TEHERAN – Dalam pernyataan pertamanya sejak resmi menjadi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa seluruh basis militer Amerika Serikat di kawasan harus segera ditutup, jika tidak akan menjadi sasaran serangan.
Pernyataan Khamenei, putra dari pemimpin Iran yang tewas Ayatollah Ali Khamenei, dibacakan oleh seorang presenter di IRIB, lembaga penyiaran resmi Iran. Sejak konflik dimulai, Khamenei sendiri belum terlihat secara publik.
“Kami di Iran percaya pada persahabatan dengan negara-negara tetangga, namun kami tetap akan menargetkan basis-basis militer AS,” kata Khamenei.
Khamenei menekankan bahwa Iran tidak ingin mendominasi kawasan, tetapi siap membangun persatuan dan hubungan hangat dengan negara tetangga.
“Negara-negara di kawasan harus menutup seluruh basis militer AS; jika tidak, kami akan dipaksa untuk menyerang lagi,” ujarnya.
Selain itu, Khamenei menyatakan bahwa “tuas pemblokiran Selat Hormuz” akan tetap digunakan. Selat Hormuz merupakan jalur maritim sempit antara Semenanjung Musandam di Oman dan Iran, yang menjadi jalur penting bagi sekitar sepertiga produksi gas alam cair (LNG) dan satu per lima produksi minyak dunia.
Selama lebih dari seminggu terakhir, Iran secara efektif menutup jalur ini dan mengancam akan menyerang kapal tanker yang mencoba melintas. Beberapa tanker dilaporkan telah diserang dalam beberapa hari terakhir.
Khamenei juga menyebutkan kemungkinan aktivasi “front lain” yang dinilai dapat memberikan keuntungan strategis, jika kondisi perang terus berlanjut. Ia menyebut bahwa perlawanan di Yaman melalui kelompok Ansar Allah (Houthi) “juga akan melakukan tugasnya”, sementara kelompok bersenjata di Irak “ingin membantu” Iran. Hingga saat ini, Houthi belum terlibat dalam konflik.
Ia menambahkan, “Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para pejuang pemberani yang bekerja dengan baik di saat negara kami sedang berada di bawah tekanan dan serangan.”
Khamenei juga menyatakan bahwa warga Iran yang terluka dalam konflik akan menerima perawatan gratis dan kompensasi finansial tertentu. Ia menekankan bahwa hal tersebut akan dibayar melalui ganti rugi perang.
“Kami akan menuntut ganti rugi perang dari musuh yang memaksakan perang ini kepada kami. Jika musuh menolak, kami akan menyita aset-asetnya sebanyak yang kami anggap perlu; dan jika tidak memungkinkan, kami akan menghancurkan properti setara nilainya,” ujarnya.
Perlu dicatat, pada 28 Februari, serangan udara AS dan Israel menewaskan Ayatollah Ali Khamenei beserta beberapa anggota keluarga, termasuk istri Mojtaba Khamenei Zahra Adel, ibu Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, seorang putra, dan seorang saudara perempuannya.


