sebuah sekolah yang menelan 148 korban jiwa.

Teheran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel serta aset militer AS di Teluk. Dampaknya fatal: tiga orang tewas di Uni Emirat Arab (UEA), bandara di Dubai dan Kuwait rusak, serta gedung-gedung tinggi di Manama dan Doha diselimuti asap. Arab Saudi pun mengonfirmasi serangan di Riyadh.

Ironisnya, konfrontasi ini meledak tepat saat Oman tengah memediasi jalur diplomasi antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, sempat menyatakan perdamaian sudah “di depan mata” setelah Iran setuju mengencerkan cadangan uraniumnya. Namun, hanya dalam hitungan jam, rudal AS-Israel justru meluncur.

Skenario Buruk: Kota Tak Layak Huni

Bagi pengamat politik Timur Tengah dari New York University Abu Dhabi, Monica Marks, serangan ini adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. “Melihat Doha atau Dubai dibom bagi warga di sini sama tak terbayangkannya dengan melihat Seattle atau Miami dibom bagi orang Amerika,” katanya.

Ia menilai rezim Iran yang tersudut memilih melakukan “fratrisida (pembunuhan saudara) sebelum bunuh diri”—menjadikan tetangga-tetangganya di Teluk sebagai sandera daripada menerima kekalahan.

Risiko terbesar bukan hanya kehancuran fisik, tapi kelumpuhan total. Jika infrastruktur energi, pembangkit listrik, dan instalasi desalinasi air dihantam, negara-negara Teluk yang gersang akan menjadi wilayah yang tidak layak huni.

Secara ekonomi, dampaknya bakal mengglobal. Al-Mudahka mengingatkan bahwa 16 persen energi dunia berasal dari Qatar dan sepertiga aliran minyak global melewati Selat Hormuz. “Jika terjadi sesuatu di sini, listrik di Osaka bisa padam. Harga minyak bisa melonjak ke 200 dolar AS per barel,” tuturnya.

Paradigma Baru: Perang Terbuka

Pengamat dari King’s College London, Rob Geist Pinfold, menilai krisis ini menandai pergeseran paradigma. Jika selama bertahun-tahun Teluk hanya pusing menghadapi aktor non-negara seperti Houthi atau Hizbullah, kini mereka kembali ke era kuno: perang antar-negara (state-on-state warfare).

Pinfold memprediksi, jika negara Teluk memutuskan untuk bertindak, mereka kemungkinan besar akan bergerak di bawah payung militer sendiri, seperti Pasukan Perisai Semenanjung (Peninsula Shield Force), alih-alih sekadar menjadi pemandu sorak bagi operasi AS atau Israel.

Kini, dengan cakrawala kota yang mulai tercoreng bekas ledakan, ruang bagi negara-negara Teluk untuk tetap berada di pinggir lapangan tampak semakin sempit.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler