spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Tuesday, March 10, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaIran beralih ke rudal dengan hulu ledak berat

Iran beralih ke rudal dengan hulu ledak berat

Iran meningkatkan pesan militernya di tengah eskalasi konfrontasi dengan Amerika Serikat dan Israel. Teheran menyatakan tidak akan lagi meluncurkan rudal dengan hulu ledak yang beratnya kurang dari satu ton, sebagai langkah untuk meningkatkan daya hancur rudal balistik serta memperkuat kemampuan pencegahannya.

Hal itu dilaporkan situs Aljazeera.net pada Selasa (10/3).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Komandan Pasukan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, yang menegaskan bahwa serangan terhadap Washington dan Tel Aviv akan terus berlanjut.

Menurut Mousavi, rudal yang akan diluncurkan ke depan akan membawa hulu ledak dengan berat minimal satu ton, disertai peningkatan frekuensi peluncuran serta perluasan gelombang serangan rudal.

Pakar militer Brigadir Jenderal Hassan Jouni menilai pernyataan tersebut mencerminkan doktrin pertahanan Iran yang bertumpu pada rudal balistik, yang dianggap sebagai alat utama untuk menyeimbangkan keunggulan udara yang dimiliki lawan.

Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera, Jouni menjelaskan bahwa Iran telah membangun arsenal militernya selama bertahun-tahun dengan fokus pada jenis senjata ini sebagai cara untuk menutupi kesenjangan kemampuan udara dibandingkan Amerika Serikat dan Israel.

Pada tengah malam Senin hingga Selasa, IRGC mengumumkan peluncuran rudal dengan hulu ledak seberat satu ton dalam gelombang ke-33 Operasi “Janji Sejati 4”, yang menargetkan sasaran Israel dan Amerika.

Menurut Jouni, eskalasi penggunaan rudal balistik dilakukan melalui tiga langkah utama:

  1. Meningkatkan berat hulu ledak, yang kini mencapai satu ton dan berpotensi terus bertambah.
  2. Jenis ledakan, seperti hulu ledak fragmentasi atau cluster yang memperbesar daya hancur.
  3. Meningkatkan akurasi serangan, dengan mengarahkan rudal ke target yang lebih sensitif.

Terkait pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklaim bahwa 80 persen kemampuan militer Iran telah dihancurkan, Jouni menilai perkiraan tersebut kemungkinan didasarkan pada penurunan intensitas peluncuran rudal Iran.

Ia mengakui bahwa serangan udara intensif selama 11 hari kemungkinan memang telah menghancurkan sebagian besar persenjataan Iran. Namun, menurutnya, tidak ada pihak yang memiliki data pasti mengenai ukuran sebenarnya dari arsenal militer Iran.

Jouni menambahkan bahwa menilai secara akurat besarnya kerugian militer merupakan hal yang sangat sulit. “Jika informasi tersebut benar-benar tersedia, maka lokasi-lokasinya dapat ditentukan dengan lebih tepat dan langsung diserang,” ujarnya.

Sejak 28 Februari lalu, Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan dan melukai ratusan orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, Menteri Pertahanan, Komandan Garda Revolusi, serta sejumlah pejabat militer lainnya.

Sebagai balasan, Teheran meluncurkan rudal dan drone ke arah Israel, serta menargetkan apa yang disebutnya sebagai “kepentingan Amerika” di sejumlah negara Arab dan Teluk. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan fasilitas sipil, termasuk bandara, pelabuhan, dan bangunan permukiman.

Surya Fachrizal
Surya Fachrizal
Pimred Gaza Media, co-founder Timteng Podcast
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler