Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyatakan kesiapan mengirim 1.000 personel ke Gaza paling cepat pada April 2026 sebagai bagian dari Pasukan Stabilisasi Internasional yang dimandatkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Juru bicara TNI pada Senin mengatakan hingga 8.000 prajurit disiapkan untuk diberangkatkan pada Juni. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
“Jadwal keberangkatan sepenuhnya bergantung pada keputusan politik negara dan mekanisme internasional yang berlaku,” kata juru bicara TNI dalam pesan tertulis kepada kantor berita Reuters.
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak sebelumnya memperkirakan 5.000 hingga 8.000 personel dapat dikerahkan, dengan jumlah final yang masih dalam tahap negosiasi.
Kementerian Luar Negeri Indonesia pada Sabtu menegaskan partisipasi militer Indonesia di Gaza dalam kerangka rencana perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak boleh ditafsirkan sebagai normalisasi hubungan politik dengan Israel.
“Indonesia secara konsisten menolak segala bentuk perubahan demografis atau pemindahan paksa rakyat Palestina,” demikian pernyataan kementerian.
Kementerian juga menekankan bahwa pengerahan pasukan hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Otoritas Palestina. Mandat pasukan Indonesia bersifat non-kombatan dan kemanusiaan.
“Prajurit Indonesia tidak akan terlibat dalam operasi tempur atau tindakan yang mengarah pada konfrontasi langsung dengan kelompok bersenjata mana pun,” kata pernyataan itu. Pasukan Indonesia juga tidak memiliki mandat untuk melakukan demiliterisasi pihak mana pun.
Namun, mandat Pasukan Stabilisasi Internasional mencakup upaya memastikan proses demiliterisasi di Jalur Gaza dan pelucutan permanen senjata kelompok bersenjata non-negara. Resolusi tersebut mengizinkan penggunaan “segala langkah yang diperlukan” untuk menjalankan mandatnya.
Pekan lalu, pemerintah memastikan Presiden Prabowo akan menghadiri pertemuan perdana para pemimpin dalam forum “Board of Peace” pada 19 Februari. Forum tersebut dilaporkan menghimpun komitmen dana hingga 5 miliar dolar AS untuk membangun kembali Gaza yang hancur akibat perang.
Dalam forum itu, Prabowo disebut akan mendorong perlindungan terhadap rakyat Palestina serta mengadvokasi perdamaian berkelanjutan berbasis solusi dua negara, yakni pembentukan negara Palestina merdeka yang hidup berdampingan dengan Israel.
Selain itu, Prabowo dijadwalkan menandatangani perjanjian tarif dengan Amerika Serikat dalam kunjungan tersebut. Ia juga menyatakan akan membahas laporan mengenai biaya keanggotaan forum yang disebut mencapai 1 miliar dolar AS.
“Kami hanya mempersiapkan diri jika kesepakatan tercapai dan kami harus mengirim pasukan penjaga perdamaian,” ujar Prabowo kepada wartawan.
Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar dalam misi penjaga perdamaian PBB, dengan lebih dari 2.700 personel ditempatkan di berbagai misi di Afrika dan Timur Tengah. Penugasan terbesar Indonesia saat ini berada dalam Misi Pasukan Sementara PBB di Lebanon.
Dukungan publik Indonesia terhadap Palestina tergolong kuat. Aksi massa menentang serangan Israel di Gaza kerap digelar, termasuk ribuan orang yang berkumpul di Monumen Nasional Jakarta pada 3 Agustus lalu.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia secara konsisten menyerukan penghentian kekerasan di Gaza dan mendorong solusi dua negara melalui berbagai forum internasional. Pemerintah juga menyalurkan bantuan kemanusiaan, dukungan medis, serta dukungan diplomatik bagi institusi Palestina.
Pada November lalu, Menteri Pertahanan mengumumkan TNI telah melatih 20.000 prajurit untuk mendukung layanan kesehatan dan pembangunan infrastruktur di Gaza. Indonesia juga mengirimkan 10.000 ton beras pada Agustus tahun lalu serta meluncurkan program budidaya jangka panjang di Sumatra dan Kalimantan untuk mendukung ketahanan pangan Palestina.


