Amerika Serikat dan Iran memulai perundingan terkait program nuklir Teheran pada JumatĀ di Muscat, ibu kota Oman. Dalam pertemuan tersebut, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner bertemu dengan delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Sebelum pertemuan berlangsung, Araghchi lebih dulu bertemu Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al Busaidi di Muscat. Ia menegaskan bahwa Iran menginginkan perundingan yang dilandasi ākesetaraan posisi, saling menghormati, dan kepentingan bersamaā.
Di sisi lain, Kedutaan Besar virtual AS di Iran pada Jumat mengeluarkan peringatan yang mendesak warga negara Amerika Serikat untuk āsegera meninggalkan Iranā.
Sementara itu, stasiun televisi Israel Channel 12 melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada sebuah komite parlemen bahwa āterdapat akumulasi kondisi yang menuju titik kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya rezim Iranā.
Perkembangan ini terjadi di tengah peningkatan kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan. Angkatan laut AS dilaporkan terus memperkuat posisinya, termasuk melalui operasi pengisian logistik kapal induk di Laut Arab.
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) pada Jumat merilis rekaman video yang menunjukkan kapal induk kelas Nimitz, USS Abraham Lincoln, sedang melakukan pengisian ulang logistik di Laut Arab.
āUSS Abraham Lincoln dikerahkan ke wilayah operasi Armada Kelima AS untuk mendukung keamanan maritim dan stabilitas di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS,ā demikian pernyataan Centcom yang menyertai rilis video tersebut.
Sinyal yang Beragam
Meski AS mengeluarkan peringatan bagi warganya dan terus meningkatkan kehadiran militernya, media Israel Haaretz melaporkan bahwa kedua pihak sepakat membatasi pembahasan hanya pada program nuklir Iran. Dengan demikian, AS disebut telah mencabut tuntutan agar perundingan juga mencakup isu rudal balistik Iran.
Menurut laporan tersebut, keputusan itu diambil setelah adanya intervensi dari sejumlah negara kawasan, termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Oman.
Haaretz juga melaporkan bahwa Iran telah memperingatkan kesiapan untuk menghadapi konflik regional jika kerangka negosiasi yang diajukannya tidak diterima.
Menjelang pertemuan, Araghchi menulis di platform X bahwa Iran memasuki jalur diplomasi dengan kewaspadaan penuh.
āIran memasuki diplomasi dengan mata terbuka dan ingatan yang tajam atas peristiwa setahun terakhir. Kami bernegosiasi dengan itikad baik dan tetap teguh pada hak-hak kami,ā tulis Araghchi.
Pada Kamis sebelumnya, juru bicara Angkatan Darat Iran menyatakan bahwa militer negaranya siap menghadapi konflik jika hal itu menjadi pilihan Amerika Serikat.
Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia mengatakan, āKami selalu menyatakan kesiapan untuk menghadapi segala opsi dan skenario yang dipertimbangkan musuh. Jika musuh memilih opsi perang, kami siap menghadapi segala kemungkinan dalam kondisi perang.ā
Ia menambahkan bahwa Presiden AS Donald Trump āharus memilih antara kompromi atau perangā. Menurutnya, jika perang pecah, ācakupannya akan meluas ke seluruh kawasan dan seluruh pangkalan AS, dari wilayah pendudukan hingga Teluk Persia dan Laut Omanā.
Presiden Trump sendiri sebelumnya memperingatkan bahwa āhal-hal buruk kemungkinan akan terjadiā apabila kesepakatan tidak dapat dicapai.

