Midterm AS 2026, kemenangan El-Sayed di Michigan, pemangkasan bantuan untuk Israel, dan nasib Board of Peace: satu pekan, satu pertanyaan tentang harga dukungan tanpa syarat
Dini hari Rabu, 4 November 2026, di sebuah pesta malam pemilu di Detroit, Abdul El-Sayed, putra imigran Mesir berusia 42 tahun, menyatakan kemenangan atas Mike Rogers dan menjadi Muslim pertama yang terpilih ke Senat Amerika Serikat. Ia menang sekitar tujuh poin, setelah rival lamanya di Partai Demokrat, Haley Stevens, justru mendukung lawannya dua hari sebelum pemilihan. Pada malam yang sama Demokrat merebut DPR dan Senat. Beberapa jam sebelumnya, pada pagi hari pemilihan 3 November, Presiden Donald Trump mengumumkan lewat telepon ke Fox News bahwa Amerika akan berhenti memberi Israel bantuan militer sekitar 4 miliar dolar per tahun mulai 2027, sambil tetap menjual senjata. Di Gaza, pekan yang sama membawa kabar yang sudah terlalu akrab: korban baru di bawah gencatan senjata yang diumumkan 10 Oktober 2025. Tiga peristiwa ini bertemu dalam satu pekan, dan pertemuan itulah yang layak ditelaah.
Kolom David Hearst di Middle East Eye (4 November 2026) menyatakan era Trump telah berakhir dan menempatkan Gaza sebagai penyebab utama kejatuhan politik Trump, Partai Republik, dan lobi AIPAC. Ini kolom opini, bukan laporan. Karena itu kita perlakukan ia sebagai argumen untuk diuji, bukan fakta untuk dikutip. Sebagian argumennya kuat dan sejalan dengan data. Sebagian lain melampaui bukti yang kini tersedia.
Pertanyaan intinya sederhana: apakah hukuman elektoral atas perang dan atas dukungan tanpa syarat kepada Israel akan berubah menjadi kebijakan yang terasa di Gaza dan di Tepi Barat? Atau ia berhenti sebagai pergeseran suasana di Washington?
Tesis saya bersifat argumentatif, bukan fakta tunggal: yang bergeser di Amerika adalah harga politik dari dukungan tanpa syarat, belum kebijakannya. Harga yang naik bisa mendorong perubahan nyata, bisa pula dijawab dengan langkah kosmetik. Angka di bawah saya sandarkan pada sumber yang disebut satu per satu, dan hasil penghitungan yang masih bergerak saya sajikan sebagai rentang. Tulisan ini analisis, bukan pembenaran moral atas pihak mana pun, termasuk pihak yang saya bahas secara simpatik.
Gelombang Biru Itu Nyata, tetapi Bukan Referendum Tunggal atas Gaza
Demokrat membalik tujuh kursi Senat, termasuk Texas, Kansas, Maine, dan Carolina Selatan, menurut CNBC. CNN memproyeksikan mayoritas Senat dengan setidaknya 51 kursi pada malam pemilihan; hitungan sementara sejumlah media menyebut hingga 54, dengan Alaska dan Mississippi belum final. Di DPR, CBS News memperkirakan Demokrat berakhir di kisaran 251 sampai 268 kursi. Hitungan itu belum tuntas ketika tulisan ini dibuat, sehingga angka tunggal akan menyesatkan.
Hearst menulis bahwa “perubahan rezim” terjadi di Texas, Michigan, Kansas, Georgia, dan Florida. Sebagai metafora, ia enak dibaca; sebagai catatan, ia longgar. Texas dan Kansas memang berpindah. Namun di Georgia Jon Ossoff mempertahankan kursinya, bukan merebutnya. Kursi Michigan sudah di tangan Demokrat sebelum pemilihan, sehingga menurut Al Jazeera kemenangan El-Sayed tidak mengubah keseimbangan Senat. Kursi Senat Florida dinilai masih condong ke Republik.
Lebih penting dari itu adalah soal sebab. Wakil Presiden JD Vance, dalam unggahan di X pada 4 November, menyebut perang sebagai alasan kekalahan dan mengutip seorang lembaga survei yang menurutnya menemukan bahwa mengakhiri perang Iran dan “mengubah hubungan dengan Israel” termasuk empat alasan teratas pemilih Trump 2024 yang pindah ke Demokrat. Itu bukti bahwa Israel memang masuk hitungan. Tetapi survei yang dilaporkan AP menunjukkan perang Iran bukan isu terpenting bagi mayoritas pemilih, dan Hearst sendiri menyebut biaya hidup serta tarif sebagai pemicu utama. Gaza adalah faktor, mungkin menentukan di sebagian segmen, bukan penjelasan tunggal.
Kursi di Kongres bisa berpindah dalam semalam. Kebijakan atas Gaza hanya berpindah ketika ada yang menuliskannya ke dalam undang-undang.
Michigan: Uang Besar Kalah, tetapi Pertanyaan yang Dihindari Masih Menunggu
Angka belanja AIPAC dan sekutunya melawan El-Sayed bergantung pada siapa yang menghitung. Pengajuan FEC mencatat 24,7 juta dolar dari super PAC AIPAC, United Democracy Project, hingga hari pemilihan pendahuluan 4 Agustus. AP menyebut sekitar 30 juta dolar dari AIPAC dan afiliasinya, dan New York Times, yang dikutip media lokal, 32 juta. Jika semua komite luar yang membela Stevens dihitung, Mediaite melaporkan sekitar 62 juta dolar. Rentangnya lebar, dan angka 30 juta milik Hearst berada di dalamnya. Klaimnya bahwa AIPAC menambah 9 juta dolar untuk Rogers di pemilihan umum tidak dapat saya temukan konfirmasinya, sehingga tidak saya pakai.
El-Sayed memenangi pendahuluan pada 4 Agustus dan pemilihan umum dengan selisih sekitar tujuh poin menurut NPR. Pada Minggu 1 November, Stevens mendukung Rogers. Pelosi, dalam podcast pada 29 Oktober, menyebut sikap El-Sayed tentang Israel sebagai negara Yahudi “lebih dari mengkhawatirkan” dan “salah”, lalu menambahkan bahwa orang itu baru akan terlihat jika terpilih. Hearst menyebutnya nada mengancam. Itu tafsir; juru bicara Pelosi kemudian menyatakan ia tetap mendorong semua orang mendukung El-Sayed.
Nuansa perlu dicatat. Pertama, Rogers menuduh El-Sayed mendukung Ikhwanul Muslimin tanpa bukti, dan itu tuduhan murahan. Kedua, kritik atas El-Sayed tidak semuanya murahan. Ia menolak menegaskan Israel sebagai “negara Yahudi” dengan alasan ia menentang negara yang mengistimewakan satu identitas agama; pengkritiknya, termasuk sebagian pemilih Yahudi Demokrat, menilai itu menafikan hak penentuan nasib sendiri. Perdebatan itu sah dan belum selesai. Ketiga, satu kemenangan di kursi yang sudah Demokrat, pada tahun gelombang, belum membuktikan bahwa lobi itu runtuh. Klaim Hearst bahwa Michigan adalah “referendum terbesar” atas kebijakan Israel adalah tafsir yang menarik, bukan temuan.
Perang Iran: Pemilih Menghukum Biaya, dan Itu Belum Tentu Menghukum Penderitaan
Amerika Serikat dan Israel memulai serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei tewas pada gelombang pertama, dan putranya, Mojtaba Khamenei, menggantikannya. Iran membalas ke Israel, pangkalan AS, dan negara-negara Teluk, serta menutup Selat Hormuz. Gencatan senjata April dan nota kesepahaman Juni runtuh, dan perang masih berjalan delapan bulan kemudian. Menurut ABC News, harga bensin di Amerika sempat rata-rata sekitar 4 dolar per galon, dan Pew mencatat sekitar 65 persen warga tidak menyetujui cara Trump menangani perang, menurut Al Jazeera.
Vance menulis, “Alasan kami kalah adalah perang.” Trump menyebut pernyataan itu “sebagian besar benar”, tetapi menegaskan keputusannya tepat dan perang akan dilanjutkan. Dua hal patut dibedakan dari argumen Hearst. Pertama, ia menulis bahwa perang itu “sepenuhnya ide Netanyahu”. Catatan publik hanya menunjukkan operasi gabungan, dan siapa yang mendorong siapa tetap tuduhan kritikus, bukan fakta terbukti. Kedua, ia menduga serangan ulang kini mustahil secara politik. Namun Wall Street Journal melaporkan Trump menolak proposal gencatan tujuh hari dan menyampaikan kepada para pembantunya bahwa ia memperkirakan akan kembali mengebom setelah pemilu.
Pihak yang dianalisis secara kritis tidak berhenti di Washington. Menurut CRS, Iran menyerang sasaran di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, dan UEA, serta berupaya menguasai Selat Hormuz lewat ancaman dan serangan atas kapal dagang. Lembaga yang sama mencatat sekitar 20 warga sipil Israel dilaporkan tewas oleh serangan Iran sebelum gencatan April. Mojtaba Khamenei dinilai sejumlah analis sebagai garis keras, dan rezim di Teheran belum jatuh. Korban sipil di pihak mana pun adalah bagian dari biaya perang ini.
Pemilih Amerika menghukum perang yang mahal. Itu belum tentu sama dengan menghukum perang yang kejam.
Memangkas Bantuan Tidak Sama dengan Menghentikan Senjata
Pada 3 November Trump mengatakan kepada Fox News bahwa bantuan sekitar 4 miliar dolar per tahun akan berhenti mulai 2027, tetapi penjualan senjata berlanjut. Ia sendiri mengaitkan keputusan itu dengan kritik dari “orang-orang gila seperti El-Sayed”, dalam terjemahan bebas kata-katanya, dan menyebut bantuan itu bahan serangan yang tidak perlu karena Israel tidak membutuhkannya. Di bawah nota kesepahaman sepuluh tahun yang berakhir pada 2028, bantuan tahunan itu sebesar 3,8 miliar dolar, menurut CNN. Pada Januari, Netanyahu sendiri mengatakan ingin mengurangi ketergantungan secara bertahap dalam sepuluh tahun. Josh Paul, mantan pejabat Departemen Luar Negeri yang mundur pada 2023 karena bantuan itu, menilai pemutusan total sejak 1 Januari tidak masuk akal karena pendanaannya sudah tertanam dalam undang-undang. Para pengkritik juga menunjuk klausul baru dalam rancangan UU Otorisasi Pertahanan yang mengintegrasikan militer kedua negara.
Bagi pembaca Palestina-sentris, bacaan paling jujur adalah dua-duanya sekaligus. Langkah itu menunjukkan bahwa bantuan kepada rezim Zionis telah menjadi beban politik, dan itu kemajuan. Tetapi senjata, instrumen yang paling langsung terkait korban di Gaza, tidak tersentuh. Sebuah studi akademik yang dikutip AP mencatat sedikitnya 21,7 miliar dolar bantuan militer sejak perang dimulai pada 2023. Ada pula tafsir yang berlawanan: keinginan memangkas bantuan berasal dari Israel sendiri, bukan dari tekanan Washington, dan dengan begitu pergeseran ini lebih ringan daripada yang tampak.
Di Inggris, Perdana Menteri Andy Burnham, yang menjabat sejak Juli, meminta maaf atas respons awal Partai Buruh terhadap Gaza dan membuka kemungkinan sanksi tambahan serta larangan barang permukiman. Jewish News, di sisi lain, melaporkan pemerintahannya diperkirakan tidak jauh menyimpang dari kebijakan Starmer. Peringatan Hearst berlaku di sini: berbicara belum berjalan.
Bantuan dan senjata berjalan lewat dua pintu yang berbeda. Menutup salah satunya tidak otomatis menutup yang lain.
Dompet Teluk dan Pemeriksaan yang Akan Datang
Wall Street Journal melaporkan pada Februari 2026 bahwa investor yang didukung Sheikh Tahnoon bin Zayed Al Nahyan, penasihat keamanan nasional UEA, menyepakati pembelian 49 persen World Liberty Financial senilai 500 juta dolar pada 16 Januari 2025, empat hari sebelum pelantikan Trump. Dari 250 juta dolar pembayaran awal, 187 juta mengalir ke entitas keluarga Trump dan sedikitnya 31 juta ke entitas terkait keluarga Steve Witkoff. World Liberty dan Gedung Putih membantah ada pelanggaran. Menurut laporan yang sama, Tahnoon kemudian bertemu Trump dan pemerintahan Trump berkomitmen memberi UEA akses ke ratusan ribu cip AI per tahun; urutan waktu itu menarik, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Robert Garcia diperkirakan memimpin Komite Pengawasan DPR dengan Demokrat di posisi mayoritas, menurut Bloomberg Government, sehingga dana semacam ini hampir pasti diperiksa. Perlu disebut bahwa kata “suap” yang dipakai Hearst untuk investasi negara-negara Teluk adalah tuduhan, bukan putusan pengadilan. Argumennya bahwa negara Teluk keliru menggantungkan keamanan pada Trump juga perlu nuansa: Bahrain, Kuwait, dan UEA justru menjadi sasaran Iran, menurut CRS, sehingga ketergantungan pada payung keamanan Amerika bukan sekadar salah hitung, dan pakta pertahanan regional tidak bisa dibangun dalam semalam.
Hearst juga menyerukan agar Board of Peace dibubarkan dan diganti struktur PBB. Faktanya, badan itu mendapat otorisasi Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB pada 17 November 2025, yang disahkan 13 suara tanpa penolakan dengan Tiongkok dan Rusia abstain. Itu justru inti persoalannya bagi para pengkritik: sebuah badan yang digagas Trump sudah memiliki payung PBB.
Indonesia: Setelah Michigan, Tuntutan Kita Menjadi Lebih Murah
Indonesia menandatangani piagam Board of Peace di Davos pada 22 Januari 2026. Menurut Foreign Policy (6 Oktober 2026), sebuah survei Maret menemukan 50,9 persen responden menolak keanggotaan itu dan 44,9 persen menolak pengiriman pasukan ke Gaza, dibanding 33,8 persen yang mendukung. Presiden Prabowo kemudian membekukan keterlibatan Indonesia dan menangguhkan rencana pengiriman pasukan. Pembekuan itu belum saya temukan konfirmasi resminya dari pemerintah, sehingga statusnya sebaiknya dibaca sebagai laporan satu media.
Pemerintah berargumen bahwa kursi di meja lebih baik daripada tidak ada kursi. Pengkritik, termasuk akademisi yang dikutip Al Jazeera, menilai pendekatan badan itu terhadap Gaza kolonial. Prabowo sendiri, dalam pesan untuk Hari Solidaritas Palestina 25 November 2025, mengatakan perdamaian yang dipaksakan “untuk” rakyat Palestina dan bukan “oleh” mereka justru memperdalam bencana kemanusiaan. Pergeseran di Washington menurunkan harga bagi Jakarta untuk menuntut syarat yang lebih tegas. Komunike Konferensi Asia-Afrika Bandung 1955, sebagaimana diingatkan Hasto Kristiyanto dalam laporan Antara, sudah menyebut ketegangan di Timur Tengah akibat masalah Palestina sebagai bahaya bagi perdamaian dunia.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
- Ubah pembekuan menjadi syarat tertulis. Kirim surat atau minta audiensi dengan Kementerian Luar Negeri dan Komisi I DPR RI agar keikutsertaan Indonesia di Board of Peace diikat syarat tertulis: peran Palestina dalam pengambilan keputusan, akses kemanusiaan, dan kejelasan soal dana. Rujuk survei 50,9 persen penolakan dan pesan Prabowo pada 25 November 2025. Tanyakan pula apakah janji dana satu miliar dolar yang dilaporkan sebelumnya benar-benar dicabut.
- Tuntut dua pintu sekaligus, bantuan dan senjata. Dalam forum OKI, PBB, dan jalur diplomatik ke anggota Kongres AS yang baru, minta agar pembahasan tidak berhenti pada bantuan 3,8 sampai 4 miliar dolar per tahun, tetapi mencakup penjualan senjata dan klausul pertahanan baru. Buat ringkasan satu halaman dengan angka 21,7 miliar dolar bantuan militer sejak 2023, lengkap dengan nama penghitung dan tanggalnya.
- Salurkan zakat dan infak sekarang. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.386 korban tewas sejak gencatan senjata hingga 19 September, dan laporan pekan ini menyebut sekitar 1.600; kementerian itu dikelola Hamas dan angkanya tidak memisahkan sipil dari kombatan. Pilih lembaga seperti INH, BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, MER-C, atau Adara Foundation, dan minta laporan penyaluran serta program perlengkapan musim dingin.
Lebih dari tujuh puluh tahun lalu, di Bandung, wakil dua puluh sembilan negara menandatangani komunike yang menyatakan dukungan bagi hak rakyat Palestina. Pekan ini, di kota lain dan di benua lain, seorang Muslim terpilih ke Senat Amerika setelah kampanye yang diwarnai tuduhan tanpa bukti. Dua peristiwa itu terpisah tujuh dekade, dan keduanya menunjukkan bahwa dukungan bagi Palestina bergerak jauh lebih lambat daripada penderitaannya.
Kita tidak tahu apakah Kongres yang baru akan menulis pergeseran itu menjadi undang-undang. Hearst sendiri mengakui bahwa Demokrat masih jauh dari pasca-Zionis, dan Ro Khanna, salah satu suara paling kritis, tetap mendukung hak Israel untuk ada. Bisa jadi pemeriksaan Komite Pengawasan menekan para penjual senjata. Bisa jadi Trump mempertahankan perang dan hanya memindahkan label bantuan.
Kita juga tidak tahu apakah perubahan di Washington akan sampai ke Gaza sebelum musim dingin. Yang kita ketahui lebih pasti: korban di bawah gencatan senjata terus bertambah, para syuhada sipil itu tidak menunggu pemungutan suara, dan setiap pergeseran politik masih harus melewati pintu perbatasan yang diatur orang lain.
Jika harga dukungan tanpa syarat benar-benar telah naik, siapa yang akan memastikan kenaikan itu dibayar dengan pintu yang terbuka bagi tenda, obat, dan bahan bakar, dan bukan hanya dengan kursi yang berpindah?


