spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Sunday, March 1, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Kenapa Trump memutuskan untuk membunuh Ali Khamenei?

ANALISIS – Kenapa Trump memutuskan untuk membunuh Ali Khamenei?

Operasi militer yang menarget sistem kepemimpinan Iran pada Sabtu kemarin menandai perubahan dramatis dalam tingkat toleransi risiko Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam rentang beberapa bulan terakhir, Trump memperluas batasan yang sebelumnya ia tetapkan untuk menghadapi rezim di Teheran, melampaui “garis‑garis perlindungan” yang selama ini dipegangnya.

Menurut laporan Associated Press, Trump bersama dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyetujui sebuah rencana operasi yang mencakup serangkaian serangan terhadap jajaran pemimpin tertinggi Iran — termasuk Sang Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei (86 tahun).

Dalam unggahan di media sosial, Trump menyebut operasi tersebut sebagai “satu‑satunya peluang terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka.” Ia menegaskan bahwa Khamenei dan para pemimpin lain “gagal mengelabui sistem intelijen dan pelacakan canggih kami.”

Posisi ini menunjukkan kemunduran dari sikap Trump pada Juni lalu, ketika dia menetapkan “garis merah tebal” dengan menolak rencana Israel untuk membunuh Khamenei. Saat itu, Trump hanya menyetujui serangan terhadap tiga fasilitas nuklir menggunakan pembom B‑2, dengan alasan kekhawatiran akan “mengguncang stabilitas kawasan.”

“Kisah di Balik Habisnya Kesabaran AS”

Associated Press mengutip pejabat pemerintahan AS yang berbicara tanpa menyebut nama, mengatakan bahwa Washington telah menawarkan kepada Iran opsi untuk program nuklir yang damai — termasuk suplai bahan bakar nuklir gratis selamanya. Namun, menurut para pejabat itu, Teheran menanggapinya dengan “trik, permainan, dan taktik mengulur waktu.”

Perintah serangan itu keluar hanya dua hari setelah Trump mengirim utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dalam putaran pembicaraan terakhir. Pada saat yang sama, Trump memberi sinyal bahwa kesabarannya telah habis. “Saya tidak senang bahwa mereka tidak bersedia memberi kita apa yang seharusnya kita dapatkan,” ujarnya pada Jumat lalu.

Menghitung Ulang Risiko

Para pengamat, termasuk Aaron David Miller — mantan penasihat urusan Timur Tengah yang pernah bekerja di pemerintahan Demokrat dan Republik selama dua dekade — mengatakan keputusan Trump kali ini dibangun di atas serangkaian tindakan sebelumnya yang tak menimbulkan konsekuensi berarti.

Dimulai dari penarikan AS dari kesepakatan nuklir pada 2018, pembunuhan Qassem Soleimani pada 2020, hingga serangan terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu — semuanya tidak menghasilkan dampak serius. Kondisi itu, menurut Miller, memicu Trump untuk mengambil risiko lebih besar.

Analisis lain dari Jonathan Schanzer — mantan pejabat Kementerian Keuangan AS dan kini Direktur Eksekutif Foundation for Defense of Democracies — menilai keberhasilan operasi militer terhadap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beberapa waktu lalu turut mendorong Trump mengambil keputusan berani terhadap Teheran.

Sementara itu, Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, memperingatkan bahwa rezim Iran kemungkinan akan membalas “dengan semua alat yang masih tersedia untuknya” dalam upayanya mempertahankan kekuasaan.

Dalam situasi ini, Wakil Presiden AS, J.D. Vance, mencoba menenangkan publik domestik. Ia mengatakan kepada The Washington Post bahwa peluang terjebak dalam “perang tanpa akhir di Timur Tengah” sangat kecil.

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler