Sunday, January 25, 2026
HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Ancaman Armada AS ke Iran Dongkrak Harga Minyak

ANALISIS – Ancaman Armada AS ke Iran Dongkrak Harga Minyak

Peringatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa sebuah “armada” AS tengah bergerak menuju Iran meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan aksi militer di Timur Tengah. Situasi tersebut mendorong harga minyak naik di tengah kekhawatiran gangguan pasokan global.

“Kami sedang mengawasi Iran,” kata Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One, Kamis (waktu setempat). “Kami punya banyak kapal yang bergerak ke arah sana untuk berjaga-jaga. Armada besar sedang menuju kawasan itu dan kita akan lihat apa yang terjadi.”

Trump juga kembali menegaskan agar Teheran tidak menghidupkan kembali program nuklirnya, sejalan dengan pernyataannya kepada CNBC saat Forum Ekonomi Dunia awal pekan ini.

Harga minyak, yang sebelumnya turun sekitar 2 persen, kembali menguat pada Jumat pagi. Minyak mentah Brent acuan internasional kontrak Maret naik 1,8 persen menjadi 65,20 dollar AS per barel pada pukul 13.04 waktu London. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak Maret naik 1,8 persen menjadi 60,44 dollar AS per barel.

Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya jumlah korban akibat tindakan keras aparat Iran terhadap demonstrasi nasional. Menurut Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 5.002 orang tewas dan hampir 27.000 orang ditangkap. HRANA merupakan organisasi nirlaba yang terdaftar di AS dan mengandalkan jaringan aktivis di dalam Iran.

Aksi protes yang dimulai di bazar Teheran pada 28 Desember dipicu oleh kekecewaan publik terhadap krisis ekonomi berkepanjangan, terutama terkait anjloknya nilai mata uang dan melonjaknya harga kebutuhan pokok.

Trump sempat melunakkan nadanya pekan lalu dengan mengatakan bahwa “pembunuhan telah berhenti”, berdasarkan informasi dari “sumber-sumber sangat penting” di Teheran. Namun, peringatan terbarunya—disertai dengan peningkatan kehadiran angkatan laut AS di kawasan Teluk—kembali membuat pelaku pasar energi waspada.

Iran, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), merupakan pemain penting di pasar minyak global dengan produksi lebih dari 3 juta barel minyak mentah per hari.

Tiga skenario minyak Iran

Direktur riset Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) Rystad Energy, Aditya Saraswat, menyebut terdapat tiga skenario utama bagi aliran minyak Iran: mempertahankan kondisi saat ini, mencapai kemajuan dalam negosiasi dengan pemerintahan Trump, atau menghadapi perubahan rezim akibat intervensi AS.

“Taktik lama Iran seperti menutup Selat Hormuz, mengandalkan perdagangan dengan China, dan mengancam eskalasi nuklir masih mungkin digunakan, tetapi semuanya berisiko berbalik merugikan rezim,” ujar Saraswat dalam catatan risetnya.

Selat Hormuz—yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab—merupakan salah satu jalur terpenting bagi perdagangan minyak dunia. Penutupan selat tersebut, bahkan untuk sementara, berpotensi memicu lonjakan harga energi global, kenaikan biaya pengapalan, dan keterlambatan pasokan.

Menurut Saraswat, satu-satunya faktor penyangga bagi Iran saat ini adalah peran China sebagai tujuan utama ekspor minyaknya.

“Saat ini, sekitar 90 persen ekspor minyak Iran mengalir ke China, termasuk sebagian kargo yang secara resmi tercatat menuju ‘tujuan tidak diketahui’. Model ekspor ini masih bisa bertahan dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutannya makin bersyarat,” katanya.

Pasar masih kelebihan pasokan

Sejumlah analis energi mengatakan kepada CNBC bahwa pasar bersiap menghadapi volatilitas harga lebih lanjut akibat ketegangan geopolitik, meskipun serangan militer AS dinilai kecil kemungkinannya berdampak besar terhadap produksi minyak Iran.

“Gangguan signifikan terhadap produksi minyak Iran memang akan mendorong harga naik, tetapi dampaknya tetap terbatas karena pasar global saat ini kelebihan pasokan,” tulis analis Fitch Ratings pada 16 Januari.

CEO perusahaan minyak Arab Saudi Aramco, Amin Nasser, juga menilai sektor energi tetap tangguh menghadapi berbagai guncangan. Dalam wawancara dengan CNBC, ia menyebut pasar minyak saat ini “terpasok dengan baik”.

“Jika melihat satu dekade terakhir dan berbagai gangguan yang terjadi, pasar tetap mampu bertahan karena sumber pasokan yang tersebar,” ujarnya.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler