CAIRO — Warga Palestina di Jalur Gaza menghadapi lonjakan harga bahan pokok akibat maraknya penyelundupan barang yang dibatasi Israel, sementara tentara Israel dan sejumlah perantara diduga meraup keuntungan jutaan dolar dari praktik tersebut. Temuan ini terungkap dalam investigasi Associated Press (AP) yang dipublikasikan pekan ini berdasarkan dokumen pengadilan Israel serta wawancara dengan pedagang, sopir truk, dan pejabat terkait.
Menurut laporan AP, rumah sakit dan pelaku usaha di Gaza kian bergantung pada jaringan penyelundup untuk memperoleh obat-obatan, bahan bakar, dan peralatan yang dilarang atau dibatasi masuk oleh Israel. Otoritas yang dikuasai Hamas turut mengambil bagian keuntungan dari perdagangan gelap tersebut.
Investigasi itu didasarkan pada dokumen pengadilan Israel serta wawancara dengan lima pedagang besar yang terlibat penyelundupan, tiga pedagang eceran, dua sopir truk, pejabat Palestina, staf PBB, dan warga Gaza.
Rokok Jadi Komoditas Paling Menguntungkan
Rokok dan produk tembakau — yang dilarang masuk ke Gaza sejak perang Israel-Hamas dimulai Oktober 2023 — disebut sebagai barang paling menguntungkan bagi penyelundup dan pedagang. Selain rokok, barang lain seperti iPhone, panel surya, bahan bakar, dan obat bius juga diselundupkan secara ilegal ke wilayah pesisir tersebut.
Israel membatasi jumlah sejumlah barang dan melarang total barang lainnya yang dikategorikan sebagai “dual use” atau berpotensi digunakan ganda — termasuk semen, suku cadang kendaraan, dan mesin sinar-X — dengan alasan barang tersebut dapat dimanfaatkan kelompok bersenjata Hamas untuk keperluan militer.
Dua pedagang dan seorang sopir truk yang tergabung dalam serikat pekerja Gaza mengatakan kepada AP bahwa lembaga pemerintah terkadang meminta barang tertentu agar dapat terus beroperasi, seperti bahan bakar, suku cadang kendaraan pertahanan sipil, atau generator listrik. Rumah sakit juga disebut bergantung pada penyelundup untuk mendapatkan obat-obatan dan sejumlah peralatan medis.
Seorang tokoh suku yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keselamatan mengatakan kepada AP bahwa para tetua suku turut meminta pasokan selundupan bagi komunitas mereka, termasuk obat-obatan yang persediaannya menipis.
Jaringan Melibatkan Kedua Sisi Perbatasan
Dua pedagang besar yang menguasai sebagian besar jalur penyelundupan, beserta seorang staf dari pedagang ketiga, mengaku mengirimkan daftar barang terlarang yang ingin mereka impor kepada “koordinator” — perantara asal Israel dan Palestina yang beroperasi di Israel maupun Tepi Barat. Para koordinator ini menyiapkan barang, lalu mengatur jalur masuk ke Gaza.
Militer Israel juga memiliki jalur keluar-masuk sendiri untuk kendaraannya. Menurut para pedagang dan dokumen pengadilan Israel, penyelundup memanfaatkan kedua jalur tersebut, termasuk dengan menyuap tentara agar truk dapat lolos atau menitipkan barang di kendaraan militer. Truk milik organisasi kemanusiaan sesekali turut digunakan, meski lebih jarang.
Sejumlah pedagang besar memperkirakan aktivitas penyelundupan menyumbang lebih dari separuh total operasi bisnis mereka, bahkan bisa mencapai lebih dari 70 persen pendapatan bagi sebagian pelaku usaha, mengingat mayoritas warga Gaza kehilangan sumber penghidupan akibat perang.
Kasus ini turut beririsan dengan proses hukum di Israel. Sebelumnya, saudara kepala badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, telah didakwa menyelundupkan rokok senilai puluhan ribu dolar ke Gaza — bagian dari skandal yang menjerat lebih dari selusin orang, sebagian besar tentara cadangan Israel, atas dugaan meraup keuntungan pribadi dari perang.
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang mulai berlaku 10 Oktober 2025 belum sepenuhnya memulihkan akses pasokan resmi ke Gaza. Kondisi ini turut mendorong warga dan lembaga di wilayah tersebut semakin bergantung pada jalur penyelundupan untuk memenuhi kebutuhan dasar.


