YERUSALEM — Pelaksana tugas Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia PBB (WFP), Carl Skau, pada Senin (19/10/2026) menyatakan kehidupan di Gaza masih “benar-benar brutal” dan sangat berbahaya. Dalam taklimat video dari Yerusalem kepada koresponden PBB, ia mengumumkan WFP memangkas bantuan pangan bagi 500.000 warga Palestina di Gaza dan 200.000 di Tepi Barat karena kekurangan dana.
Skau, yang baru mengunjungi kedua wilayah itu, mengatakan tim PBB mencatat sekitar 50 serangan per hari di Gaza dalam sepekan terakhir.
Jumlah Penerima Dipangkas
Menurut Skau, jumlah penerima bantuan WFP di Gaza turun bulan ini dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang. Di Tepi Barat, jumlahnya turun dari 400.000 menjadi 200.000. WFP meminta komunitas internasional menyediakan US$450 juta untuk enam bulan ke depan.
Skau menegaskan pemangkasan itu semata karena berkurangnya dana. Ia menyebut bukan karena kebutuhan menurun, dan bukan karena makanan tidak bisa masuk, menurut The National.
WFP kini memprioritaskan orang sakit, ibu dan anak yang berisiko malnutrisi, serta warga yang tinggal paling dekat dengan “Garis Kuning”. Garis itu memisahkan wilayah yang masih dikuasai pasukan Israel dari wilayah yang boleh dihuni warga Palestina.
Skau mengatakan penanganan kelaparan membaik sejak gencatan senjata Oktober tahun lalu. Namun WFP memperkirakan 1,4 juta orang, atau 67 persen penduduk Gaza, masih mengalami kerawanan pangan akut pada level krisis atau lebih buruk. Sekitar 200.000 di antaranya membutuhkan bantuan pangan segera untuk mencegah kematian akibat kelaparan.
“Saya sudah melewati musim dingin di sini, benar-benar brutal,” kata Skau kepada Reuters di Gaza. Ia menyebut pemangkasan terjadi menjelang musim dingin keempat. Dalam taklimat yang sama, ia mengatakan banyak warga yang ia temui merasa dilupakan semua orang, menurut The National.
Kantor Media Pemerintah Gaza, yang berada di bawah kendali Hamas, menilai pengumuman WFP itu sangat merugikan dan dapat mempercepat kelaparan, menurut Reuters.
Pasokan Komersial Terganggu
Kesulitan bertambah karena militer Israel pekan lalu menghentikan masuknya barang komersial, termasuk pangan, ke Gaza. Pada Senin, Israel menyatakan akan kembali berkoordinasi untuk masuknya truk komersial. Israel juga memperingatkan bahwa pedagang yang dilaporkan membayar pajak kepada Hamas akan dicabut izinnya, menurut AP.
Tepi Barat: Dari Krisis Perlindungan ke Krisis Pangan
Di Tepi Barat, Skau mengatakan meningkatnya serangan pemukim Israel telah mengubah apa yang semula krisis hak asasi manusia dan perlindungan menjadi juga krisis kelaparan. Ia menyebut kerawanan pangan di sana lebih dari dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir, dan hampir satu juta warga Palestina kini membutuhkan bantuan pangan.
Selama kunjungannya, Skau mengaku melihat kebun zaitun, kamp, dan desa yang terbakar. Ia mengatakan jumlah serangan pemukim pada dua minggu pertama musim panen zaitun tahun ini telah melampaui total serangan sepanjang tahun lalu.
Proyek pemantau konflik ACLED mencatat rata-rata 39 insiden per hari di Tepi Barat pada 1–9 Oktober, dibandingkan sekitar 20 per hari pada September, menurut The National. Israel belum memberikan tanggapan atas pernyataan Skau dalam laporan-laporan yang dirujuk.


