HomeBeritaJutaan warga AS gelar aksi “No Kings”, protes kebijakan Trump

Jutaan warga AS gelar aksi “No Kings”, protes kebijakan Trump

Gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” berlangsung di berbagai wilayah Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026), sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Donald Trump dan pemerintahannya. Aksi ini diperkirakan menjadi salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah AS, dengan negara bagian Minnesota menjadi pusat utama.

Penyelenggara menyebutkan lebih dari 3.100 kegiatan digelar di seluruh 50 negara bagian, dengan jumlah peserta diperkirakan melampaui 9 juta orang. Aksi ini juga berlangsung di tengah seruan untuk menentang serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Demonstrasi turut digelar di Paris, Prancis, pada hari yang sama. Ratusan orang, sebagian besar warga Amerika yang tinggal di Prancis, bersama serikat pekerja dan organisasi hak asasi manusia, berkumpul di Place de la Bastille.

Para demonstran membawa berbagai poster yang mengkritik kebijakan Trump, di antaranya bertuliskan “Perang demi keuntungan, pasukan kami bukan untuk dijual” dan “Ketika ketidakadilan menjadi hukum, perlawanan adalah kewajiban”.

Salah satu penyelenggara aksi di Paris, Ada Shen, menyatakan penolakannya terhadap apa yang ia sebut sebagai “perang ilegal, tidak bermoral, dan tanpa arah” yang dilakukan pemerintahan Trump.

Di dalam negeri, aksi utama berlangsung di gedung Capitol negara bagian di Saint Paul, Minnesota. Wilayah ini menjadi simbol perlawanan setelah insiden penembakan oleh aparat federal terhadap dua orang yang terlibat dalam kampanye kebijakan imigrasi Trump.

Penyelenggara memperkirakan sekitar 100.000 orang menghadiri aksi di Minnesota, meningkat dibandingkan aksi serupa pada Juni lalu yang diikuti sekitar 80.000 peserta.

Sementara itu, Gedung Putih mengecilkan skala demonstrasi tersebut dan menyebutnya sebagai hasil dukungan jaringan pendanaan kelompok kiri dengan dukungan publik yang dinilai terbatas.

Protes Kebijakan Imigrasi

Aksi serupa sebelumnya juga digelar pada Januari 2026, melibatkan ribuan pekerja dan mahasiswa di berbagai kota dan kampus di AS untuk memprotes kebijakan imigrasi pemerintah.

Pada peringatan satu tahun masa jabatan kedua Trump, gelombang protes kembali terjadi di sejumlah wilayah. Kebijakan imigrasi yang ketat memicu kemarahan publik, terutama setelah insiden yang melibatkan aparat federal, termasuk penembakan terhadap seorang perempuan bernama Rini Good di Minneapolis.

Ratusan demonstran juga berkumpul di Washington DC dan kota-kota lain seperti Asheville, Carolina Utara. Mereka meneriakkan slogan penolakan terhadap lembaga imigrasi dan kebijakan yang dianggap diskriminatif.

Penyelenggara menyebut sekitar 7 juta orang telah mengikuti aksi damai di sekitar 2.700 kota dan wilayah administratif, meningkat dibandingkan demonstrasi sebelumnya.

Kepolisian New York mencatat sekitar 100.000 orang turut serta dalam berbagai aksi di kota tersebut, tanpa adanya kerusuhan maupun penangkapan.

 

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler