Friday, February 6, 2026
HomeBeritaWAWANCARA - Bachtiar Nasir soroti risiko dana Rp17 Triliun Indonesia di Board...

WAWANCARA – Bachtiar Nasir soroti risiko dana Rp17 Triliun Indonesia di Board of Peace

Ulama nasional aktivis kemerdekaan Palestina sekaligus Pimpinan Perkumpulan AQL, KH Bachtiar Nasir, menyampaikan pandangannya terkait rencana pengalokasian dana sekitar Rp17 triliun (setara ±USD 1 miliar) sehubungan dengan keterlibatan Indonesia dalam inisiatif internasional Board of Peace.

Berikut petikan pernyataannya dalam wawancara:

Bagaimana pandangan Anda soal dana Rp17 triliun tersebut?

“Aduh, miris ya dengan uang Rp17 triliun ini keluar ke mereka. Iya, kalau itu betul-betul digunakan untuk membangun Gaza dan tepat guna. Nah, sekarang keputusannya di tangan Trump. Dia mau pakai apa uang itu?”

Seberapa besar nilai Rp17 triliun bagi Indonesia?

“Rp17 triliun itu bukan angka kecil. Itu setara, misalnya, dengan puluhan ribu unit rumah layak huni, ribuan sekolah atau fasilitas kesehatan, atau anggaran pemulihan ekonomi untuk wilayah terdampak bencana besar. Bagi negara petrodolar mungkin kecil, tapi bagi Indonesia ini sangat signifikan.”

Bagaimana konteks kebutuhan di Gaza sendiri?

“Kita tahu dari berbagai laporan internasional, kerusakan infrastruktur Gaza mencapai puluhan miliar dolar. Rumah sakit, air bersih, listrik, dan perumahan hancur. Pertanyaannya, apakah Rp17 triliun itu benar-benar langsung menyentuh kebutuhan paling mendesak, atau habis di jalur politik dan administrasi internasional?”

Apa risiko dari mekanisme internasional seperti Board of Peace?

“Pengalaman global menunjukkan, banyak dana kemanusiaan multinasional tersendat di birokrasi, politik veto, dan kepentingan negara besar. Dana besar tidak otomatis berarti dampak besar. Jangan sampai uang keluar, tapi hasilnya tidak terlihat di lapangan.”

Alternatif konkret yang Anda tawarkan?

“Kenapa tidak dipakai langsung oleh Indonesia ke lokasi? Satu miliar dolarnya itu disalurkan lewat Baznas, misalnya. Baznas sudah berpengalaman mengelola dana triliunan rupiah, punya jaringan kemanusiaan, dan bisa fokus membangun infrastruktur dasar: rumah sakit lapangan, hunian sementara, air bersih, dan sekolah.”

Bagaimana dengan klaim pengaruh Amerika Serikat terhadap Israel?

“Katanya Trump punya pengaruh besar ke Netanyahu. Tapi realitasnya, kita lihat sendiri, tekanan internasional sering diabaikan. Serangan masih terjadi. Kalau begitu, orang akan bertanya: ‘Ini Board of Peace atau Board of War?’”

Apakah ada tekanan geopolitik terhadap Indonesia?

“Sangat mungkin. Indonesia ini negara Muslim terbesar. Ada ekspektasi besar dari Barat dan dunia Islam. Rp17 triliun itu seperti tiket masuk, simbol kesediaan Indonesia bergabung. Bahkan ada kesan: daripada kehilangan ratusan triliun karena sanksi atau embargo ekonomi, lebih baik keluar Rp17 triliun di awal. Tapi ini tetap spekulasi besar.”

Apa dampaknya bagi kepentingan dalam negeri?

“Rakyat kita masih butuh dana besar. Pemulihan pascabencana, khususnya di wilayah Sumatera, butuh anggaran nyata. Kalau Board of Peace gagal atau bubar di tengah jalan, kerugiannya bukan cuma finansial, tapi juga kepercayaan publik.”

Pesan penutup Anda?

“Solidaritas kemanusiaan itu wajib. Tapi harus cerdas, terukur, dan tepat sasaran. Jangan sampai niat baik berubah jadi kerugian besar bagi bangsa sendiri.”

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler