Tuesday, February 17, 2026
HomeBeritaIsrael beri ultimatum 60 hari kepada Hamas untuk lucuti senjata

Israel beri ultimatum 60 hari kepada Hamas untuk lucuti senjata

Pemerintah Israel pada Senin menyatakan akan memberikan ultimatum selama 60 hari kepada kelompok Palestina, Hamas, untuk melucuti seluruh persenjataannya. Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Israel mengancam akan melanjutkan operasi militernya di Gaza, lapor Anadolu.

Sekretaris Kabinet Israel, Yossi Fuchs, mengatakan Hamas “harus menyerahkan seluruh senjatanya,” termasuk senapan. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah konferensi di Yerusalem dan dikutip oleh The Times of Israel.

Fuchs mengklaim, tenggat waktu 60 hari tersebut merupakan permintaan dari pemerintahan Amerika Serikat.

“Kami menghormati hal itu,” ujar Fuchs.

Ia tidak memastikan kapan ultimatum tersebut akan mulai berlaku, namun menyebut kemungkinan dimulai bersamaan dengan pertemuan Dewan Perdamaian Presiden AS Donald Trump pada 19 Februari mendatang.

“Kami akan mengevaluasinya,” kata Fuchs. “Jika berhasil, itu baik. Jika tidak, maka IDF (militer Israel) harus menyelesaikan misinya.”

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Hamas maupun pemerintah Amerika Serikat terkait klaim Israel tersebut.

Sebelumnya, kesepakatan gencatan senjata yang didukung AS mulai berlaku di Gaza pada 10 Oktober, menghentikan perang selama dua tahun yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 lainnya sejak Oktober 2023.

Namun, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan, pasukan Israel disebut melakukan ratusan pelanggaran melalui penembakan dan serangan, yang mengakibatkan 603 warga Palestina tewas dan 1.618 lainnya luka-luka.

Fase kedua perjanjian gencatan senjata dimulai pada pertengahan Januari dan mencakup ketentuan terkait pelucutan senjata Hamas serta faksi Palestina lainnya di Gaza.

Hamas menolak seruan untuk menyerahkan senjatanya dan mengusulkan agar persenjataan tersebut “disimpan atau dibekukan.” Kelompok itu menegaskan bahwa mereka adalah gerakan perlawanan terhadap Israel, yang oleh PBB dianggap sebagai kekuatan pendudukan di wilayah Palestina.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler