Thursday, February 27, 2025
HomeBeritaMediapart: Risiko kekacauan di kamp eks ISIS semakin meningkat

Mediapart: Risiko kekacauan di kamp eks ISIS semakin meningkat

Situs Mediapart melaporkan bahwa rumor mengenai penarikan bantuan Amerika Serikat (AS) yang diperuntukkan bagi pengawasan dan suplai dua kamp, Al-Hol dan Roj, di Suriah telah memicu kepanikan di kamp yang menampung ribuan eks anggota ISIS selama bertahun-tahun.

Dalam laporan bersama oleh Annette Dwidet dan Gabriela Keller dari situs Correctiv, disebutkan bahwa dampaknya langsung terasa.

Perempuan, anak-anak, dan remaja berkerumun di sekitar pusat sebuah organisasi non-pemerintah lokal begitu mendengar kabar bahwa para relawan di kamp Roj mungkin harus meninggalkan posisinya.

Amar Salah (nama samaran), seorang pekerja kemanusiaan di Roj, menceritakan kepanikan itu bermula.

“Seorang staf organisasi non-pemerintah secara spontan mengatakan bahwa mereka tidak yakin bisa melanjutkan pekerjaan mereka,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa risiko yang saat ini terjadi sangat tinggi.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa kamp Roj, yang dihuni sekitar 2.600 orang, dan kamp Al-Hol, dengan sekitar 40.000 penghuni, berlokasi di padang pasir utara Suriah dekat perbatasan Irak.

Kedua kamp ini terutama menampung istri dan anak-anak mantan anggota ISIS dari lebih dari 50 negara, termasuk Tiongkok, Rusia, Bosnia, Inggris, dan Jerman.

Kekhawatiran yang meningkat

Jerman menyatakan kekhawatirannya bahwa para pendukung ISIS yang ditahan di 27 penjara di utara Suriah dapat melarikan diri dan kembali ke Jerman.

“Situasi sedang dipantau dan dianalisis dengan cermat,” kata seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri Jerman.

Menurut laporan, perlindungan kedua kamp tersebut menjadi tanggung jawab Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang berafiliasi dengan pemerintahan otonomi Kurdi.

Namun, dengan dukungan organisasi internasional yang bertanggung jawab atas keamanan, penyediaan makanan, air bersih, obat-obatan, dan sanitasi.

Bantuan ini sebelumnya didanai oleh Departemen Luar Negeri AS, yang kini telah mengurangi kontribusinya.

Namun, masyarakat Kurdi di wilayah tersebut semakin khawatir akan ancaman dari sel-sel tidur ISIS. Terutama, karena dalam beberapa penggerebekan ditemukan anggota senior ISIS bersembunyi di dalam kamp-kamp ini, bersama dengan bahan peledak dan senjata.

Beberapa perempuan di kamp bahkan masih terang-terangan mendukung ideologi ISIS.

Ketidakstabilan politik di Suriah turut memperburuk situasi. Konflik antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan pemerintahan transisi baru Suriah semakin meningkat, dengan pihak pemerintahan baru meminta milisi Kurdi untuk menyerahkan senjata mereka.

Sementara itu, pertempuran antara pasukan Kurdi dan militer Turki serta kelompok bersenjata yang didukungnya terus berlanjut di wilayah utara.

Menurut dua organisasi Amerika yang bekerja di kamp-kamp tersebut, mereka tidak akan dapat melanjutkan aktivitasnya.

Bantuan kemanusiaan hampir tidak tersedia, terjadi kekurangan roti dan layanan kesehatan, program pendidikan terhenti, serta dukungan sosial, medis, dan psikologis bagi penghuni kamp sangat dikurangi.

“Tanpa dukungan Amerika, kami akan menghadapi masalah besar, dan dampaknya sudah mulai terasa hanya beberapa jam setelah pengumuman penangguhan bantuan,” kata seorang pejuang Kurdi yang ditempatkan di kamp Al-Hol.

Sementara itu, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa dukungan untuk mengawasi tahanan ISIS tidak dapat berlangsung selamanya.

Laporan tersebut juga mengungkapkan ketidakpercayaan besar antara penjaga Kurdi dan penghuni kamp. Terutama mereka yang masih memiliki sekolah yang mengajarkan ideologi ISIS, pengadilan syariah, serta polisi moral perempuan yang menindak mereka yang tidak mengenakan niqab.

“Jika kamp-kamp ini kehilangan kendali, tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Mereka sudah mulai mengorganisir diri mereka di dalam kamp dan penjara,” ungkap Salah.

Beberapa orang di kamp bahkan percaya bahwa pemerintahan transisi baru yang dipimpin oleh Ahmad Al-Shara akan membebaskan mereka.

“Ini sangat mengkhawatirkan. Saat Anda mendekati mereka, Anda akan menyadari bahwa mereka masih memiliki pola pikir ekstrem yang sama. Mereka hanya menunggu isyarat,” imbuh Salah.

Seorang pejabat dari salah satu lembaga bantuan AS yang mengawasi keamanan di kamp mengatakan bahwa kekacauan akibat pembekuan dana Amerika dapat memudahkan pelarian pendukung ISIS dari pusat penahanan dan kamp-kamp.

Selain itu, katanya, dapat juga memulai perjalanan mereka kembali ke negara asal mereka seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Prancis, dan Belgia.

“Keputusan Amerika sangat mengejutkan. Kamp Al-Hol adalah bom waktu yang siap meledak,” kata seorang pejuang Kurdi.

Sementara itu, Muhammad Sheikh Ayyub, direktur Middle East Consulting Solutions, yang memantau situasi di kamp-kamp atas nama berbagai organisasi kemanusiaan, mengatakan bahwa solusi bagi kamp Al-Hol dan Roj harus segera ditemukan.

“Solusinya jelas, yaitu repatriasi (pemulangan ke negara asal),” ujarnya.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular