Israel Setujui Masuknya Pasukan Stabilisasi Internasional ke Rafah, Netanyahu Temui Trump di Washington
GAZA CITY — Kabinet keamanan Israel pada Minggu (26/7) menyetujui masuknya kontingen awal Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) sebanyak 200 personel dari “negara-negara sahabat” ke Jalur Gaza. Pasukan tersebut akan mengamankan perimeter zona kemanusiaan percontohan di wilayah Rafah, bagian dari inisiatif Board of Peace yang dipimpin Presiden AS Donald Trump. Keputusan ini diambil menjelang pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Trump di Washington, Selasa (28/7) waktu setempat.
Menurut pejabat Israel yang dikutip Times of Israel, langkah menyetujui masuknya ISF sebelum perlucutan senjata Hamas dilakukan merupakan penyimpangan dari sikap kabinet sebelumnya, yang mensyaratkan Hamas harus dilucuti lebih dulu sebelum pasukan internasional masuk ke Gaza. Seorang pejabat menyebut keputusan itu sebagai “gestur untuk Trump.”
Netanyahu berangkat ke Washington pada Senin (27/7) tanpa pengumuman terbuka sebelumnya dan lepas landas dari pangkalan udara, bukan dari Bandara Ben Gurion, dengan alasan keamanan. Dalam pernyataan video sebelum keberangkatan, Netanyahu mengatakan isu Iran akan menjadi agenda utama pertemuannya dengan Trump.
Rekonstruksi Gaza Masih Terganjal
Board of Peace, yang dibentuk lewat Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, hingga kini belum mampu membawa implementasi rencana damai Trump melewati fase pertama. Fase tersebut mencakup pembebasan seluruh sandera yang ditahan Hamas dan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Menurut laporan Washington Post, lebih dari 60 persen wilayah Gaza saat ini telah dikosongkan dari warga Palestina dan diduduki oleh militer Israel, sementara sisanya dikuasai Hamas. Fase kedua rencana damai—yang mencakup pelucutan senjata Hamas secara bertahap, penarikan pasukan Israel, serta pembentukan pemerintahan sementara Palestina—belum terlaksana.
Tanpa kesepakatan soal pelucutan senjata maupun penarikan pasukan, rencana terbaru yang dibahas Board of Peace adalah pembentukan “zona percontohan” berisi hunian sementara bagi warga Gaza, ditempatkan di antara wilayah yang dikuasai kedua pihak.
Pemerintah Israel dan Board of Peace Berselisih Arah
Ketegangan turut muncul antara Board of Peace dan pemerintah sayap kanan Israel soal masa depan Gaza. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir memimpin demonstrasi ratusan pendukung menuju perbatasan utara Gaza pada 19 Juli lalu.
“Kami pulang ke rumah. Gaza adalah milik kami,” kata Ben Gvir dalam aksi tersebut, sebagaimana dilaporkan Washington Post.
Sejumlah pejabat Israel lain, tanpa dibantah Netanyahu, menyatakan Israel tidak akan meninggalkan Gaza dan berencana membangun kembali permukiman yang dibongkar lebih dari satu dekade lalu saat Israel menarik diri dari wilayah itu.
Di lapangan, serangan Israel terhadap warga Palestina di Gaza masih berlangsung meski gencatan senjata resmi berlaku. Pada Minggu (26/7), serangan udara Israel terhadap sebuah mobil di Deir al-Balah menewaskan dua pejabat keamanan Hamas, termasuk kepala keamanan internal Hamas untuk Gaza tengah, menurut kementerian dalam negeri yang dikelola Hamas.
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban tewas warga Palestina sejak Oktober 2023 mencapai sekitar 72.797 jiwa, dengan sekitar 1,9 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza masih dalam kondisi terusir dari tempat tinggal mereka.


