Militer Israel pada Jumat mengklaim telah menewaskan sembilan pejuang Palestina di dalam sebuah terowongan di Kota Rafah, Gaza bagian selatan.
Dalam pernyataannya, militer Israel juga menyebut lebih dari 30 pejuang “yang berupaya melarikan diri dari jaringan terowongan bawah tanah di timur Rafah telah dieliminasi”.
Hingga pukul 13.00 GMT, Hamas belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut. Namun, kelompok itu berulang kali menegaskan komitmennya terhadap perjanjian gencatan senjata dan menyerukan para mediator untuk menekan Israel agar mematuhinya.
Media Israel dalam beberapa hari terakhir melaporkan bahwa sekitar 200 pejuang Hamas terperangkap di dalam sebuah terowongan di Rafah. Tel Aviv, menurut laporan itu, belum merespons permintaan Hamas maupun mediator untuk memberikan mereka jalur aman menuju wilayah yang berada di bawah kendali kelompok tersebut.
Rafah merupakan satu dari sedikit wilayah yang masih berada dalam pendudukan militer Israel di Jalur Gaza.
Hamas dan Israel sebelumnya mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Mesir, Qatar, dan Turki, dengan dukungan Amerika Serikat. Fase pertama kesepakatan ini mulai berlaku pada 10 Oktober.
Fase awal itu mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan pembebasan tahanan Palestina. Kesepakatan tersebut juga memuat rencana rekonstruksi Gaza serta pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan hampir 70.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 170.000 lainnya.a


