Pernyataan mengenai pelucutan senjata perlawanan Palestina mencerminkan semata-mata kepentingan elektoral, menegaskan bahwa Hamas tidak pernah membahas atau menyetujui formula apa pun terkait penyerahan atau pelucutan senjatanya.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Biro Politik Hamas, Moussa Abu Marzouk, dalam program Al-Masa’iyah di Al Jazeera Mubasher. Ia menyatakan bahwa isu senjata terus diangkat oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, Abu Marzouk mempertanyakan konsistensi Israel dengan mengatakan, “Jika senjata itu benar-benar ada di Gaza, mengapa Israel justru terus mempersenjatai kelompok-kelompok Palestina ilegal?”
Ia menambahkan bahwa setiap bentuk intervensi eksternal untuk melucuti senjata bukan merupakan tugas pasukan stabilisasi internasional.
Terkait rencana Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Abu Marzouk menjelaskan bahwa ketentuan mengenai senjata disampaikan dalam berbagai versi, mulai dari pembekuan hingga pelucutan, dan hingga kini belum pernah diajukan secara resmi di meja perundingan. Ia menegaskan bahwa prioritas Hamas adalah menghentikan perang dan melindungi warga sipil, bukan menyerahkan senjata.
Mengenai rekonstruksi Gaza, Abu Marzouk menyatakan bahwa Hamas akan memfasilitasi kerja komite administratif Palestina di Jalur Gaza dengan tetap menjaga keamanan. Ia mengungkapkan adanya keberatan terhadap beberapa anggota komite karena latar belakang keamanan mereka. Ia juga menyebutkan bahwa Israel masih mengendalikan aspek keamanan di wilayah tertentu, namun memperkirakan penarikan pasukan Israel di masa mendatang seiring penerapan rencana stabilisasi Amerika Serikat.
Menanggapi pernyataan Israel terkait kemungkinan keterlibatan Qatar dan Turki dalam pasukan stabilisasi, Abu Marzouk mengatakan bahwa persoalan utama terletak pada Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan bahwa Turki merupakan satu-satunya negara yang secara terbuka menyatakan kesediaan untuk berpartisipasi.
Abu Marzouk juga menyinggung pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat ke arah Iran, yang menurutnya lebih bersifat pernyataan politik untuk memberikan tekanan. Ia menegaskan bahwa keputusan Iran bersifat independen dan Teheran akan terus menghadapi tekanan eksternal.
Di akhir pernyataannya, Abu Marzouk menyerukan kepada Otoritas Palestina dan seluruh faksi perlawanan untuk memperkuat persatuan nasional. Ia menilai bahwa harapan utama harus diletakkan pada rakyat Palestina, persatuan mereka, dan masa depan bangsa, bukan pada sikap internasional yang berubah-ubah atau janji-janji eksternal.

