Iran merupakan sekutu penting bagi dua kekuatan nuklir dunia, dengan memasok drone ke Rusia dan minyak ke China. Namun, para analis mengatakan kepada AFP bahwa kedua negara adidaya tersebut kemungkinan hanya akan memberikan dukungan diplomatik dan ekonomi kepada Teheran, guna menghindari konfrontasi langsung dengan Washington.
“China dan Rusia tidak ingin berhadap-hadapan secara langsung dengan Amerika Serikat soal Iran,” kata Ellie Geranmayeh, pakar kebijakan senior di lembaga pemikir European Council on Foreign Relations.
Ia mencatat bahwa Teheran, meskipun telah berupaya keras selama puluhan tahun, gagal membangun aliansi formal dengan Moskow dan Beijing.
Jika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran, “baik China maupun Rusia akan memprioritaskan hubungan bilateral mereka dengan Washington,” kata Geranmayeh.
China harus menjaga pendekatan kembali yang “rumit dan sensitif” dengan pemerintahan Trump, sementara Rusia ingin mempertahankan keterlibatan AS dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina.
“Mereka berdua memiliki prioritas yang jauh lebih tinggi daripada Iran.”
Ukraina lebih penting daripada Iran
Meskipun memiliki hubungan yang erat, “perjanjian Rusia–Iran tidak mencakup dukungan militer” — hanya bantuan politik, diplomatik, dan ekonomi, kata analis Rusia Sergei Markov kepada AFP.
Alexander Gabuev, Direktur Carnegie Russia Eurasia Centre, mengatakan Moskow akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan “untuk menjaga rezim tetap bertahan”.
Namun, “opsi Rusia sangat terbatas,” tambahnya.
Menghadapi krisis ekonominya sendiri, “Rusia tidak dapat menjadi pasar besar bagi produk Iran” dan juga tidak mampu memberikan “pinjaman besar-besaran”, kata Gabuev.
Nikita Smagin, spesialis hubungan Rusia–Iran, mengatakan bahwa jika AS melancarkan serangan, Rusia hampir tidak bisa berbuat apa-apa.
“Mereka tidak ingin mengambil risiko konfrontasi militer dengan kekuatan besar lain seperti AS — tetapi pada saat yang sama, mereka siap mengirimkan persenjataan ke Iran,” katanya.
“Menggunakan Iran sebagai alat tawar-menawar adalah hal yang lazim bagi Rusia,” kata Smagin, merujuk pada strategi jangka panjang Moskow, di saat Rusia juga sedang bernegosiasi dengan Washington mengenai Ukraina.
Markov sependapat. “Krisis Ukraina jauh lebih penting bagi Rusia dibandingkan krisis Iran,” ujarnya.
Sikap menahan diri China
China juga siap membantu Teheran “secara ekonomi, teknologi, militer, dan politik” dalam menghadapi aksi non-militer AS seperti tekanan dagang dan serangan siber, kata Hua Po, pengamat politik independen yang berbasis di Beijing, kepada AFP.
Jika AS melancarkan serangan, China “akan memperkuat hubungan ekonominya dengan Iran dan membantu mempersenjatai negara itu untuk berkontribusi dalam menyeret Amerika Serikat ke dalam perang yang berlarut-larut di Timur Tengah”, tambahnya.
Namun sejauh ini, China bersikap hati-hati dan menyampaikan pandangannya “dengan penuh kehati-hatian”, sambil mempertimbangkan kepentingan minyak dan stabilitas kawasan, kata peneliti hubungan Iran–China Theo Nencini dari Sciences Po Grenoble.
“China diuntungkan oleh Iran yang melemah, karena hal itu memungkinkan Beijing mendapatkan minyak murah… serta memperoleh mitra geopolitik yang signifikan,” katanya.
Namun, ia menambahkan: “Saya sulit membayangkan China terlibat dalam konfrontasi langsung dengan Amerika atas Iran.”
Beijing kemungkinan akan mengeluarkan kecaman, tetapi tidak akan melakukan pembalasan, katanya.
Hua Po mengatakan krisis Iran kecil kemungkinannya berdampak besar pada hubungan China–AS secara keseluruhan.
“Masalah Iran bukan inti dari hubungan kedua negara,” ujarnya.
“Keduanya juga tidak akan memutuskan hubungan satu sama lain hanya karena Iran.”

