Friday, August 29, 2025
HomeBeritaMengenal Unit 641, divisi militer Israel perampok harta warga Palestina

Mengenal Unit 641, divisi militer Israel perampok harta warga Palestina

Sebuah unit khusus di dalam tubuh militer Israel, yang berada di bawah Divisi Teknologi dan Logistik, dikenal dengan nama Unit 641.

Unit ini menempatkan dirinya di garda terdepan ketika berhadapan dengan warga Palestina, dan oleh militer Israel dianggap sebagai salah satu unit paling penting yang beroperasi di “wilayah musuh”.

Unit tersebut dibentuk pada 1976 dan sejak itu terlibat dalam berbagai operasi militer Israel, baik di Tepi Barat maupun dalam perang melawan Lebanon dan Gaza.

Terbaru, Unit 641 ikut serta dalam operasi militer besar Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023, yang oleh Tel Aviv diberi nama “Pedang Besi” melawan kelompok perlawanan Palestina.

Namun, bagi warga Palestina, kiprah unit ini bukan sekadar operasi militer. Mereka menuduh Unit 641 dan pasukan Israel secara umum telah menjarah harta benda dari rumah-rumah warga maupun toko penukaran uang di Gaza dan Tepi Barat.

Tuduhan itu mencakup kehilangan uang tunai bernilai jutaan dolar serta perhiasan berharga yang hilang dalam setiap operasi darat Israel.

Akar historis

Konsep “ghanimah” atau rampasan perang bukan hal asing dalam kosakata militer Israel.

Dalam bahasa Ibrani dikenal dengan istilah shalal, yang berarti barang, harta, atau tanah milik musuh yang direbut secara paksa oleh tentara Israel.

Gagasan itu berakar pada tradisi keagamaan dan narasi sejarah Yahudi yang telah lama melekat.

Sejak awal berdirinya negara Israel pada 1948, tugas mengumpulkan rampasan perang ditempatkan di bawah divisi teknis dalam lembaga penelitian militer.

Sementara itu, Unit Penyelidikan 560 bertugas mengumpulkan dokumen-dokumen penting dari wilayah musuh.

Barulah pada 24 Oktober 1976, sebuah unit baru dibentuk khusus untuk menghimpun rampasan perang dalam kerangka intelijen dan teknologi.

Unit tersebut diprakarsai oleh Kolonel Simha Biberman dan perwira operasi Zvi Amitai.

Keduanya mendirikan unit ini sebagai bagian dari Hatzev—batalion intelijen Angkatan Darat Israel.

Langkah itu didorong oleh serangkaian kajian militer yang mengevaluasi pelajaran dari Perang Oktober 1973.

Dalam perjalanannya, unit tersebut sempat mengalami perubahan. Pada 2018, militer Israel membubarkan Unit 641 dan memindahkan tugasnya ke komando pasukan darat.

Dengan demikian, tugas mengumpulkan dan membawa hasil rampasan perang ke wilayah Israel dilaksanakan oleh pasukan yang berada di medan tempur.

Namun, keputusan itu hanya bertahan sebentar. Setelah pecahnya perlawanan Palestina pada 7 Oktober 2023—dikenal dengan nama “Thaufan al-Aqsha”—militer Israel buru-buru menghidupkan kembali Unit 641.

Hanya enam hari setelah pertempuran besar itu pecah, unit ini kembali aktif untuk melanjutkan peran lamanya.

Tujuan dan spesialisasi

Peran utama Unit 641 adalah mengumpulkan, mendokumentasikan, dan memindahkan segala bentuk rampasan perang—mulai dari senjata, dokumen, hingga harta lain milik lawan—untuk kemudian diserahkan kepada badan intelijen dan penelitian militer Israel.

Secara garis besar, tujuan unit ini dapat dirinci sebagai berikut:

  • Mengumpulkan dan mengklasifikasi rampasan perang. Hal ini dilakukan ketika pertempuran berlangsung maupun setelahnya. Fokus utama prajurit Unit 641 adalah mengamankan peralatan dan dokumen dari medan tempur.
  • Evaluasi dan analisis. Sebagian dari hasil rampasan kemudian diserahkan kepada pakar militer untuk dianalisis, dengan tujuan memperoleh informasi intelijen terkait pihak lawan.
  • Pemanfaatan ulang. Beberapa jenis rampasan, terutama amunisi, dipakai kembali oleh militer Israel. Sementara itu, uang tunai yang ditemukan masuk ke rekening Kementerian Pertahanan.
  • Peningkatan kinerja militer. Rampasan juga dijadikan bahan kajian untuk menganalisis “implikasi operasional” yang bisa memperbaiki strategi tentara di lapangan.
  • Penerjemahan dokumen. Semua dokumen yang disita diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani.
  • Penghancuran peralatan lawan. Peralatan tempur yang dianggap tidak berguna atau berisiko di medan perang dimusnahkan.

Mekanisme kerja

Unit ini bekerja dengan pola yang rapi: barang-barang rampasan dibawa keluar dari medan tempur, lalu diinventarisasi, didokumentasikan, dan didistribusikan ke gudang khusus.

Untuk dokumen, unit ini melakukan penelitian intelijen mendalam sebelum menyimpannya sebagai arsip guna kepentingan di masa depan.

Sementara itu, terhadap peralatan militer yang diperoleh, unit menentukan apakah akan menjualnya, mendaur ulang, atau menggunakannya kembali bagi kepentingan tentara Israel.

Adapun uang tunai maupun emas yang dirampas dihitung terlebih dahulu, lalu dibawa dengan kendaraan lapis baja ke bagian perbendaharaan utama Kementerian Pertahanan di Tel Aviv.

Di sana, proses penghitungan diulang kembali sebelum dana itu dimasukkan ke dalam Bank Israel sebagai barang sitaan.

Markas dan struktur

Markas utama Unit 641 berada di pangkalan militer Tzrifin, dekat kota Rishon LeZion di selatan Tel Aviv.

Selain itu, unit ini memiliki cabang di berbagai kawasan, baik di utara maupun selatan Israel.

Di pangkalan militer Julis, anggota unit menangani senjata-senjata hasil rampasan yang dianggap berbahaya karena sewaktu-waktu dapat meledak, seperti roket portabel maupun bahan peledak rakitan.

Unit ini sendiri mayoritas terdiri dari prajurit cadangan Angkatan Darat Israel. Jumlahnya diperkirakan mencapai 500 personel, dengan latar belakang keahlian beragam, mulai dari intelijen, teknik militer, hingga logistik.

Jejak operasi

Sejak dibentuk, Unit 641 tercatat terlibat dalam sejumlah operasi militer Israel di Lebanon, Suriah, Tepi Barat, hingga Jalur Gaza.

  • Lebanon dan Suriah

Unit ini pertama kali terjun dalam Operasi Litani pada 1978, ketika Israel melancarkan agresi ke selatan Lebanon.

Dalam perang 1982, unit ini mengklaim berhasil memperoleh dokumen berisi lokasi artileri Suriah dan peta ladang ranjau, selain juga menyita senapan penembak jitu kaliber 7,62 mm serta peralatan penglihatan malam.

Pada perang 2006, unit tersebut kembali aktif di Lebanon dan mengaku menguasai “peta peluncuran roket, perangkat radio, serta sejumlah kendaraan militer” milik Hizbullah.

Dalam perang Israel–Lebanon 2024, klaimnya jauh lebih besar: dari uang tunai, emas batangan, roket canggih, hingga bahan peledak, senapan, perangkat komunikasi militer, busur kompas, teropong malam, seragam, sepatu bot, sampai puluhan kendaraan lapis baja.

Selain itu, unit ini juga menyebut telah menguasai senjata dan tank milik rezim Suriah yang sudah tumbang, ketika Israel melakukan infiltrasi di sejumlah wilayah Suriah.

  • Jalur Gaza

Di Gaza, Unit 641 terlibat dalam agresi Operasi Protective Edge pada musim panas 2014.

Saat itu, militer Israel menyatakan berhasil menyita sejumlah peralatan militer serta uang tunai milik Brigade Izzuddin al-Qassam—sayap bersenjata Hamas.

Data resmi Israel menyebutkan hasil sitaan berupa 230 pucuk senjata dan peluncur, 30 teropong malam, 50 roket, 750 perangkat komunikasi dan elektronik, sekitar 1.800 alat tempur, serta hampir 500 bom dan amunisi.

Dalam agresi “Pedang Besi” pada Oktober 2023, yang digelar sebagai respons atas serangan “Thaufan al-Aqsha”, unit ini kembali mengklaim keberhasilan.

Selain “informasi intelijen penting”, mereka menyebut berhasil menyita perangkat teknologi, sejumlah besar uang tunai, emas batangan, senjata, komputer, telepon pintar, hingga peta jaringan terowongan Hamas.

  • Tepi Barat

Di Tepi Barat, Unit 641 turut serta dalam Operasi Defensive Shield pada Maret 2002. Dalam operasi itu, mereka mengklaim menyita dokumen dan senjata dari berbagai kelompok perlawanan Palestina.

Selain itu, mereka juga menyebut menemukan dokumen intelijen dari kantor lembaga keamanan Otoritas Nasional Palestina.

Tuduhan Penjarahan

Meski militer Israel menyebut aktivitas Unit 641 sebatas “mengumpulkan rampasan perang”, banyak warga Palestina menuding hal itu hanyalah kedok dari praktik penjarahan.

Mereka mengaku kehilangan uang tunai, emas, dan barang-barang berharga ketika tentara Israel melakukan operasi militer, terutama di Gaza.

Israel menolak tuduhan tersebut dengan alasan bahwa yang mereka ambil hanyalah aset milik Hamas dan kelompok perlawanan bersenjata. Namun, pemberitaan di Israel sendiri sempat menguatkan kecurigaan itu.

Pada 28 Februari 2025, harian Yedioth Ahronoth melaporkan adanya “kasus pencurian barang milik warga Palestina oleh prajurit Israel”.

Meski disebut bersifat individual, laporan itu mengungkap adanya kekhawatiran di tubuh militer bahwa fenomena pencurian bisa meluas.

Bahkan, polisi militer kini mewajibkan pemeriksaan ketat terhadap setiap kendaraan yang keluar dari pangkalan—terutama yang membawa hasil sitaan dari Gaza atau Lebanon.

Data terbaru menyebutkan, sejak pecahnya perang Pedang Besi pada Oktober 2023, Unit 641 telah mengumpulkan sekitar 180 ribu pucuk senjata, emas batangan, serta uang tunai senilai puluhan juta dolar dari Gaza, Lebanon, dan Suriah.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular