spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Tuesday, March 24, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaIran bantah telah capai negosiasi dengan AS

Iran bantah telah capai negosiasi dengan AS

Sejumlah pejabat senior Iran membantah adanya perundingan dengan Amerika Serikat, hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim telah terjadi “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” untuk mengakhiri perang.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melalui unggahan di media sosial pada Senin menegaskan bahwa “tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan AS”. Ia juga menuduh bahwa berita tersebut merupakan “fake news” yang digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta untuk keluar dari situasi sulit yang dihadapi AS dan Israel.

Pernyataan itu sejalan dengan keterangan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, yang juga membantah adanya pembicaraan dengan Washington. Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita resmi IRNA, Baghaei menyebut Iran memang menerima pesan dari sejumlah negara sahabat terkait permintaan AS untuk membuka negosiasi guna mengakhiri perang.

Bantahan ini muncul ketika perang antara AS dan Israel melawan Iran memasuki pekan keempat. Militer Israel pada Senin menyatakan telah meluncurkan gelombang serangan baru ke ibu kota Iran, Teheran.

Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah di Timur Tengah serta secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Kondisi ini mendorong lonjakan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran atas dampak konflik terhadap masyarakat dunia.

Sebelumnya, pada Sabtu, Trump mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz bagi seluruh kapal dalam waktu 48 jam. Namun pada Senin, melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan telah memerintahkan Departemen Pertahanan AS untuk menunda seluruh rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari.

Ia menyebut penundaan tersebut bergantung pada hasil “pertemuan dan diskusi yang sedang berlangsung”. Trump juga mengklaim bahwa pembicaraan dilakukan pada Minggu dengan “tokoh penting” di Iran, tanpa merinci identitasnya.

“Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan. Kami juga ingin mencapai kesepakatan,” ujar Trump kepada wartawan. “Kami memberi waktu lima hari. Jika berjalan baik, kami akan menyelesaikan ini. Jika tidak, kami akan melanjutkan serangan.”

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan telah berbicara dengan Trump pada Senin. Ia menyebut presiden AS melihat adanya peluang untuk memanfaatkan konflik dengan Iran guna mencapai kesepakatan.

“Secara paralel, kami terus melakukan serangan baik di Iran maupun Lebanon,” kata Netanyahu, seraya menambahkan bahwa Israel akan tetap menjaga kepentingan vitalnya dalam setiap kesepakatan.

Di tengah situasi tersebut, upaya deeskalasi dari negara-negara kawasan mulai mengemuka. Sejumlah pihak berupaya mendorong kedua belah pihak kembali ke jalur dialog untuk membuka kemungkinan kerangka perundingan.

Seorang analis dari Universitas Teheran menilai bahwa Trump kemungkinan menggunakan isu perundingan sebagai cara untuk meredakan ancaman ultimatum sebelumnya, yang berpotensi memicu eskalasi lebih besar. Upaya mediasi disebut melibatkan sejumlah negara seperti Pakistan, Mesir, dan Turkiye dalam mencari jalan keluar dari konflik yang kian memanas.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler