Wednesday, May 14, 2025
HomeBeritaLana: Anak Palestina yang rambutnya memutih karena genosida

Lana: Anak Palestina yang rambutnya memutih karena genosida

Di sebuah tenda lusuh di pinggiran kamp pengungsian di Kota Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan, duduk seorang anak perempuan Palestina bernama Lana Al-Sharif.

Usianya baru 10 tahun, namun wajah dan tubuhnya menyimpan jejak luka dari perang yang telah mencabik masa kecilnya selama 19 bulan terakhir.

Rambutnya mulai memutih, tubuhnya dipenuhi bercak pucat, dan matanya membawa kesedihan yang tak biasa bagi anak seusianya.

Perang genosida yang dilancarkan Israel sejak Oktober 2023 tidak hanya merenggut nyawa dan tempat tinggal, tetapi juga telah merampas identitas masa kanak-kanak dari banyak anak Palestina—termasuk Lana.

Kaos merah muda yang dikenakannya, bergambar tokoh kartun Mickey Mouse, tak cukup untuk menyembunyikan luka batin yang ia pendam.

Di hadapan sebuah cermin kecil, Lana mengamati dirinya yang berubah. Rambutnya yang semula hitam mulai dipenuhi uban akibat ketakutan ekstrem yang dialaminya.

“Dulu sebelum perang, aku cantik,” ujarnya dengan suara pelan, nyaris tak terdengar, dalam wawancara dengan kantor berita Anadolu.

Ia berharap bisa berobat ke luar negeri, setelah dokter menyatakan pengobatan di Gaza tak memadai untuk kondisinya.

Luka fisik dan batin

Menurut penuturan Lana, perubahan fisik ini dimulai satu setengah tahun lalu, ketika sebuah serangan udara Israel menghantam rumah di sebelah tempat tinggal keluarganya di Rafah.

Dua hari setelah serangan itu, dua bercak putih muncul di wajahnya. Seiring waktu, bercak-bercak lain menyebar ke tubuhnya, diduga akibat trauma hebat yang dialaminya.

Para dokter di Gaza memperkirakan Lana mengalami gejala yang mirip vitiligo, meski belum bisa memastikan diagnosis secara menyeluruh karena keterbatasan fasilitas.

Sayangnya, upaya pengobatan yang ada sejauh ini tidak membuahkan hasil.

Pengungsian dan derita psikologis

Lana kini hidup di tenda pengungsian tanpa fasilitas dasar. Ia menghabiskan hari-harinya di antara antrean panjang untuk air bersih dan makanan bantuan dari dapur umum.

Dalam waktu luangnya, ia menggambar pohon dan bunga, mencoba memelihara sisi kanak-kanaknya yang tersisa.

“Aku ingin pulang ke rumah… aku ingin perang ini selesai,” katanya pelan.

Ia juga mengungkapkan keinginan sederhana: sembuh dan mendapatkan kembali wajah masa kecilnya yang dulu.

Namun, harapan Lana terkendala kenyataan pahit. Israel masih memblokir pintu keluar Gaza, menghancurkan rumah sakit, dan melarang masuknya obat-obatan serta alat kesehatan.

Menurut Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), lebih dari 10.500 pasien di Gaza—termasuk 4.000 anak-anak—memerlukan evakuasi medis mendesak yang tak kunjung terwujud.

Kehidupan yang terbalik

Ayah Lana, Khalil Al-Sharif, mengatakan bahwa putrinya sebelumnya dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif.

Namun kini, ia menjadi pendiam, enggan berbicara, dan sering menyendiri.

“Dia tidak hanya sakit secara fisik, tapi juga secara emosional dan psikologis,” ujar Khalil.

Selain kondisi mental yang terganggu, Lana juga mengalami kekurangan gizi. Bapaknya menjelaskan bahwa kehidupan di pengungsian, yang serba kekurangan, memperburuk kondisi kesehatan putrinya.

Seperti banyak warga Gaza lainnya, Lana kekurangan asupan makanan bergizi karena kelangkaan pangan akibat blokade dan serangan yang terus berlangsung.

Krisis kemanusiaan yang terus memburuk

Sejak dimulainya agresi Israel pada 7 Oktober 2023, lebih dari 172.000 warga Palestina, sebagian besar anak-anak dan perempuan, telah menjadi korban tewas atau terluka.

Sekitar 11.000 orang dinyatakan hilang. Dunia telah berulang kali menyerukan penghentian kekerasan, termasuk melalui keputusan Mahkamah Internasional, namun seruan itu diabaikan.

Kisah Lana mencerminkan tragedi kolektif yang dialami anak-anak Palestina: tubuh yang belum tumbuh sempurna, tetapi sudah dipaksa memikul beban perang yang bahkan tak sanggup ditanggung orang dewasa.

Rambut yang memutih di usia dini adalah simbol paling sunyi dari keganasan yang masih berlangsung.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular