spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Monday, March 2, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeAnalisis dan OpiniANALISIS - Serangan Iran hantam fasilitas publik, negara Teluk hadapi dilema

ANALISIS – Serangan Iran hantam fasilitas publik, negara Teluk hadapi dilema

LANGIT di atas Doha, Dubai, dan Manama mendadak koyak akhir pekan lalu. Saat rudal-rudal Iran menghujam, yang hancur bukan sekadar beton dan kaca; citra “oase stabilitas” yang selama ini dipoles apik oleh negara-negara Teluk ikut runtuh. Zona nyaman yang selama ini dianggap kedap dari bara api konflik Timur Tengah itu, kini tak lagi aman.

Bagi para penguasa di kawasan itu, pilihannya serba salah: membalas serangan Iran berarti risiko dicap sebagai sekutu Israel, sementara diam saja sama artinya dengan membiarkan kota-kota mereka terbakar di depan mata.

“Bagi rakyat dan pemimpin di sini, melihat Manama, Doha, dan Dubai dibom sama janggalnya dengan warga Amerika melihat Charlotte, Seattle, atau Miami dihujani peluru kendali,” ujar Monica Marks, profesor politik Timur Tengah di NYU Abu Dhabi, kepada Al Jazeera.

Serangan ini adalah gema dari operasi gabungan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel yang dimulai Sabtu lalu. Operasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dan sejumlah petinggi militer lainnya itu telah memantik api yang tak terkendali. Situs militer dan pemerintahan di Iran hancur, bahkan sebuah sekolah turut luluh lantak—menewaskan sedikitnya 148 jiwa.

Teheran tak tinggal diam. Rentetan rudal dan drone diluncurkan, membidik aset militer AS dan Israel di sepanjang Teluk. Di Uni Emirat Arab, tiga nyawa melayang dan puluhan lainnya terluka.

Pecahan rudal menghujam gedung-gedung ikonik di Dubai dan Manama, melumpuhkan bandara di Kuwait, dan menyisakan kepul asap yang membubung di atas Doha. Arab Saudi pun tak luput dari bidikan; Riyadh dan wilayah timurnya menjadi sasaran amuk Teheran.

Perang yang dipaksakan hadir

Negara-negara Teluk sebenarnya sudah lama berupaya menahan napas agar tak terseret dalam konfrontasi ini. Selama berminggu-minggu, Oman bahkan sibuk berdiplomasi, menjadi perantara pembicaraan tak langsung antara Washington dan Teheran. Menteri Luar Negeri Badr Albusaidi sempat optimistis bahwa perdamaian “sudah di depan mata” setelah Iran sepakat melunakkan ambisi nuklirnya.

Namun, harapan itu menguap hanya dalam hitungan jam saat rudal AS dan Israel meluncur.

“Negara-negara GCC (Dewan Kerja Sama Teluk) sudah melihat perang ini datang dalam slow motion selama berbulan-bulan. Mereka sudah berupaya sekuat tenaga untuk mengeremnya,” kata Marks.

Baginya, pemimpin Teluk sadar betul: rezim Iran yang terpojok akan “memilih membunuh saudara sendiri ketimbang bunuh diri”—menjadikan tetangga Teluk mereka sebagai sandera daripada menanggung kekalahan sendirian.

Rob Geist Pinfold, dosen di King’s College London, menilai opsi untuk diam kini telah hilang. Ada “konundrum” pelik: membiarkan Iran menyerang berulang kali sama saja dengan menanam benih ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintahnya sendiri.

“Bagaimanapun, pemerintah-pemerintah ini responsif terhadap opini publik,” kata Pinfold. “Mereka ingin terlihat mampu melindungi rakyat, wilayah, dan kedaulatan mereka.

Ia memprediksi, alih-alih sekadar membuka ruang udara bagi jet-jet AS atau Israel, negara Teluk mungkin akan memilih “turun tangan” dengan cara mereka sendiri, mungkin melalui Peninsula Shield Force (PSF). “Mereka tidak ingin terlihat sebagai pion Israel. Mereka ingin tampil sebagai pemimpin, bukan pengikut.

Skenario mimpi buruk

Ketakutan terbesar para pemimpin Teluk kini bukan lagi politik, melainkan infrastruktur vital. Marks menyebutnya sebagai “skenario mimpi buruk”: serangan yang menyasar jaringan listrik dan kilang desalinasi air.

“Tanpa pendingin ruangan dan air bersih, negara-negara Teluk yang gersang ini secara fungsional mustahil dihuni,” tuturnya. “Tanpa infrastruktur energi, mereka tidak akan lagi menguntungkan secara bisnis.

Namun, bagi Pinfold, ancaman yang jauh lebih dalam adalah reputasi. Kerusakan jangka panjang akan menghantam soft power negara-negara Teluk—mengoyak citra mereka sebagai pelabuhan investasi dan pariwisata yang aman di tengah kawasan yang bergolak.

Krisis ini menandai pergeseran drastis dalam dinamika keamanan regional. Bertahun-tahun, negara Teluk lebih khawatir terhadap aktor non-negara seperti Houthi atau Hizbullah. Kini, kalkulasi itu berubah total.

“Kita sedang menyaksikan kembalinya paradigma lama: perang antar-negara (state-on-state warfare),” ujar Pinfold. Ini bukan lagi perang bayangan atau proksi, melainkan eskalasi terbuka yang brutal.

Sebelum perang pecah, beberapa negara Teluk—termasuk UEA—mulai memandang Israel sebagai ancaman stabilitas yang lebih besar ketimbang Iran. Namun, serangan serampangan Iran pekan ini memaksa mereka melakukan kalibrasi ulang atas peta kawan dan lawan.

Kini, saat cakrawala kota-kota yang dulunya berkilauan itu mulai ternoda bekas jelaga rudal, opsi untuk tetap berada di pinggir lapangan tampak kian tipis, hampir tak berbekas.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler