JERUSALEM — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel tidak akan menarik pasukannya dari garis kendali saat ini di Jalur Gaza, di tengah tekanan dari Dewan Perdamaian (Board of Peace) pimpinan mantan Presiden AS Donald Trump untuk melanjutkan proses pelucutan senjata Hamas. Pernyataan tersebut disampaikan seorang pejabat senior Israel setelah pertemuan antara Netanyahu dan Direktur Jenderal Board of Peace, Nickolay Mladenov, di Jerusalem pada Senin (3/8). Pertemuan itu turut memicu perpecahan terbuka di dalam kabinet keamanan Israel.
Pertemuan dengan Board of Peace
Mladenov dan timnya bertemu dengan Netanyahu untuk membahas proses pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza, sebagai bagian dari peta jalan 15 poin Board of Peace untuk menjalankan rencana perdamaian 20 poin yang lebih luas. Board of Peace menyebut pertemuan tersebut berlangsung konstruktif dan mendetail, dengan Israel dan Board of Peace memiliki kesamaan pemahaman soal tujuan akhir proses. UPI
Namun sejak peta jalan itu diumumkan pekan lalu, pasukan Israel disebut terus melancarkan serangan di Gaza, sementara sejumlah pejabat senior kabinet menolak penghentian operasi militer dan menyerukan agar penargetan terhadap anggota Hamas tetap dilanjutkan. Menurut dua sumber yang mengetahui isi pertemuan, Mladenov turut mendesak Netanyahu untuk menghentikan serangan Israel di Gaza. UPI
Penolakan dari Sayap Kanan Kabinet
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Permukiman Orit Strock mendesak Netanyahu menolak peta jalan tersebut, dengan alasan dokumen yang dipublikasikan Board of Peace berbeda dari versi yang sebelumnya dipresentasikan kepada Kabinet Keamanan. Keduanya menuntut agar Kabinet Keamanan segera digelar ulang untuk mencabut persetujuan atas rencana tersebut.
Smotrich menyebut peta jalan itu tidak mensyaratkan pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza, membatasi ruang gerak operasi militer Israel, tidak mengaitkan rekonstruksi Gaza dengan syarat demiliterisasi, bahkan kembali mencantumkan gagasan negara Palestina sebagai salah satu tujuan diplomatik. Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir turut mendukung sikap penolakan tersebut, dengan menyatakan hanya Israel yang mampu melumpuhkan Hamas. Israel Hayom
Seorang pejabat senior Israel menegaskan bahwa Israel tidak akan mundur dari posisinya saat ini di Jalur Gaza dan akan terus menghilangkan ancaman apa pun terhadap warga sipil serta tentaranya. Sejumlah menteri kabinet lain menilai proses penarikan bertahap yang disebutkan dalam peta jalan itu tidak sejalan dengan posisi Israel, yang menghendaki penarikan pasukan baru dilakukan setelah Hamas sepenuhnya dilucuti. Ynetnews
Dampak terhadap Implementasi Gencatan Senjata
Perselisihan internal ini terjadi di tengah upaya penerapan fase kedua peta jalan perdamaian, yang mencakup penerjunan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) ke Gaza sebagai bagian dari rekonstruksi pascaperang. Smotrich dan Strock juga meminta agar penerjunan ISF ditunda hingga mandat dan cakupan tugasnya diperjelas.
Belum ada pernyataan resmi dari Netanyahu menanggapi tuntutan kedua menteri tersebut hingga berita ini diturunkan. Sementara itu, serangan Israel di Gaza dilaporkan masih berlangsung meski gencatan senjata resmi telah diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, dengan korban jiwa terus bertambah di tengah proses negosiasi politik yang belum menemui titik temu.


