Lembaga Penyiaran Israel mengungkapkan pada hari Selasa adanya kekhawatiran di Tel Aviv terhadap Presiden Suriah, Ahmad Al-Sharaa, yang dituduh bersikap keras dan berupaya merusak keamanan Israel.
Lembaga tersebut mengutip sumber keamanan Israel—yang tidak disebutkan namanya—yang mengatakan bahwa Tel Aviv telah mengamati adanya tren “yang mengkhawatirkan” yang dipimpin oleh Presiden Suriah Ahmad Al-Sharaa.
Sumber tersebut menyatakan bahwaPresiden Al-Sharaa adalah seorang Islamis yang mengenakan dasi, dia adalah musuh yang keras kepala dan bukan mitra untuk berdialog.
“Kami memahami bahwa Al-Joulani (Al-Sharaa) adalah musuh yang mencoba menjual citra baru ke Barat, sementara pada saat yang sama bekerja untuk merusak keamanan Israel,” katanya.
Lembaga penyiaran tersebut mengklaim bahwa Al-Sharaa telah membebaskan semua anggota Hamas dan Jihad Islam yang ditahan selama pemerintahan Bashar Al-Assad.
“Dan beberapa di antaranya kini telah terlibat dalam aktivitas teroris melawan Israel,” imbuhnya.
Pada 8 Desember 2024, faksi-faksi Suriah berhasil mengambil alih kendali negara tersebut, mengakhiri 61 tahun kekuasaan Partai Baath dan 53 tahun pemerintahan keluarga Assad.
Serangan Israel
Lembaga penyiaran tersebut juga mengklaim bahwa “ran mulai mencari cara untuk mempertahankan kehadirannya di Suriah setelah jatuhnya rezim Assad.
“Salah satu caranya adalah dengan mendukung sel-sel Hamas dan Jihad Islam di dalam Suriah,” katanya.
Lembaga itu mengutip pernyataan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang mengomentari kekerasan yang melanda pesisir Suriah bulan lalu.
“Al-Joulani telah memperlihatkan wajah aslinya setelah melepas topeng yang dikenakannya,” tegasnya.
Pada 6 Maret lalu, terjadi ketegangan keamanan di wilayah pesisir Suriah akibat serangan terkoordinasi oleh sisa-sisa rezim Assad terhadap patroli dan pos-pos keamanan, yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka.
Setelah itu, pasukan keamanan melakukan operasi penyisiran yang diiringi dengan bentrokan hingga akhirnya situasi kembali stabil.
Lembaga penyiaran tersebut menambahkan bahwa Katz telah beberapa kali menegaskan bahwa Israel akan membela dirinya dari ancaman apa pun yang datang dari Suriah.
Dengan intensitas yang hampir setiap hari, Israel telah melakukan serangan udara di Suriah selama beberapa bulan terakhir.
Akibatnya, menewaskan warga sipil dan menghancurkan lokasi-lokasi militer serta persenjataan tentara Suriah. Meskipun pemerintahan baru Suriah belum pernah mengancam Tel Aviv dalam bentuk apa pun.
Sejak tahun 1967, Israel telah menduduki sebagian besar Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan memanfaatkan situasi baru di negara itu setelah jatuhnya rezim Bashar Al-Assad.
Israel kemudian menduduki zona penyangga Suriah dan mengumumkan runtuhnya Perjanjian Pemisahan Pasukan antara kedua belah pihak yang ditandatangani pada tahun 1974.