Saturday, November 29, 2025
HomeBeritaKisah warga Gaza yang hidup dalam rumah-rumah nyaris runtuh

Kisah warga Gaza yang hidup dalam rumah-rumah nyaris runtuh

Detik-detik yang menegangkan itu masih membekas di benak Ahmad Zamara. Bersama keluarganya, lelaki sepuh itu mendengar suara retakan halus yang merayap pelan di dinding-dinding rumahnya yang telah lama terbelah.

Ia segera paham: bangunan itu tengah mengembuskan napas terakhir. Tanpa sempat berpikir panjang, ia meraih anak-anaknya dan berlari menuju jalan.

“Nyaris saja saya tak sempat menyelamatkan anak-anak. Begitu kami tiba di pertigaan, rumah itu runtuh di belakang kami. Beberapa menit kemudian, rumah tetangga ikut menyusul,” tuturnya kepada Al Jazeera Net, sambil berdiri di atas tumpukan puing yang pernah ia sebut rumah.

Sesudah pasukan Israel mundur dan warga kembali ke lingkungan mereka masing-masing, Zamara pun pulang. Yang ia temukan hanya dinding-dinding yang koyak dan lantai yang tersibak pecahan beton.

Ia membersihkan sebisanya—lalu tetap tinggal di sana, meski ancaman kehancuran selalu mengintai. Tak ada tempat lain untuk berlindung.

Namun, sebulan berselang, sisa-sisa bangunan itu benar-benar menyerah. Untuk kedua kalinya Zamara terpaksa keluar tanpa atap, tanpa tenda, tanpa apa pun.

Kini ia tinggal di bawah lembaran plastik yang ia pasang seadanya di dekat rumahnya—tak mampu menahan terik, tak sanggup menampik hujan.

Rumah-rumah renta yang menunggu waktu

Di kawasan Al-Zarqa, puluhan rumah masih berdiri, tetapi hanya sekadar menunda keruntuhan.

Setiap langkah warga di gang-gang sempit itu serupa pertaruhan: sedikit getaran, sedikit tiupan angin, bisa membuat atap atau kolom yang tersisa ambruk seketika.

Batu-batu yang menggantung seperti anggota tubuh yang terputus, lubang-lubang besar di dinding, kolom-kolom terkulai, serta atap-atap yang condong—itulah pemandangan yang terekam saat Al Jazeera Net melintasi kawasan tersebut.

Seluruh lingkungan tampak terombang-ambing antara bertahan sehari lagi atau ambruk kapan pun.

Pada salah satu rumah itulah Hafiz Al-Dadda tinggal bersama tiga anaknya. Sisa-sisa apartemennya hanya bertumpu pada 2 kolom dari delapan yang dulu ada.

Ia menutup lubang-lubang dinding dengan papan kayu, dan mencoba menciptakan atap yang layak huni dari puing yang tersisa.

“Kalau kami keluar dari sini, kami harus tidur di jalan, di tengah hujan dan cuaca dingin. Hidup dalam ketakutan mungkin masih lebih baik daripada mati di ruang terbuka,” ujarnya.

Gerak-geriknya di rumah selalu diperhitungkan. Ia melangkah seperti orang yang tahu bahwa satu langkah salah bisa menjadi langkah terakhir.

Setiap sepuluh menit, ia mendongak ke langit-langit—hanya untuk memastikan bahwa bagian itu masih berada di atas kepala mereka, masih memberi mereka alasan untuk bertahan di tengah bahaya.

Rasa takut yang menghantui anak-anak

Di atas puing yang dulunya merupakan atap rumah, seorang bocah bernama Muhsin—baru 10 tahun—bermain pelan, berusaha tetap waspada.

Ibunya terus-menerus mengingatkan agar tidak menyentuh batu-batu yang menggantung.

“Kami baru tinggal beberapa hari di rumah ini sebelum perang. Saat kembali, kami menemukan semuanya hancur kecuali dua kamar. Di situlah kami tinggal sekarang,” katanya lirih kepada Al Jazeera Net.

Muhsin mengaku takut. Bukan hanya takut rumah itu runtuh, tetapi juga takut pada anjing-anjing liar yang berkeliaran di sekitar rumah setiap malam.

Tanpa dinding utuh, tanpa pintu yang kokoh, ia merasa ruang tinggal mereka tak lebih dari ruang terbuka yang rentan.

Di sudut lain yang lebih sempit, Yasser Khudra hidup bersama 12 anggota keluarga lain, termasuk anak-anak yatim yang kehilangan ayah.

Rumahnya pernah dihantam serangan udara. Tiga lantai bangunan itu hancur total, menyisakan hanya satu kamar di lantai dasar tempat mereka kini berlindung.

Ia mengaku hampir tak pernah memejamkan mata sepanjang malam. Ia menanti fajar setiap hari—sebuah penanda kecil bahwa mereka berhasil melewati satu malam lagi.

Namun ia juga tahu bahwa ia tidak punya pilihan.

“Setiap getaran dari robot atau kendaraan berat membuat saya ngeri. Bangunan ini tak bisa tahan guncangan apa pun. Tapi membiarkan anak-anak tanpa tempat berlindung jauh lebih menyakitkan daripada risiko yang kami hadapi,” katanya.

Peringatan agar segera mengungsi

Dinas Pertahanan Sipil di Gaza menyebutkan ada sekitar 50 bangunan yang masih berdiri namun dinilai sangat berbahaya di kawasan Al-Zarqa.

Di dalamnya tinggal sekitar 150 keluarga—yang semuanya tetap bertahan meski peringatan terus disampaikan.

Setelah melakukan inspeksi lapangan, petugas mengaku terkejut melihat besarnya kerusakan.

“Kami sudah memberikan arahan agar warga segera meninggalkan rumah. Tapi alternatif tempat tinggal hampir tidak ada. Tenda pun hanya tersedia untuk segelintir orang,” kata Mahmoud Basal, juru bicara dinas tersebut, kepada Al Jazeera Net.

Ia mendesak organisasi internasional untuk bertanggung jawab dan menyediakan opsi hunian yang aman, terutama menjelang musim dingin.

Angin kencang dan hujan—katanya—akan memperburuk kondisi bangunan yang sudah rapuh itu.

Hari-hari ini, rumah-rumah di Gaza memendam kisah perang yang belum selesai. Dinding-dinding masih merekam jejak serangan yang memecahkannya.

Setiap bunyi retakan dari kolom membawa ketakutan baru bagi penghuninya. Setiap rumah yang ambruk berarti satu lagi keluarga yang terdorong ke ruang kosong tanpa pilihan.

Warga sadar tinggal di bawah bangunan yang retak adalah sebuah perjudian. Namun meninggalkannya—tanpa tempat lain untuk dituju—sering terasa lebih menyiksa.

Bahkan, bagi banyak dari mereka, sama saja seperti menghadapi kematian yang lain.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler