HomeBeritaMantan penasihat Trump desak putra Netanyahu dikirim perang ke Iran

Mantan penasihat Trump desak putra Netanyahu dikirim perang ke Iran

Steve Bannon, mantan penasihat Presiden AS Donald Trump, menyerukan agar putra Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yaitu Yair Netanyahu, dideportasi dari Amerika Serikat dan dikirim untuk bertempur di garis depan, di tengah berlanjutnya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, menurut laporan Anadolu.

Berbicara di layanan streaming sayap kanan Real America’s Voice, Bannon mempertanyakan mengapa Yair berada di Miami untuk berlibur saat serangan terhadap Iran sedang berlangsung.

“Anak Netanyahu ada di Miami, usir dia besok,” katanya, sambil mendesak Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) untuk bertindak.

“Di mana DHS saat dibutuhkan? Kembalikan dia ke sana. Kenakan seragam padanya. Biarkan dia berada di gelombang pertama,” tambah Bannon.

Bannon juga memperluas kritiknya kepada para pangeran dari negara-negara Teluk Arab yang bersekutu dengan Washington. Ia berpendapat bahwa mereka juga harus dideportasi dari kota-kota seperti London dan dikirim untuk bertempur di kawasan Teluk, seiring adanya indikasi bahwa AS mungkin meluncurkan operasi darat.

Baik Yair maupun saudaranya, Avner, belum menyelesaikan wajib militer di Israel, meskipun keduanya sudah cukup umur.

Bannon sendiri pernah menjabat sebagai penasihat senior selama masa jabatan pertama Trump dan masih menjadi suara berpengaruh dalam gerakan “Make America Great Again” (MAGA).

Amerika Serikat dan Israel telah melancarkan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler