Presiden Suriah, Ahmad Al-Sharaa, pada 28 Maret 2025, mengeluarkan keputusan untuk membentuk Dewan Fatwa Tertinggi di Suriah. Dewan ini bertugas mengeluarkan fatwa terkait permasalahan baru, kejadian luar biasa, serta isu-isu umum.
Dewan ini dipimpin oleh Syekh Osama Al-Rifai, yang ditunjuk sebagai Mufti Agung Republik Arab Suriah, mengembalikan posisi yang sebelumnya dihapus oleh rezim Bashar Al-Assad pada tahun 2021.
Dewan ini terdiri dari 14 ulama terkemuka di Suriah, yaitu: Ala’ Al-Din Al-Qasir, Khairullah Talib, Anas Airot, Anas Al-Mousa, Ibrahim Shasho, Naeem Arqassousi, Muhammad Abu Al-Khair Al-Shukri, Muhammad Ratib Al-Nabulsi, Abdul Fattah Al-Bazm, Muhammad Wahbi Suleiman, Mazhar Al-Wais, Abdul Rahim Atoon, Suhail Junaid, dan Ibrahim Al-Hassoun.
Tujuan pembentukan dewan ini adalah untuk menyatukan otoritas keagamaan di Suriah, memperkuat prinsip moderasi dan keseimbangan dalam Islam, serta memberikan pandangan hukum Islam dalam berbagai persoalan umum.
Selain itu, dewan ini juga bertugas untuk menunjuk para mufti serta komite fatwa di berbagai provinsi. Menentukan tugas mereka, serta mengawasi rumah-rumah fatwa dan memberikan dukungan serta konsultasi.
Dalam konferensi pengumuman dewan ini, Presiden Al-Sharaa menekankan pentingnya mengembalikan posisi Mufti Agung setelah sebelumnya dihapus oleh rezim terdahulu.
Ia menegaskan bahwa fatwa harus menjadi tanggung jawab kolektif melalui dewan ilmiah yang berbasis institusional.
Dewan ini bertugas untuk memastikan ketelitian dalam fatwa, mengarahkan wacana keagamaan menuju moderasi. Serta menyelesaikan isu-isu kontroversial demi menjaga persatuan masyarakat.
Keputusan presiden juga menetapkan bahwa keputusan dewan akan diambil berdasarkan suara mayoritas. Jika terjadi suara yang seimbang, maka keputusan akhir akan ditentukan oleh ketua dewan.
Mufti Agung bertanggung jawab untuk mengawasi langsung kinerja dewan, serta melaksanakan keputusan dan rekomendasinya.
Mufti Agung Suriah: Osama Al-Rifai
Osama Al-Rifai adalah Ketua Dewan Islam Suriah dan Asosiasi Ulama Syam. Ia lahir di Damaskus pada tahun 1944 dan merupakan putra sulung dari Syekh Abdul Karim Al-Rifai. Ia memperoleh pendidikan keislaman dari ayahnya serta sejumlah ulama besar di Syam.
Lulus dari Fakultas Sastra Universitas Damaskus pada tahun 1971, ia kemudian menjadi khatib dan pengajar di Masjid Syekh Abdul Karim Al-Rifai di Kafr Sousa. Sejak tahun 1980-an, ia menghadapi tekanan dan pengejaran dari rezim Suriah karena sikapnya yang oposisi.
Akibatnya, ia pergi ke Arab Saudi sebelum kembali ke Damaskus pada tahun 1993. Namun, karena dukungannya terhadap revolusi Suriah sejak 2011, ia kemudian bermigrasi ke Turki.
Pada tahun 2014, ia turut mendirikan Dewan Islam Suriah dan terpilih sebagai ketuanya pada tahun 2021.
Ia dikenal sebagai ulama yang menolak paham takfiri, Al-Qaeda, dan ISIS, serta menentang sektarianisme yang dituduhnya dipicu oleh Iran.
Pada tahun 2011, ia mengalami upaya penyerangan oleh aparat keamanan Suriah saat melaksanakan shalat tahajud, yang mengakibatkan ia harus dirawat di rumah sakit.
Setelah menetap di Istanbul, ia terus aktif dalam kegiatan ilmiah dan dakwah. Setelah jatuhnya rezim Bashar Al-Assad, Presiden Ahmad Al-Sharaa menunjuknya sebagai Mufti Agung Suriah sebagai bagian dari rencana untuk membangun kembali otoritas keagamaan serta mengembalikan kedudukan institusi fatwa di negara tersebut.
Anggota Dewan Fatwa
Muhammad Ratib Al-Nabulsi
Seorang dai Islam Suriah dan salah satu ulama terkemuka di dunia Islam saat ini. Lahir di Damaskus pada 29 Januari 1938, ia dikenal karena perhatiannya terhadap reformasi individu dan sosial.
Ia juga terkenal melalui ceramah dan program radio serta televisinya yang berfokus pada penyucian jiwa, nasihat agama, dan kesadaran intelektual.
Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang bahasa Arab dari Universitas Damaskus pada tahun 1964, serta diploma pendidikan pada tahun 1966. Ia juga meraih gelar magister dari Universitas Lyon dan doktor dalam bidang pendidikan dari Universitas Dublin pada tahun 1999.
Selain itu, ia memiliki sejumlah ijazah dalam ilmu syariah serta gelar doktor kehormatan dari Universitas Amerika Terbuka di Amman pada tahun 2015.
Al-Nabulsi mengajar di Universitas Damaskus selama lebih dari 30 tahun serta memberikan kuliah di Universitas Al-Azhar cabang Damaskus, Universitas Omdurman, dan Universitas Islam Tripoli.
Ia juga menjadi editor majalah Nahj Al-Islam yang diterbitkan oleh Kementerian Wakaf Suriah serta menjabat sebagai ketua Asosiasi Hak Anak di Suriah.
Ia memulai aktivitas dakwahnya pada tahun 1974 dan memberikan ceramah di berbagai masjid besar di Damaskus, termasuk Masjid Umayyah.
Karena sikap oposisi terhadap rezim Suriah, ia meninggalkan negaranya dan kembali ke Suriah pada Desember 2024 setelah 14 tahun dalam pengasingan.
Ia pernah mewakili Suriah dalam berbagai konferensi internasional di dunia Arab dan Barat serta menerima undangan dari puluhan negara untuk menyampaikan ceramah pemikiran Islam. Program-programnya yang terkenal antara lain Asmāul al-Husnā, aAl-Fiqḥ al-Khadhorī (Fiqh Peradaban), dan Subul al-Wuṣūl wa ‘Alāmāt al-Qubūl (Jalan Menuju Penerimaan Allah).
Beberapa bukunya yang terkenal meliputi: Mausū’ah Asmāu al-Allāh al-Husnā (Ensiklopedia Asma’ul Husna), Qawānīn Fī al-Qur’ān al-Karīm, (Hukum dalam Al-Qur’an), Muqawwamāt al-Taklīf (Prinsip Kewajiban dalam Islam), Manḥaj al-Tāibīn (Metode Orang-Orang yang Bertobat).
Anas Abdul Rahman Airot
Lahir pada 19 Maret 1971 di distrik Ras Al-Naba’ di kota Baniyas, Provinsi Tartus, ia adalah salah satu tokoh agama dan revolusioner terkemuka di Suriah.
Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang syariah dari Universitas Damaskus serta gelar magister dan doktor dalam ekonomi Islam dari Lebanon.
Ia menjabat sebagai imam dan khatib di Masjid Ar-Rahman di Baniyas, yang pada tahun 2011 dan 2012 menjadi pusat utama pergerakan revolusi di kota tersebut.
Namanya mulai dikenal sejak awal revolusi Suriah, ketika ia membacakan tuntutan para demonstran dari balkon kantor Keamanan Negara di Baniyas setelah demonstrasi pada “Jumat Martabat”.
Ia kemudian ditangkap pada 8 Mei 2011 sebelum akhirnya menjadi ketua Dewan Kepemimpinan Revolusi di kota tersebut.
Airot bergabung dengan Dewan Nasional Suriah sejak awal pembentukannya, kemudian dengan Koalisi Nasional untuk Pasukan Revolusi dan Oposisi Suriah.
Ia juga menjadi salah satu pemimpin dalam Front Pembebasan Islam Suriah dan anggota Dewan Ulama Suriah.
Pada tahun 2017, ia berpartisipasi dalam mendirikan Inisiatif Akademisi, yang menjadi cikal bakal terbentuknya Pemerintahan Penyelamatan Suriah.
Dalam pemerintahan tersebut, ia memegang beberapa posisi, termasuk sebagai Ketua Pengadilan Banding, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum di Universitas Idlib, serta anggota Dewan Fatwa Tertinggi pada tahun 2019.
Pada tahun 2018, ia selamat dari upaya pembunuhan yang dilakukan oleh ISIS di Idlib.
Setelah kejatuhan rezim Assad, ia diangkat sebagai Gubernur Tartus pada 17 Desember 2024. Kemudian, pada 9 Maret 2025, ia menjadi anggota Komite Tinggi untuk Menjaga Perdamaian Sosial menyusul peristiwa di wilayah pesisir Suriah.
Ibrahim Muhammad Shasho
Lahir di kota Aleppo, ia adalah tokoh agama dan hukum yang menonjol. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Kehakiman dalam dua kabinet pertama Pemerintahan Penyelamatan Suriah (2017 dan 2018) serta Menteri Wakaf, Dakwah, dan Bimbingan dalam pemerintahan ketiga (2019).
Ia lulus dari Fakultas Syariah di Universitas Damaskus pada tahun 2000 dan memperoleh gelar magister serta doktor dalam bidang transaksi keuangan dan perbankan Islam pada tahun 2011.
Kariernya dimulai sebagai guru di sekolah-sekolah di Aleppo, kemudian menjadi dosen di Universitas Aleppo sebelum akhirnya beralih ke bidang peradilan dalam revolusi Suriah.
Sejak awal revolusi, ia aktif dalam bidang hukum syariah dan menjadi hakim transaksi di Mahkamah Kasasi, kemudian menjabat sebagai ketua kantor hukum di Dewan Syariah Aleppo pada tahun 2014 serta ketua Pengadilan Aleppo pada tahun 2016.
Ia juga menjabat sebagai hakim syariah di badan peradilan Harakah Ahrar al-Sham, tetapi mengundurkan diri pada tahun 2017 sebagai protes terhadap penerapan Hukum Arab Bersatu.
Ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah di Universitas Idlib dari tahun 2015 hingga 2017, lalu kembali setelah menyelesaikan tugas kementeriannya.
Namun, ia mengundurkan diri dari jabatan dekan pada September 2022 setelah adanya protes mahasiswa terkait dengan buruknya pengelolaan administrasi.
Pada 4 Januari 2021, ia menjadi target upaya pembunuhan di depan Masjid Al-Furqan di Idlib. Ia mengalami luka serius dan dibawa ke Turki untuk perawatan medis.
Muhammad Na’im Arqasusy
Lahir di Damaskus pada tahun 1951, ia dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka di Syam dalam bidang Al-Qur’an, hadits, dan fiqh mazhab Syafi’i.
Ia juga merupakan salah satu dai dan khatib terkenal di Suriah. Ia belajar di bawah bimbingan Syaikh Abdul Karim Al-Rifai dan memperoleh gelar dalam sastra Arab dari Universitas Damaskus pada tahun 1976.
Ia memperoleh ijazah dalam Qiraat Asyrah dari Syaikh Muhyiddin Al-Kurdi dan membaca Shahih Al-Bukhari serta Shahih Muslim di hadapan Syaikh Habibullah Al-Mazahiri, yang memberinya ijazah dalam kedua kitab tersebut.
Selama lebih dari 30 tahun, ia menjadi khatib dan pengajar di Masjid Al-Iman di Damaskus, yang menjadi pusat gerakan keilmuan dan dakwah yang signifikan.
Ia mengadakan kajian mingguan yang dikenal sebagai Majelis Ash-Shafa’ setelah shalat subuh setiap hari Jumat, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi ajang pembinaan spiritual serta ilmiah.
Di bidang akademik, ia memiliki kontribusi besar dalam penyuntingan dan verifikasi warisan keislaman, termasuk: Siyar A’lām al-Nubāla karya Imam Adz-Dzahabi (25 jilid), Musnad Imām Ahmad (45 jilid), Tawdhīh al-Musytabih karya Ibnu Nashir Ad-Din Ad-Dimasyqi (10 jilid), Edisi revisi al-Qāmūs al-Muhīth.
Di antara karya tulisnya adalah Sepuluh Keutamaan Shalat Subuh Berjamaah dan Dzikir Pagi dan Petang. Ia juga merupakan anggota Komite Tertinggi untuk Urusan Al-Qur’an di Kementerian Wakaf Suriah dan anggota koresponden Majma’ al-Lughāh al-Arabiyyah di Damaskus.
Ia dianggap sebagai salah satu ulama dan khatib terkemuka di Syam serta menjadi rujukan keilmuan dan spiritual bagi banyak penuntut ilmu dan dai.
Muhammad Wahbi Sulaiman
Lahir di Damaskus pada tahun 1964, ia adalah tokoh akademik dan ulama terkemuka di Suriah. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi Majma’ Al-Syaikh Ahmad Kiftaro serta Dekan cabang Universitas Bilad Al-Syam di lembaga tersebut. Selain itu, ia juga mengelola departemen penelitian dan studi di Dar Al-Fikr di Damaskus.
Ia memperoleh dua gelar sarjana dalam bidang syariah dan bahasa Arab, serta ijazah dalam bacaan Al-Qur’an riwayat Hafsh dari Syaikh Muhammad Sukkar.
Ia meraih gelar magister dalam studi Islam pada tahun 1993, gelar doktor dalam fiqh perbandingan dari Universitas Islam Omdurman pada tahun 2002, serta gelar profesor pada tahun 2014.
Ia menjadi dosen fiqh Islam dan ushul fiqh di berbagai fakultas syariah serta membimbing puluhan tesis magister dan doktor.
Dari tahun 2010 hingga 2019, ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Pascasarjana di Universitas Omdurman cabang Damaskus, kemudian sejak tahun 2011 menjabat sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin di Universitas Bilad Al-Syam.
Ia memiliki kontribusi besar dalam berbagai proyek akademik dan ilmiah, termasuk menjadi pembimbing ilmiah dalam proyek-proyek di Dar Al-Fikr, seperti: Tafsīr al-Munīr karya Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Mu’jam Syams Al-Ulūm.
Selain itu, ia memiliki berbagai penelitian dalam bidang fiqh, studi Al-Qur’an, dan ensiklopedia ilmiah. Ia juga aktif dalam konferensi ilmiah dan dialog internasional di lebih dari 10 negara.
Beberapa karyanya yang terkenal meliputi: al-Mausū’ah al-Qur’āniyyah al-Muyassarah (Ensiklopedia Al-Qur’an yang Mudah Dipahami), Mu’jam Kalimat al-Qur’an al-Karīm (Kamus Kata-Kata dalam Al-Qur’an), Al-Mu’tamad Fī Fiqḥ al-Imām Ahmad, Musykilāt Fī Ṭhorīq al-Nuḥūdz (Problematika dalam Jalan Kebangkitan)
Ia juga turut serta dalam penyuntingan buku klasik seperti Ihya Ulumuddin dan Qashash al-Anbiyā karya Ibnu Katsir, serta Tārīkh Fiqḥ Islāmī.
Saat ini, ia adalah khatib di Masjid Al-Yasin di Damaskus dan dikenal sebagai salah satu suara ilmiah moderat dalam pemikiran Islam kontemporer.
Muhammad Abu Al-Khair Shukri
Seorang ulama dan dai asal Suriah, lahir di Damaskus pada tahun 1961. Ia berasal dari keluarga ilmiah terkemuka di kawasan Souq Sarouja. Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang Syariah Islam dari Fakultas Dakwah di Damaskus dan gelar hukum dari Universitas Damaskus.
Selain itu, ia juga meraih gelar “Profesor dalam Advokasi” dari Asosiasi Pengacara Damaskus. Studi pascasarjananya meliputi gelar magister dalam studi Islam dari Universitas Minhaj-ul-Quran di Pakistan dan doktor dalam fiqh serta ushul fiqh dari Institut Dakwah Universitas Beirut.
Ia menimba ilmu agama dari para ulama besar Syam, di antaranya Syaikh Badruddin Al-Hasani dan Syaikh Abdul Karim Al-Rifai.
Ia mengkhususkan diri dalam mengajar fiqh dan ushul fiqh serta mengajar di berbagai institusi keilmuan di Suriah, seperti Institut Syaikh Badruddin Al-Hasani, Institut Syam Al-Ali, dan cabang Universitas Omdurman di Damaskus.
Ia mendirikan institut penghafalan Al-Qur’an di Masjid Imam Syafi’i dan berperan besar dalam melahirkan para penghafal Al-Qur’an serta dai.
Ia menjabat sebagai khatib di Masjid Syafi’i selama lebih dari 20 tahun dan juga pernah menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Umayyah Besar secara bergantian.
Ia turut serta dalam konferensi dan seminar internasional terkait pemikiran Islam, keadilan transisi, dialog antaragama, dan hak-hak anak. Ia juga memberikan ceramah di berbagai negara di dunia Islam, Eropa, dan Amerika.
Beberapa karyanya dalam bidang fiqh, dakwah, dan pemikiran Islam meliputi: al-Itsbāt Bi al-Syaḥādat Baina al-Fiqḥ wa al-Qānūn (Pembuktian dengan Kesaksian antara Fiqh dan Hukum), al-Ṭhufūlah Baina al-Syarī’ah wa al-Tasyrī’āt al-Dauliyyah (Masa Kanak-Kanak antara Syariah dan Perundang-undangan Internasional), al-Nafaqah Fī Qānūn al-Akhwāl al-Syakhsiyyah al-Surī (Nafkah dalam Hukum Keluarga Suriah).
Ia juga merupakan anggota pendiri sejumlah organisasi Islam, termasuk Dewan Islam Suriah, Ikatan Ulama Syam, Asosiasi Kebaikan Syam, dan Asosiasi Hak Anak.
Selain itu, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Suriah untuk Perdamaian Sosial dan diangkat menjadi anggota Koalisi Nasional Suriah.
Abdul Fattah Al-Bazm
Mufti Kota Damaskus, lahir di kota tersebut pada tahun 1943. Ia memperoleh gelar sarjana dalam bahasa Arab dari Universitas Damaskus pada tahun 1970 dan melanjutkan studi pascasarjana di Universitas Ain Shams di Kairo dengan spesialisasi dalam bahasa Arab.
Ia meraih gelar magister dalam bidang syariah, doktor dalam filsafat, serta doktor kedua dalam ilmu hadits dengan disertasi berjudul Ibnu Al-Jazari sebagai Ahli Hadits.
Ia belajar ilmu syariah dari sejumlah ulama terkemuka di Damaskus, termasuk Syaikh Shaleh Farfour, Syaikh Adib Al-Kallas, Syaikh Abdul Razzaq Al-Halabi, Syaikh Mahmoud Al-Rankousi, dan Syaikh Luthfi Al-Fayyumi.
Ia memulai kariernya sebagai guru bahasa Arab di Kementerian Pendidikan, kemudian menjadi pengajar di Institut Al-Fath Al-Islami.
Ia naik jabatan hingga menjadi direktur institut tersebut, serta menjabat sebagai direktur Sekolah Menengah Keagamaan Putra di Damaskus.
Pada tahun 1993, ia diangkat sebagai Mufti Damaskus melalui keputusan dari Dewan Menteri Suriah.
Ia turut serta dalam berbagai konferensi ilmiah di dalam dan luar Suriah, termasuk di Prancis, Inggris, Spanyol, Brasil, Rusia, Iran, dan Kuwait.
Selain itu, ia mengajarkan fiqh, tafsir, sirah, dan hadits di berbagai masjid di Damaskus, terutama di Masjid Besar Bani Umayyah.
Mazhar Al-Wais
Lahir di kota Al-Asharah pada tahun 1980, ia diangkat sebagai Menteri Kehakiman di Suriah pada 29 Maret 2025 setelah kejatuhan rezim Assad.
Ia awalnya belajar kedokteran di Universitas Damaskus sebelum kemudian beralih ke studi hukum Islam di Institut Al-Fath Al-Islami, khususnya dalam bidang fiqh perbandingan.
Pada tahun 2008, ia ditangkap di dekat Rumah Sakit Al-Muwasat di Damaskus dan mengalami penyiksaan di markas intelijen Palestina.
Ia kemudian dipindahkan ke Penjara Saydnaya, di mana ia menghabiskan delapan tahun dan ikut serta dalam aksi protes di dalam penjara.
Setelah itu, ia dipindahkan ke penjara di Deir ez-Zor dan dibebaskan pada April 2013 setelah tidak termasuk dalam amnesti umum yang dikeluarkan pada tahun 2011.
Setelah keluar dari penjara, ia menjabat sebagai ketua Dewan Syariah di wilayah timur Suriah pada tahun 2013, setelah perpecahan antara Jabhah Al-Nusrah dan ISIS.
Ia juga menjadi anggota Dewan Syura Mujahidin, juru bicara resminya, dan salah satu pendiri Dewan Syura Ahlul Ilmi di Syam.
Kemudian, ia bergabung dengan Hai’ah Tahrīr Al-Shām (HTS) dan menjadi salah satu penasihat syariahnya yang menonjol. Dalam Pemerintahan Penyelamatan Suriah, ia menjabat dalam berbagai posisi yudisial, termasuk Ketua Dewan Tinggi Kehakiman.
Abdurrahim Atoun
Lahir pada tahun 1956, ia merupakan salah satu tokoh ulama utama dalam Hai’ah Tahrir Al-Sham dan mantan pemimpin Harakah Al-Fajr Al-Islamiyyah.
Ia memperoleh pendidikan syariah di Turki, lalu berguru kepada Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di Yordania, tempat ia menetap setelah meninggalkan Suriah akibat seringnya ia ditangkap oleh rezim karena pandangan Salafinya.
Ia kembali ke Suriah ketika revolusi pecah dan bergabung dengan Jabhah Al-Nusrah yang dipimpin oleh Ahmad Al-Syar’ (yang dikenal sebagai Abu Muhammad Al-Jawlani).
Ia menjadi salah satu orang kepercayaan terdekatnya dan mewakili kelompok tersebut dalam perdebatan terbuka dengan ISIS pada tahun 2014. Ia juga turut mendirikan Jabhah Ansar Al-Din.
Untuk pertama kalinya, ia tampil secara terbuka dalam pengumuman pemisahan Jabhah Al-Nusrah dari Al-Qaeda dan perubahannya menjadi Jabhah Fath Al-Sham pada Juli 2016. Ia menjadi salah satu pendukung utama perubahan ini dan keterbukaan politik yang menyertainya.
Pada 27 Januari 2018, ia mengumumkan pengunduran dirinya dari Hai’ah Tahrir Al-Sham tanpa menjelaskan alasannya, meskipun ia tetap dekat dengan institusi kelompok tersebut.
Kemunculannya dalam seminar yang diselenggarakan oleh Direktorat Kebudayaan Idlib pada tahun 2021 mengenai pengalaman Taliban di Afghanistan menimbulkan kontroversi.
Perubahan penampilannya dan nada bicaranya dianggap sebagai indikasi perubahan yang dialami oleh kelompoknya.
Anas Al-Mousa
Seorang ulama Islam asal kota Hama, lahir pada tahun 1974. Ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang hadits dari Universitas Al-Azhar, serta meraih gelar magister dalam bidang yang sama dari Universitas Yalova di Turki. Selain itu, ia juga memiliki gelar teknik dari Universitas Damaskus.
Ia berguru kepada sejumlah ulama besar Syam, seperti Syaikh Bakri Al-Tarabishi, Syaikh Adib Al-Kallas, dan Dr. Nuruddin ‘Itr, yang memberinya fondasi ilmiah yang kuat dalam ilmu hadits dan qiraat.
Dikenal luas atas keahliannya dalam pengembangan kurikulum dan metode pengajaran di berbagai institut Islam di Suriah dan Turki.
Ia mengajar ilmu syariah di berbagai institut serta mengajarkan bacaan Al-Qur’an dengan qirā’at ‘asyarah (sepuluh qiraat) melalui jalur Syāthibiyyah dan Durrat. Ia juga mengajar dengan sistem ijazah ilmiah di “Dar Al-Fuqaha” di Turki.
Khairullah Thalib
Salah satu tokoh Islam terkemuka dan anggota Dewan Islam Suriah. Ia dikenal sebagai pendukung revolusi Suriah sejak awal pecahnya konflik.
Ia menjabat sebagai ketua Hai’ah Al-Syam Al-Islamiyyah (Badan Islam Syam), salah satu komponen dalam dewan tersebut, yang berfokus pada dakwah, pendidikan syariah, dan pelayanan dalam bidang Al-Qur’an, termasuk program khusus bagi non-Muslim.
Badan ini didirikan pada Oktober 2011 dan secara resmi terdaftar di Dewan Provinsi Aleppo pada tahun 2013. Organisasi ini menjalankan berbagai aktivitasnya di dalam Suriah maupun di negara-negara pengungsian melalui jaringan cabang dan pusat-pusatnya.
Dr. Thalib berkontribusi dalam pengembangan program dakwah dan pendidikan yang bertujuan untuk memperkuat identitas Islam yang moderat serta mendukung komunitas Suriah yang terdampak oleh perang.
Syaikh Alauddin Al-Qasir
Salah satu ulama terkemuka di kota Aleppo. Ia dikenal dengan keberaniannya dalam menentang kezaliman rezim Suriah yang telah digulingkan. Ia merupakan salah satu tokoh pertama yang mengecam tindakan represif rezim sejak awal revolusi, khususnya terhadap pertumpahan darah warga sipil.
Sahl Junaid
Seorang ulama dari kota Homs dan anggota Rabithah Al-Ulama Al-Suriyyin (Ikatan Ulama Suriah). Ia menyatakan dukungannya terhadap revolusi Suriah sejak awal tahun 2011 dan ikut serta dalam berbagai pernyataan yang menyerukan reformasi serta menolak kekerasan.
Pada 16 Oktober 2011, ia mengalami upaya pembunuhan ketika sekelompok syabiha (milisi pro-rezim) menembaki mobilnya. Setelah kejadian tersebut, ia pindah dan menetap di Istanbul.
Ibrahim Al-Hassoun
Lulusan teknik informatika dan pemegang gelar doktor dari Universitas Madinah. Ia termasuk salah satu pendukung pertama revolusi Suriah. Karena aktivitas politik dan dakwahnya, ia sempat ditangkap dan menjalani masa tahanan di Penjara Saydnaya.