Serangan militer Israel ke Jalur Gaza terus berlangsung meski kesepakatan gencatan senjata telah diteken pada Oktober lalu dan berdirinya Board of Peace oleh Presiden AS Donald Trump. Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku, lebih dari 600 warga Palestina dilaporkan tewas.
Kementerian Kesehatan Palestina menyebutkan sedikitnya dua orang tewas dalam 24 jam terakhir. Media lokal melaporkan militer Israel melancarkan tujuh serangan udara pada Ahad dini hari, terutama menyasar Kota Rafah di selatan serta wilayah timur Gaza City.
Tembakan artileri juga dilaporkan terjadi di berbagai titik Jalur Gaza, terutama di sekitar lokasi pengerahan kendaraan militer Israel. Pasukan Israel disebut menembaki warga sipil di wilayah utara, menewaskan seorang perempuan Palestina berusia 27 tahun di Beit Lahia. Kantor berita lokal Wafa mengidentifikasi korban sebagai Basma Aram Banat.
Selain korban jiwa, penghancuran infrastruktur juga dilaporkan terjadi di kawasan Zeitoun, timur Gaza City.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, otoritas Palestina mencatat sedikitnya 1.700 pelanggaran oleh Israel. Pelanggaran itu mencakup pembatasan bantuan kemanusiaan, penolakan izin perawatan medis dan evakuasi ke luar negeri, serta serangan harian di berbagai wilayah.
Dalam periode tersebut, sebanyak 614 warga Palestina tewas dan 1.643 lainnya luka-luka.
Pada Ahad pagi, seorang bayi dilaporkan meninggal akibat komplikasi pembesaran hati. Otoritas setempat menyebut bayi bernama Nidal Abu Rabi itu tidak diizinkan mendapatkan perawatan medis di luar negeri di tengah runtuhnya sistem kesehatan Gaza.
Kondisi ini terjadi meski perlintasan Rafah kembali dibuka pada awal Februari, setelah sebelumnya ditutup sejak Mei 2024. Pembukaan dilakukan dengan pembatasan dan pengawasan ketat dari pihak Israel.
Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut Israel baru memenuhi 33 persen dari total permohonan yang diajukan. Dalam skema baru, 50 warga Palestina diperbolehkan masuk ke Gaza dari Mesir setiap hari, sementara sekitar 150 orang diizinkan keluar dari wilayah tersebut.
Sebagian besar pemohon izin keluar merupakan pasien yang membutuhkan perawatan medis di luar negeri. Otoritas Gaza mencatat lebih dari 9.300 warga yang terluka dan sakit meninggal sejak Oktober 2023 akibat runtuhnya layanan kesehatan dan pembatasan evakuasi medis.
Secara keseluruhan, lebih dari 72 ribu orang dilaporkan tewas dalam dua tahun terakhir. Hampir 90 persen infrastruktur di Jalur Gaza disebut telah hancur.


