Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, mengatakan bahwa negara-negara Teluk mulai mengambil sikap lebih ofensif di tengah perang antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam konferensi pers pada Jumat, Hegseth menyatakan bahwa konflik tersebut berjalan menguntungkan bagi Washington.
“Yang semakin melebar bukan konflik, tetapi keunggulan kami. Belum lagi sekutu kami di kawasan Teluk yang kini semakin meningkatkan peran mereka dan mulai bersikap ofensif,” ujar Hegseth.
Namun, hingga saat ini negara-negara Teluk belum menyatakan secara resmi bahwa mereka bergabung dalam perang Amerika Serikat melawan Iran. Pernyataan Hegseth tersebut pun memicu berbagai reaksi dan tanda tanya.
Pada kesempatan yang sama, Hegseth juga mengatakan bahwa Selat Hormuz masih terbuka untuk pelayaran, meskipun Iran dilaporkan menembaki sejumlah kapal yang melintas.
Negara Teluk Khawatir Jadi Sasaran Iran
Sebelumnya, negara-negara Teluk diketahui telah melobi Presiden AS Donald Trump agar tidak melancarkan serangan terhadap Iran. Mereka khawatir akan menjadi sasaran balasan dari Teheran.
Serangan Iran dilaporkan telah mengenai beberapa kota di kawasan Teluk, termasuk Doha di Qatar, Dubai di Uni Emirat Arab, serta Manama di Bahrain. Para analis menilai serangan tersebut masih berpotensi meningkat jika Iran memutuskan untuk memperluas operasi militernya.
Sementara itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan ini mengesahkan resolusi yang disponsori oleh Gulf Cooperation Council yang mengecam serangan Iran terhadap negara-negara di kawasan tersebut.
Penasihat diplomatik Uni Emirat Arab, Anwar Gargash, mengatakan setelah pemungutan suara bahwa isolasi internasional terhadap Iran kini menjadi kenyataan.
Kritik terhadap Amerika Serikat
Meski mengecam serangan Iran, negara-negara Teluk juga dikabarkan kecewa terhadap Amerika Serikat karena dinilai kurang menanggapi kekhawatiran keamanan mereka.
Menurut laporan media regional, Washington belum mampu memenuhi seluruh permintaan negara-negara Teluk untuk memasok kembali sistem pencegat pertahanan udara yang digunakan untuk menghadapi serangan rudal dan drone.
Sejumlah analis juga menilai keberadaan pangkalan militer AS di kawasan Teluk—yang sebagian besar dibangun setelah Perang Teluk 1991—telah membuat negara-negara tersebut menjadi target potensial bagi Iran.
Dampak Ekonomi dan Energi
Situasi semakin memburuk setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur laut strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam dunia.
Akibat serangan tersebut, sejumlah negara seperti Kuwait, Irak, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi terpaksa mengurangi produksi energi, bahkan dalam beberapa kasus menyatakan kondisi force majeure.
Setidaknya enam kapal komersial dilaporkan diserang di kawasan Teluk dalam sepekan terakhir.
Laporan Financial Times menyebutkan bahwa negara-negara Teluk secara kolektif telah kehilangan sekitar 15,1 miliar dollar AS pendapatan energi sejak dimulainya perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, berdasarkan data perusahaan analisis komoditas Kpler.
Negara-negara seperti Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kuwait termasuk yang paling terdampak, sementara Arab Saudi juga dilaporkan mengalami serangan.
Pernyataan Hegseth dinilai berpotensi membuat negara-negara Teluk semakin menjadi sasaran Iran. Teheran sebelumnya telah memperingatkan bahwa mereka akan merespons secara keras negara mana pun yang bergabung dalam perang Amerika Serikat dan Israel.
Meski sejumlah serangan Iran menyasar bangunan komersial di kawasan Teluk, para analis menilai Iran juga menunjukkan kemampuan militer yang cukup canggih untuk menargetkan pangkalan militer AS serta infrastruktur energi di wilayah tersebut.


