Opini

Nge-Bakso Eps. IV, Waspada 4 F! Program Zionist Yahudi Hancurkan Pemikiran Pemuda Muslim

Di dalam surah Al-Isra’ (17), Allah ta’aalaa banyak membahas tentang Bani Israil, secara khusus pada ayat 2 sampai ke 8, dan akan disambung kembali pada beberapa ayat berikutnya. Hal ini perlu kita ketahui untuk mempelajari skenario nasib Yahudi di akhir zaman.

Baca surah Al-Isra ayat 5-8
Terjemahan bebasnya akan kita bahas pada kesempatan berikut:

Faidzaa jaa a wa’du uulaahumaa
Fa dalam bahasa kadiah Bahasa Arab adalah adatu syarat dan ia memerlukan jawabu syarat. Artinya, apabila datang janji pertama maka Kami kirimkan kepada kalian (Yahudi) (alaikum, makna yang disertakan kewajiban, kesulitan dan cobaan) hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung.

Namun saya pribadi, dari literasi yang saya baca, kehancuran Yahudi dari hamba-hamba ini terjadi pada masa Nabi Muhammad Saw. saat Nabi Saw berhasil mengusir suku Yahudi yang licik dari Madinah hingga keberhasilan khalifah Umar Bin Khattab membebaskan Baitul Maqdis dari genggaman Romawi saat itu. Setelah Bani Israil ini hancur, Allah berjanji untuk memberikan mereka kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Teman-teman harus mengetahui, keunikan orang-orang Yahudi adalah mereka memiliki darah keturunan dari jalur ibu. Karena dalam Islam nama anak biasanya disandingkan ke nama ayahnya, seperti Muhammad bin Abdullahh, Umar bin Khattab, Khalid bin Walid, dsb.

Dan Allah ta’aalaa memberikan mereka (orang Yahudi) kesempatan hidup untuk menguji mereka (orang-orang Yahudi). In ahsantum ahsantum lianfusikum apabila kalian berbuat baik maka kebaikan itu untuk kalian, wa in asa’tum falahaa apabila kalian berbuat buruk maka kalian akan menanggungnya.

Ini adalah bentuk kasih sayang dari Allah ta’aalaa. Faidzaa jaa a wa’dul aakhirati dan apabila datang perjanjian Allah yang kedua.

Nah di sinilah letak ayat yang menariknya teman-teman! Inilah kuncinya! apakah Yahudi itu bisa dikalahkan? Dan bagaimana langkah untuk merebut kembali kemenangan umat Islam.

Liyasuu wujuuhakum
Prof Abdul Fatah Aluwaisi menafsirkan ayat ini, menunjukkan bagaimana membongkar buruknya citra/image kebobrokan orang-orang Yahudi di akhir zaman. Di zaman saat sini adalah kesempatan kita untuk berkiprah. Saa a yasuu u artinya adalah jelek secara maknawi. Seperti yang kita lihat media masa yang begitu masif tersebar saat ini membungkus kekejeaman mereka (Zionis Yahudi) dengan wajah kemewahan. Maka tugas kita adalah membongkar itu semua. Kebobrokan akhlak dan image mereka secara tidak langsung adalah kehancuran bagi mereka.

Peringatan Nakbah (15 Mei 1948), adalah salah satu momen bagi kita untuk bisa memperingati bagaimana brutalnya Zionis Yahudi membunuh dan mengusir paksa warga Palestina dari tanah kelahirannya.

Dengan mengedukasi diri, mempelajari metodologi Al-Quran, serta mengingat tanggal-tanggal penting perjuangan dan duka warga Palestina, adalah salah satu cara sederhana kita untuk ikut memperjuangkan Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

Wa liyadkhulul masjida kamaa dakhaaluuhu awwala marrah,
Kunjungilah masjid Al-Aqsa, itu penting. Kita mendengar ada beberapa pendapat mengharamkan mengunjungi Masjid Al-Aqsa karena masih berada di bawah kekuasaan Israel. Paling tidak sekali dalam seumur hidup, kita mesti mengunjungi Masjid Al-Aqsha, mentadabburi bagaimana bentuk perjuangan kita dalam memperjuangkan Masjid Al-Aqsa dan mengenal para Murabithin, mereka adalah warga Palestina yang siap 24 jam menjaga kehormatan masjid Al-Aqsa.

Ayat ini juga menunjukkan isyarat bahwa kemenangan Palestina dan Masjid Al-Aqsha adalah untuk mereka yang cinta kepada masjid. Sebagaimana almarhum Koh Steven Indra Wibowo menyebutkan, surah Al-Isra ayat 1 ini adalah tanda penting bagaimana Allah ta’aalaa menggabungkan masjid sebagai tameng utama kita dalam membebaskan masjid Al-Aqsha dan membangun mawrah umat. Orang-orang yang senantiasa mmengerjakan shalat lima waktunya di masjid, dan cinta dengan kemamkuran masjid, maka dipastikan mereka sebagai pembangkit semangat perjuangan bagi agama Islam.

Waliyutabbiruu maa ‘alaw tatbiiraa
Maka keangkuhan mereka (orang Yahudi) akan dihancurkan sehancur-hancurnya.

Tambahan dari ustadzah Jinan: pilihan memilih yang baik dan buruk bagi orang-orang Yahudi akan terus ada hingga saat ini, namun jika keburukan yang terus mereka pertahankan, maka siap-siaplah, kebinasaan akan menimpa mereka.

Di dalam bahasa Arab, kata sa pada awal fi’il (kata kerja), contoh sa yadzhabu menunjukkan sesuatu yang segera dan pasti. Tapi bukan berarti ayat ini memberikan pemahaman kepada kita untuk biasa-biasa dan enteng-enteng saja menunggu kemenangan itu. Justru ayat ini adalah bocoran tentang kelemahan mereka (kaum Yahudi) dan menjadi semangat untuk kita bergerak berlomba-lomba merebut keutamaan yang terdapat di dalam kandungannya. Seperti yang dialami oleh Nabi Saw. pada saat menghadapi perang yang begitu dahsyat di masa dakwahnya, maka kini adalah pilihan bagi kita untuk mengambil kesempatan emas tersebut.

‘asaa rabbukum an yarhamakum
Mudah-mudahan Tuhan kalian (wahai Bani Israil) masih memberikan kasih sayang (rahmat-Nya) kepada kalian

Wa in ‘udtum ‘udnaa
Apabila kalian (Bani Israil) kembali melakukan kerusakan tersebut, maka tunggulah janji Kami..

Wa ja’alnaa jahannama nashiiraa
Nashiira adalah majas dari kata karpet, menyebutkan bagaimana ganasnya karpet neraka Jahannam bagi mereka yang mengingkari janji Allah.

Wallaahu a’lam bishowwaab.

Tanya Jawab
Pertanyaan dari Ogi,,
Bagaimana motivasi bagi kami, kaum muda untuk melawan masifitas Zionis Yahudi yang merongrong mindset generasi muda?
Ust. Husein: Orang-orang Gaza sering menyebutkan:
Al-kibaaruu yamuutuun, wa shigaaruu yanuusuun
Orang-orang tua akan mati, dan orang-orang muda muda lupa.

Senjata utama umat Yahudi adalah 4 F
Food = makanan (hanya mengikuti trend), tidak memandang halal haram,

Fashion = gaya hidup (pakaian), saat ini kita melihat fashion itu terbalik. Membutakan pola pikir kita anak muda. Ini adalah salah satu senjata pemusnah masal yang sengaja diagendakan Zionis Yahudi untuk menghancurkan generasi kaum muda.

Film = Movie fiksi, ilmiah dengan konten-konten rusak merupakan racun yang menggerogoti kita dan berusaha menggiring masyarakat untuk menerima LGBT.

Fun = Kesenangan yang membuat hati keras. Itu semua adalah senjata pemusnah masal untuk menghancurkan akidah kita umat Islam.

Pertanyaan dari Bisma: terkait fenomena Palestina merdeka via media, apakah itu strategi untuk mendapatkan perhatian dunia khususnya umat muslim?
Itu berita hoax, Palestina belum merdeka
Misi-misi kita adalah membuka kebobrokan Zionis melalui media. Silahkan bergabung dan berkontribusi bersama kami di Gazamedia.net.

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah hadir pada Nge-Bakso Eps IV kali ini. Mudah-mudahan bermanfaat dan sampai bertemu di episode selanjutnya.

Ngebakso Eps. III, Spoiler Nasib Yahudi di Akhir Zaman

GAZAMEDIA, BOGOR– Berikut adalah catatan Ngobrol Bebas Perkara Al-Aqsa (‘Nge-Bakso’) episode III bersama ustadz Husein Gaza dan Ustadzah Jinan Muslim. Tulisan berikut merupakan hasil dikte penulis dalam memaparkan penjelasan dari pembicara. Banyak kekurangan dan beberapa kalimat yang belum sempurna. Mudah-mudahan esensi dan hikmah yang dipaparkan bisa memberikan kontribusi kepada pembaca.

Husein Gaza, “Seperti biasa, kita akan membahas Al-Aqsa, maka kita menjadikan Al-Quran sebagai referensi, Surah Al-Isra’: Ayat 1-6. Saya akan flashback secara singkat penjelasannya. Ayat pertama Allah ta’aalaa menjelaskan kepada kita perjalanan Isra’ Mi’raj yang terjadi 2 tahun sebelum hijrahnya Nabi Saw, pada malam hari di hari Jumat dari masjidil Haram ke Masjidil Al-Aqsa. Di mana Allah ta’aalaa menunjukkan kebesarannya.

Kemudian ayat kedua Allah memberikan petunjuk kepada Bani Israil berupa kitab bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah. Ada perbedaan dasar pada ayat satu dua dan tiga, di mana 3 nabi yang mulia, Nabi Muhammad, Nabi Musa dan Nabi Nuh. Surah ini juga dinamakan Isra atau juga Bani Israil. Bani Israil adalah anak keturunan Nabi Yakub dan umat Nabi Musa yang lari dari kekejaman Firaun.

Ciri akhir pada surah Al-Isra dia diakhiri pada setiap ayat dengan huruf alif, (1) innahuu huwassaamii’un bashiiraa, (2) …..wakiillaa, (3)….syakuuraa
Siapa sih yang paling berkepentingan dalam merebut masalah di Palestina. Adalah kelompok Zionist. Sebagaimana lambang bendera ‘Israel’.

Kemudian kita lanjut pada ayat, Dzurriyatan man hamalna ma’a nuuh. Kenapa Allah mention Nabi Nuh? Karena Nabi Nuh adalah hamba yang sangat bersyukur. Ayat ini seolah ‘menggeplak’ Bani Israil bahwa Nabi Nuh atau Noah adalah panutan yang perlu diikuti.
Wa qadhainaa ilaa banii israaiil fil kitaabi latufsidunna fil ardhi marratain.
Dan telah Kami tetapkan kepada Bani Israil bahwa mereka akan membawa kerusakan…..,
Karena pada masa itu, Allah ta’aalaa memberikan kelebihan pada Bani Israil berupa kemajuan teknologi dan pemikiran sebagai ujian bagi mereka. Dan kapan marratain (kedua kali) itu terjadi? Para ulama mufassirin berpendapat, kerajaan Yahudi pernah dihancurkan dan terjadi pada masa Nabi Sulaiman dan Babilonia. Kedua pada masa Nabi Muhammad, saat mereka (Yahudi) menguasi pasar-pasar di Madinah (Bani Qainuqa, Bani Khuraizah…) dan memberi pengaruh pada 2 kerajaan besar saat itu, Romawi dan Persia.

‘ibaadanl lanaa dimaksud dengan para sahabat Rasulullah yang berhasil menaklukan Al-Maqdis.

Tsumma radadnaa lakum….. kemudian kami berikan kesempatan kepada kalian, dan kami bantu kalian dengan harta dan keturunan, dan menjadikannya masyarakat yang banyak keturunannya.

 

Aktsara nafiiraa menunjukkan banyaknya simpatisan yang mendukung tujuan mereka (yahudi) tanpa arah dan tujuan yang jelas.
…..
Sesi Pertanyaan.
Hanisa Asma, dari Bekasi
Mengenai Zionisme, tidak semua orang Zionisme itu Yahudi, lalu bagaimana cara kita membedakan mana orang Yahudi yang baik dan Yahudi yang buruk?

Ust. Husein: Tidak perlu menjadi Yahudi untuk menjadi Zionis. Orang Yahudi yang menolak tinggal di Palestina, berarti dia bukan Zionis. Di sisi lain, semua orang Yahudi yang hijrah/eksodus ke Palestina, sudah dipastikan mereka adalah Zionist. Meskipun secara kasat mata mereka baik, bersahabat, namun itu bukan patokan. Karena di Al-Quds Tepi Barat, orang-orang ‘Israel’ berusaha senyum untuk memanipulasi simpatisan umat Islam atau turis yang berkunjung dengan tujuan ‘menghalalkan’ kekejaman mereka. Dan seluruh umat Yahudi pendatang di Palestina mereka tahu bahwa mereka mengambil hak milik warga Palestina.

Seperti kita ketahui, platform Nas Daily yang menyebutkan, ada beberapa orang Palestina yang memegang pasport Israel dan tinggal wilayah jajahan 48.
Perlu kita cermati hal ini juga terjadi sebagian pada orang-orang Palestina namun jumah mereka sangat sedikit. Ada juga yang mendapat paspor Israel tapi di hati mereka menangis akan hal ini. Karena dipaksa dan tidak ada pilihan lain.

Pertanyaan 2: Ibu Imra dari Aceh
Bagaimana memahami maksud ayat Surah Al-Maidah ayat 21?

Bani Israil pada ayat ini bukanlah beragama Yahudi, tetapi Allah memerintahkan Bani Israil ke Palestina pada saat mereka menganut agama Islam. Dan Yahudi terkenal dengan umat penakut

Pertanyaan 3: Lutfiyah Al-Qounati

Bagaimana cara kita untuk bisa menshare edukasi tentang Al-Aqsha di sosial media?
Ustadzah Jinan: kita memerlukan gerakan yang lebih masif. Dan melibatkan banyak aktivis. Dr. Abdul Fattah Al-Uwaisi (spesialis pakar ke-Palestinaan) mencatat ada 3 cara membebaskan Palestina dari cengkraman penjajah yang disebut dengan Al-Mutsallats At-Tahrir (Segitiga Pembebasan). Pertama, Pembebasan Pemahaman (At-Tahrir At-Tafkiiri), artinya memberikan edukasi, mencari, membaca dan menshare informasi berupa sejarah dan enslikopedia Palestina, darinya akan tumbuh rasa cinta. Sebagaimana hadits: Allah menetapkan hamba-hamba pilihannya di Syam (termasuk Palestina). Dengan hadits ini bisa memberikan kita motivasi untuk semangat mempelajari ilmu agama Islam dan sejarah khusunya. Kedua adalah Pembebasan Politik (kolaborasi, sinergitas), dan ketiga dengan Pembebasan Senjata (At-Tahrir ‘Askariy).

Bagi teman-teman yang ingin share informasi Al-Aqsa dan catatan ‘Nge-Bakso’ bisa lihat tulisan terbaru di Gazamedia.net

Sekian diskusi kita hari ini, sampai ketemu di Ngobrol Bebas Perkara Al-Aqsha selanjutnya ya.

Birruuh biddaam nafdiika yaa Aqshaa

Waallaahu a’lam bishshawwaab.

 

Perempuan Pejuang Al-Aqsha: Ustadzah Zena Said, MA

Penulis: Yani Nuraeni

GAZAMEDIA, – Kisah pejuang wanita Palestina yang bertahan hidup dalam penjajahan bertahun-tahun lamanya demi memperjuangkan kiblat pertama umat Islam, pejuang itu Ustadzah Zena Said beliau merupakan guru Majlis Taklim di Masjidil Aqsha. Zionis Israel menggunakan berbagai cara untuk menjadikan impian kota Al Quds menjadi milik mereka, dengan memiliki ciri-ciri keyahudian, menjadikan kota Al Quds kota “Yahudi” semata, begitulah impian “Yahudi”.

Penyerangan yang dilakukan Zionis “Israel” membuat kondisi Palestina buruk, berbagai penderitaan yang dialami di Al Quds, tidak dapat digambarkan karena nyatanya lebih dari apa yang digambarkan. Zionis yang sengaja mempersulit aktivitas kehidupan warga di kota Al Quds, serta kondisi sosial yang sengaja dihancurkan, penghancuran rumah, pelecehan terhadap perempuan dan anak-anak menjadi pihak yang terpengaruh dengan kondisi ini tidak mendapat tempat yang teduh dan nyaman.

Tak hanya permasalahan penghancuran rumah, kisah Ustadzah Zena Said yang selalu khawatir ketika mengantarakan anaknya ke sekolah, khawatir bisa pulang atau tidak, yang dialaminya Zionis menangkap anaknya di penjara 10 tahun lamanya, beliau hanya berharap anaknya bisa pulang dengan kondisi syahid, kondisi terhormat, dibandingkan pulang dengan kondisi tak bermoral. Zionis sengaja menargetkan moral aqidah, agar mereka rusak dan tidak melanjutkan perjuangannya, menjadi sosok manusia yang tidak berguna yang menjadi sampah masyarakat, dan Zionis berupaya menyebarkan Narkoba kepada anak-anak dan pemuda.

Para perempuan, para murobithun menjadi target Zionis, perempuan disana waktu luang dimanfaatkan dengan mengadakan Majlis Taklim di Masjidil Aqsha, namun Zionis marah dan berusaha untuk melenyapkan para perempuan disana, karena para perempuan yang mengadakan Majlis Taklim itu menjadi penghalang mereka untuk menjadikan Haikal Sulaiman di atas Masjidil Aqsha.

Ustadzah Zena Said, mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh Zionis pertama kali pada tahun 2014 karena maksa untuk masuk ke Masjidil Aqsha. Beliau mengalami patah rahang gigi dan pipi beliau sobek karena dipukul oleh senjata, di beberapa tahun berikutnya kepalanya sampai terluka karena di serang, terjadi juga dengan anak-anak dan suaminya, selain itu mendapatkan ancaman rumah dirobohkan, dan sudah dirobohkan sebagian, sempat dilarang masuk juga ke Masjid Al-Aqsha 4 tahun, padahal posisi rumah dekat dengan Masjid Al-Aqsha.
Ustadzah Zena Said hidup sendirian di kota Al Quds, saudara keluarga yang lain tinggal di luar Al Quds. Keluarganya tidak bisa masuk padahal hanya berapa km, ini disebabkan karena adanyanya tembok rasial. Zionis melarang renovasi, tidak memberikan izin membuat rumah, warga disana terpaksa memasang tenda di tanah mereka, demi tetap berada di tanah mereka.

Ditengah segala kesulitan yang dialami para pejuang Al-Aqsha, para perempuan disana berusaha mendidik anak-anaknya dengan baik. Para perempuan mengkhawatirkan anak dan suaminya apakah bisa pulang atau tidak karena ditangkap, mengkhawatirkan rumah. Namun yang lebih mereka khawatirkan adalah tempat Isra’ Mi’Raj Rasulullah SAW yaitu Masjidil Aqsha, karena itu adalah amanah Rasulullah SAW dan mereka menjaganya melebihi anak, suami, dan rumah mereka.

“Kami akan tetap teguh kokoh bertahan, bersumpah kepada kita, saudara kita di Al Quds akan tetap bertahan dengan apapun yang akan di alami, sehingga suatu saat datangnya kemenangan, yang in syaa Alloh kemenangan itu dekat. Hendaklah umat Islam di seluruh dunia mengarahkan arah perjuangan mereka ke Baitul Maqdis karena itu dalam kompas perjuangan umat Islam saat ini.” Ucap Ustadzah Zena Said.

Mereka bukan membutuhkan bantuan materi, tapi mereka membutuhkan agar bagaimana caranya agar mereka bisa merdeka dari cengkraman penjajahan ini, dan mereka berharap semua Muslim laki-laki dan perempuan mempersiapkan agar kita sampai ke fase berikutnya, fase kemenangan, menguatkan perspesi bahwa kita akan menang in syaa Allah dengan waktu yang dekat, beliau menunggu kedatangan kita di halaman Masjid Al-Aqsha dalam kondisi Masjid Al-Aqsha sudah dibebaskan dan kita sama sama sholat di sama, dan in syaa Allah tidak ada yang sulit bagi Allah.

Sumber: Duka Perempuan dan Anak Al-Quds, Duka Kita. Channel Youtube Rasil TV

Editor: Ofr

Bennett Hentikan Program Netanyahu, Kembalikan Bashar al-Assad ke Liga Arab?

GAZAMEDIA, – Surat kabar Ibrani, “Israel Hayom” edisi hari Ahad (3/4/2022) mengungkapkan, Perdana Menteri “Israel”, Naftali Bennett baru-baru ini menghentikan inisiatif regional semangat PM pendahulu, Benjamin Netanyahu dengan berencana membawa Presiden Suriah, Bashar al-Assad dan rezimnya ke Liga Arab.

Menurut surat kabar itu, gagasan inisiatif didasarkan pada rekonsiliasi internasional setelah kemenangan al-Assad dalam perang internal, yang berimbas pada penarikan pasukan Iran dari Suriah.

Klaim inisiatif itu dimunculkan pertama kali oleh “Israel” setelah pertemuan puncak diadakan tiga tahun lalu di Al-Quds yang menghadirkan delegasi Amerika Serikat dan Rusia.

Inisiatif ini didasarkan pada beberapa hal. Pertama, Assad meminta semua pasukan asing yang memasuki Suriah pada tahun 2011 untuk meninggalkan negaranya dengan alasan tidak lagi diperlukan. Kedua, mengembalikan Suriah ke Liga Arab. Ketiga, negara-negara Teluk -terutama UEA- diharap berinvestasi bantu ekonomi Suriah, bukan Iran.

Perdana Menteri “Israel” saat itu, Benjamin Netanyahu merestui inisiatif ini. Kemudian Ben-Shabbat , Penasihat Keamanan dan Kepala Staf Keamanan Nasional “Israel” mendorong negara Arab yang memiliki hubungan dengan “Israel” – termasuk kawasan Arab Teluk- dan Yordania untuk menyetujuinya.

Tujuan utama mereka adalah membebaskan diri dari beban berat jutaan pengungsi Suriah yang tersebar di beberapa negara. Mesir-pun juga mendorong inisiatif ini. Namun, “Israel” dalam hal ini tidak menghubungi pihak Assad menanyakan persetujuan inisiatif tersebut.

Surat kabar “Hayom” melanjutkan: “Dengan berakhirnya perang saudara di Suriah, “Israel” menyadari pada saat itu pemerintahan Assad harus menerima keadaan (fait accompli) yang hanya dapat dukungan internasional dari Rusia.

Sistem politik yang disebut majalah Time dengan ‘Rekonsiliasi dengan Assad Mendorong Iran Keluar dari Suriah’ adalah hasil terbaik yang mungkin dilakukan. Namun sebagai akibat dari pemilihan ulang pentas politik kampanye di “Israel” serta perubahan pemerintahan Washington dan Tel Aviv, inisiatif tersebut dibekukan”.

 

Adapun Kepala Dewan Keamanan Nasional “Israel” saat ini, Eyal Kholta menerima pembaruan dari pendahulunya, Ben Shabbat tentang inisiatif tersebut. Di lain sisi, pihak Bennett memutuskan untuk tidak mempromosikannya.

Akhir-akhir ini, Bennet  mengangkat masalah itu selama pertemuan KTT di Sharm El-Sheikh, Mesir dua minggu lalu. Selain pembahasan Tripartit; forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan yang anggotanya terdiri dari unsur pemerintahahan, Bennett, Presiden Mesir, Abdel Fattah El-Sisi dan Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed disinyalir turut menyinggung tentang Assad dan menjadi perhatian mereka.

Bennett menawarkan posisi netral terhadap Assad, dan tidak menentang kemungkinan Suriah dikembalikan ke Liga Arab. Ia percaya bahwa Assad tidak dapat mengusir orang-orang Iran dari negaranya, dan karena itu inisiatif akhirnya menjadi sia-sia.

“Hayom” juga memberitakan, bahwa Bin Zayed saat ini memimpin langkah mengembalikan Suriah ke Liga Arab. Dengan demikian UEA memberikan tekanan pada semua pihak melihat Assad sebagai satu-satunya alternatif yang tersisa untuk memimpin Suriah, tidak ada figur lain karena semua alternatif lebih buruk daripada dia. [ml/as/ofr]

Koran Turki Era Ottoman Dukung Persatuan Umat Hindu-Islam di India*

GAZA MEDIA, ANKARA — Bersama dengan publikasi dokumen digital surat kabar era akhir Kekaisaran Ottoman oleh pemerintah dan NGO Turki, kini masyarakat makin menambah pengetahuan baru tentang informasi terkait masyarakat, budaya, dan politik era Ottoman.

Di antara banyak surat kabar Ottoman yang dijangkau secara digital, Sebilurresad adalah salah satu publikasi paling populer yang meliput dan mengikuti urusan dalam negeri India.

Majalah dua mingguan itu pertama kali dimulai pada 1908 dengan nama Sırat-ı Mustakim oleh pendirinya Ebul‘ula Zeynelabidin dan H. Esref Edip dan Mehmet Akif sebagai pemimpin redaksi.

Dipaksa beberapa kali untuk menghentikan publikasi atau mengubah namanya, media itu berubah menjadi Sebilurresad pada 1912. Mehmet Akif, yang secara aktif berpartisipasi dalam perjuangan nasional Turki, dan kemudian akan menulis lagu kebangsaan Turki, adalah pemimpin redaksi Sebilurresad.

Tim editorial Sebilurresad telah melakukan perjalanan secara luas ke Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa untuk memobilisasi kesadaran dan dukungan terhadap Turki.

Ketika Sebilurresad mulai terbit, hubungan Inggris-Ottoman sudah mulai menurun. Sebagian wilayah Turki berada di bawah kendali sekutu setelah Perang Dunia I.

Status dua masjid suci Mekkah dan Madinah menjadi sumber keresahan terbesar bagi komunitas Muslim di seluruh dunia, termasuk populasi Muslim yang besar di anak benua India.

Mereka telah mendirikan sebuah organisasi seperti Anjuman Khuddam-e-Kaba (Majelis Pelayan Kaba) dan Gerakan Khilafat India, untuk menuntut perlindungan tempat-tempat suci Islam.

Daftar panjang masalah politik tentang India-Turki

Ketika koresponden Sebilurresad mulai meliput urusan internal India, mereka menemukan daftar panjang masalah politik yang menyangkut masa depan India dan Turki.

Abdurreshid Ibrahim, SM Tevfik, Ahmed Halil, Ashraf EdipOmer Riza Dogrul dapat dilihat di antara kontributor urusan India di Sebilurresad.

Abdurresid ibrahim telah melakukan perjalanan ke India, dalam perjalanan ke Jepang pada 1908 dan telah menerbitkan pengamatannya di Sirat-i Mustakim” dan kemudian di Sebilurresad, ketika namanya diubah.

Dalam salah satu suratnya dari India, dia menulis: “Jika saya mengatakan India adalah tempat paling suci di dunia, itu tidak salah. Nabi Adam dikatakan telah mendarat di dekat India di Srandip (Sri Lanka).

Penulis biografi Arab Abdirresid Ibrahim Salim Muhammad menggarisbawahi sarannya bahwa kemerdekaan India harus diperjuangkan bersama oleh Muslim dan Hindu.

Abdurresid Ibrahim menulis artikel panjang pada 1922 untuk menganalisis perjuangan kemerdekaan India.

Dalam artikel ini, pertemuan Kongres Nasional India pada 1921 Ahmedabad mendapat perhatiannya, karena diadakan di bawah Presiden Muslimnya, Hakim Ajmal Ahmad Khan. Dia menemukan ini sebagai pesan kuat persatuan semua orang India melawan pemerintahan Inggris.

Dalam artikel ini, dia menulis: “India adalah negara dengan keragaman terbesar agama, bahasa, dan keyakinan; namun, perpecahan mereka akan merusak impian kemerdekaan mereka. Persatuan yang ditunjukkan oleh orang India dari semua agama dalam Gerakan Khilafat India adalah sebuah contoh.”

Setelah Abdurresid Ibrahim, SM Tevfik banyak melakukan perjalanan ke kota-kota India antara tahun 1912-1913 dan menerbitkan buku perjalanannya dalam 37 bagian berjudul Hind Yolunda (Dalam Perjalanan ke India).

Sebilurresad dikatakan sebagai majalah politik Ottoman yang konservatif. Ini menjadikannya pemahaman yang unik tentang hubungan kompleks antara Islam, nasionalisme, dan identitas Muslim.

Kekaguman mereka yang besar terhadap para pemimpin India dan cendekiawan Islam India, termasuk Rabindranath Tagore, Mahatma Gandhi, Maulana Abul Kalam Azad, Muhammad Ali Jauhar, Shaukat Ali, Shibli Nomani, dan banyak lainnya menunjukkan pemahaman yang unik.

Pujian untuk Maulana Azad

Sebilurresad, ketika meliput urusan India, tidak tahu bahwa India dapat dibagi berdasarkan garis agama dua dekade kemudian. Bagi mereka, Maulana Azad tidak hanya seorang politikus tetapi juga seorang pemikir Islam besar yang telah menginspirasi kesadaran baru di kalangan umat Islam global.

Artikel dan pidato Maulana Azad segera diterjemahkan dan diterbitkan di Sebilurresad dan majalah lainnya. Pada periode ini, majalah mulai lebih aktif meliput urusan India.

Pidato Maulana Abul Kalam yang terkenal di sebuah pengadilan di kota Calcutta (sekarang Kolkata) mendapat banyak perhatian dan diterbitkan di Sebilurresad dan majalah lainnya. Pidatonya diterjemahkan ke dalam bahasa Turki dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Selain itu, peristiwa dari kota-kota kecil India, seperti RampurLucknowHamirpur, dan warga lainnya, mendapat perhatian jurnal.

Dari tahun 1908 hingga 1925, sekitar 500 artikel, berita, atau terjemahan dari materi terkait India diterbitkan di Sebilurresad. Di antara artikel-artikel paling awal adalah laporan Abdurresid Ibrahim, yang telah mengunjungi BombayHyderabad, dan kota-kota lain pada 1908.

Abdurresid Ibrahim adalah jurnalis dan aktivis Turki pertama yang memperkenalkan para pembaca Turkinya pada urusan politik India. Tulisan-tulisannya membantu politisi Ottoman memahami politik India lebih dekat, dan, sebagai akibatnya, minat Ottoman/Turki ke dalam urusan India meningkat pesat.

Pada tahun-tahun ini, Muslim India dibantu dengan proyek Kereta Api Hijaz dari pemerintah Ottoman dan pembangunan pelabuhan di Turki. Kegiatan India di Iran mendapat perhatian khusus di media.

Ada kemungkinan Abdurresid Ibrahim juga pernah bertemu Rabindranath Tagore dan Subash Chandra Bose selama berada di Jepang.

Sejak dimulainya Perang Dunia I pada 1914, majalah tersebut meliput urusan yang berkaitan dengan Perang, terutama posisi Muslim India. Isu politik Inggris terhadap Khilafat Ottoman dan dua Masjid Suci Mekkah dan Madinah mendapat perhatian khusus.

Di masa yang penuh gejolak itu, Gerakan Khilafat juga telah dimulai. Pada 1924, ketika Rabindranath Tagore tiba di Jepang, Abdurresid Ibrahim sudah berada di sana, dan dia mengikuti dengan seksama ceramah-ceramah Tagore dan menerbitkan laporannya tentang ceramah-ceramah Tagore dalam empat bagian.

Gerakan Khilafat diliput

Salah satu topik yang paling banyak dibahas dalam makalah ini adalah perjuangan kemerdekaan India. Kemudian gerakan Khilafat diliput secara signifikan dalam makalah-makalah ini. Subyek sejarah, budaya, dan masyarakat India juga banyak dibahas dalam banyak masalah Sebilurresad.

Politik Jepang, Pan-Asianisme, perkeretaapian Hijaz, kebijakan Inggris terhadap Mekah dan Madinah, pusat-pusat keilmuan Islam di India seperti Deoband, Nadwatul Ulama, dan karya Maulana Abul Kalam Azad, dan Allama Shibli Numani juga diliput secara signifikan.

Perjalanan Raja Mahendra Pratap Singh dan hasil Tagore juga mendapat perhatian mereka. Menariknya, berita dari kota-kota kecil seperti AzamgarhRampurHamirpurLucknowKanpur juga mendapat perhatian majalah tersebut. Bahkan prevalensi obat tradisional Persia-Arab yang dikenal sebagai pengobatan Unani di India juga mendapat perhatian SM Tevfik, yang menerbitkan laporan panjang tentang prevalensinya di India dalam edisi nomor 257 tahun 1911.

Di antara isu-isu politik, Gerakan Khilafat India, Kongres Nasional India, Gandhi, Azad, konferensi Inggris tentang India mendapat banyak perhatian.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan dalam Sebilurresad edisi nomor 528 tahun 1920, Gerakan Khilafat India menawarkan untuk menengahi antara orang-orang Arab dan Turki untuk menyelesaikan perbedaan mereka.

Dalam edisi 551-552, artikel rinci tentang Muhammad Ali Jauhar dan Shaukat Ali, yang dikenal sebagai Ali Brothers, diterbitkan.

Laporan itu juga mencatat bahwa Ali Brothers mendapat dukungan besar dari semua Muslim dan non-Muslim dalam politik anti-Inggris mereka. Bagi Ali Brothers, seperti Maulana Azad, dukungan terhadap Khilafat Ottoman pada masa pendudukan Inggris di Istanbul dan tempat-tempat suci Islam lainnya, Mekkah dan Madinah, tidak berbeda dengan perjuangan mereka melawan penjajahan Inggris di India.

Harapan yang menarik

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam edisi 286, pada Februari 1913, tentang harapan Muslim India dari Turki, koresponden Sebilurresad, SM Tevfik, memasukkan dua harapan yang menarik. Ottoman harus mengamati dan belajar dari kebangkitan Jepang. Kedua, Turki harus menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan India dan semua negara Asia, meskipun volume perdagangannya kecil.

Dalam edisi 292 tahun 1913, Tevfik mencermati bahwa kegagalan perang pertama kemerdekaan India tahun 1857 telah membuat masyarakat India semakin peka dan sadar, khususnya umat Hindu.

Mereka menemukan bahwa pendidikan modern diperlukan untuk bersaing dengan Barat. Untuk alasan ini, umat Hindu di Kalkuta membuka sekolah dan perguruan tinggi dan mengirim anak-anak mereka ke Eropa untuk pendidikan lanjutan dalam sains dan matematika.

Dia menulis bahwa sentimen nasionalis semakin kuat di kalangan umat Hindu, sampai-sampai seorang Hindu yang bekerja di kantor Inggris mana pun ditertawakan dan dihina di depan umum. Mereka yang bekerja untuk otoritas Inggris sekarang menyembunyikan identitas mereka atau mengundurkan diri dari pekerjaan mereka.

Sentimen nasionalis ini tercermin dalam perjuangan politik mereka di Kongres Nasional India. Tahun itu, mereka memilih seorang Muslim, Syed Muhammad Khan sebagai presiden mereka pada sidang Karachi tahun 1913.

Dalam edisi 11 Juli 1911, majalah tersebut memperkenalkan majalah Vande Matram yang berbasis di Paris yang didirikan oleh pejuang kemerdekaan Madam Bhikaji Kama.

Dalam sebuah laporan tentang kebahagiaan orang India atas kembalinya Edirne ke tangan pemerintahan Ottoman, SM Tevfik mempublikasikan majalah Vande Matram dan menerjemahkan moto majalah tersebut yang berbunyi: “Hidup bukanlah apa-apa tanpa kemerdekaan. Tidak ada perbedaan antara orang mati. orang-orang yang dikubur di kuburan mereka dan orang-orang tanpa kebebasan.”

Tentang kerusuhan Hindu-Muslim

Tevfik menemukan bahwa setiap orang India yang memiliki majalah ini harus kehilangan segalanya.

Terbitan 25 Juli 1913 dengan hati-hati meliput kerusuhan Kanpur. Para penulis mengatakan bahwa Inggris telah menyalahgunakan kekerasan komunal untuk melemahkan persatuan Hindu-Muslim melawan kolonialisme Inggris. SM Tevfik melihat bahwa pengusaha Hindu dan Muslim di Madras (Chennai) telah bersatu padu mendirikan kamar dagang.

Setelah membuat laporan tentang banyak kota, SM Tevfik mengumumkan bahwa dia akan menulis pengenalan agama Hindu secara rinci kepada pembaca Turki. Dalam sebagian besar laporan, Sebilurresad selalu menggarisbawahi persatuan di antara berbagai agama India demi masa depan politik mereka bersama.

Liputan tentang India dalam majalah tersebut menunjukkan pandangan Turki yang humanis terhadap urusan India dengan menghargai keragaman India dan upaya para pemimpinnya untuk menjadikan India sebagai negara dengan gagasan dan nilai pluralis.

*Omair Anas, penulis adalah asisten profesor di Departemen Hubungan Internasional Universitas Ankara Yildirim Beyazit.

(dikutip dari Anadolu Agency)

Prospek Eskalasi Israel Terhadap Gaza

Sebagian besar pengamat di Israel, termasuk analis strategis Amos Harel di surat kabar Israel Haaretz pada 24 Desember 2021, melihat bahwa kesenjangan besar antara sikap perlawanan dan pendudukan Israel pada masalah kesepakatan pertukaran tawanan, selain kurangnya tekanan publik atau opini publik Israel yang mendukung tercapainya kesepakatan pertukaran tawanan, mencegah kemajuan menuju dua tujuan strategis lainnya bagi para pihak yang bertikai di Gaza. Dua tujuan stategis lainnya tersebut , yaitu: proyek-proyek besar untuk rekonstruksi Gaza dan gencata senjata jangka panjang.

Sementara dia menganggap bahwa prospek untuk mengatasi kesenjangan ini tampaknya terbatas. Seperti para pengamat lainnya dia berpendapat, “bahwa margin manuver di daerah ini untuk pemerintah Bennett-Lapid sempit dan terbatas.” Selain itu juga detonator-detonator ledakan lain di front Gaza , yang selalu digambarkan rapuh atau mudah terbakar setiap saat, seperti praktik-praktik yang dilakukan pendudukan Israel dan pemukim Yahudi terhadap orang Palestina di al-Quds dan Tepi Barat, dan terhadap para tawanan di dalam penjara. Tentu saja, pendudukan Israel memikul tanggung jawab atas krisis di kawasan itu.

Menjadi jelas sedikit demi sedikit bahwa sebab-sebab eskalasi terhadap Gaza masih ada, yang paling penting dan utama adalah blokade. Ini tidak berarti bahwa kita pasti berada di gerbang pertempuran. Sebaliknya, kemungkinan-kemungkinan itu meningkat dan bertambah, meskipun ada upaya “pemadaman” dan “terapi situasional” terbatas yang bertujuan untuk mengabadikan situasi krisis di kawasan tersebut, tetapi di bawah kendali Israel. Maka menciptakan solusi, dalam kondisi apapun, sebagian besar bertentangan dengan kebijakan brutal pendudukan Israel dan bertentangan dengan kepentingan orang-orang Palestina yang rentan yang berada di bawah penindasan pendudukan Israel dan agresi para pemukimnya.

Salah satu alasan terpenting untuk “manajemen krisis” yang mungkin adalah mentalitas Israel yang didasarkan pada militerisme dan konsep keamanan, dan perlunya ada atau menciptakan ancaman keamanan yang berkelanjutan, beberapa di antaranya dibesar-besarkan. Masalah ini menghasilkan manfaat substansial, di antaranya adalah menghidupkan kembali “perekat” atau ikatan yang mengontrol kohesi berbagai “masyarakat pemukiman” yang berbeda secara budaya dan ideologis secara jelas.

Ancaman ada, “gencatan senjata” mereka menembak. Ancaman tersebut memperkuat kepemimpinan “dalam fenomena berkumpul di sekitar pemimpin dalam krisis,” terutama di bawah pemerintahan Bennett-Lapid yang rapuh dan secara fundamental kontradiktif dalam hal politik dan ideologi di antara komponen-komponennya. Dan dalam perjalanan, para kontraktor keamanan bisa mewujudkan lebih banyak anggaran dan keuntungan materi yang sempit, dan bisa jadi strategi “perang MPM” “pertempuran antar perang”, itu adalah tamsil-tamsil dalam konteks ini.

Para pemimpin pendudukan Israel menyadari bahwa masalah “mengelola situasi krisis di bawah kendali” adalah meningkatnya kemampuan musuh yang mereka hadapi, yaitu perlawanan Palestina, dalam semua aspek-aspek strategis, militer dan politik. Dan mereka telah merasakan sesuatu dari itu di front “pertempuran melawan kesadaran”, “konflik otak”, dan menggagalkan rencana-rencana dan inisiatif-inisiatif pendudukan di banyak tingkatan.

Mereka takut bahwa pencapaian ini akan berpindah ke bidang militer dan politik tradisional yang mungkin tidak kalah pentingnya daripada front kesadaran dan bidang menggagalkan rencana-rencana pendudukan. Dengan kata lain, perlawanan mampu merebut dan menguasai inisiatif militer dan politik, dan ciri-cirinya mulai tampak di cakrawala sejak inisiatif perlawanan untuk mempertahankan al-Aqsha dan kampung Sheikh Jarrah pada Mei 2021. Di mana kali ini Israel mengkhawatirkan, inisiatif militer Palestina untuk meningkatkan kemungkinan menyelesaikan kesepakatan pertukaran tawanan.

Dengan demikian, bertambahlah kemungkinan-kemungkinan eskalasi, dan karena itu dibutuhkan persiapan dan kesiapan Palestina. Dan manuver militer “Perisai al-Quds” yang digelar di Gaza tidak jauh dari masalah ini.[]

(Sumber: Palinfo)

Di Balik Kisah Cinta Sepakbola Aljazair dan Palestina?

Saat peluit akhir dibunyikan di Stadion Al Bayt di Al-Khor Qatar Sabtu lalu, menobatkan Aljazair sebagai pemenang Piala Arab FIFA 2021, kafe tepi pantai Maher al-Baqa di Kota Gaza meledak dengan kegembiraan.

Pelanggannya mengibarkan bendera Aljazair saat mereka dengan gembira bergoyang dan menari dabke dengan nyanyian sepak bola “1, 2, 3 … Viva Algerie”. Cokelat dan permen dibagikan, dan beberapa wanita yang duduk di meja menambah perayaan dengan ululating.

“Meskipun tim nasional Palestina tersingkir di babak penyisihan grup, kami memandang tim Aljazair sebagai milik kami, dan kemenangan mereka sebagai milik kami,” kata al-Baqa. “Mereka mendukung dan mencintai kami lebih dari negara atau tim Arab lainnya.”

Sepanjang turnamen 18 hari yang diselenggarakan oleh Qatar, dukungan untuk Palestina telah diperlihatkan dengan penuh semangat. Selama upacara pembukaan, sorakan paling keras dari para penggemar yang hadir datang saat lagu kebangsaan Palestina dinyanyikan.

Bendera Palestina juga hadir di stadion yang dikibarkan oleh para pendukung permainan indah itu. Tetapi untuk tim Aljazair – dan penggemar mereka – orang bisa salah mengira bahwa mereka mewakili Palestina.

Dalam wawancara pasca-pertandingannya setelah Aljazair mengalahkan Maroko di perempat final, bek Houcine Benayada menunjuk ke bendera Aljazair dan Palestina yang dia sampirkan di tubuhnya dan berkata: “Kami tidak bermain untuk bonus apa pun, kami bermain untuk ini. Dua bendera.”

Dan setelah pertandingan final melawan Tunisia, pelatih Aljazair Majid Bougherra mendedikasikan kemenangan negaranya untuk Palestina – dan untuk “Jalur Gaza pada khususnya”.

Tetapi dari mana datangnya dukungan yang terbuka dan seringkali emosional ini untuk Palestina – dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya?

Menurut Tagreed al-Amour, seorang jurnalis olahraga dan anggota dewan direksi di klub sepak bola Palestina al-Hilal, solidaritas Aljazair untuk Palestina lazim di kalangan pemerintah dan publik – sangat kontras dengan mayoritas pemerintah Arab yang memilih mengisolasi diri mereka dari dukungan rakyat terhadap perjuangan Palestina dan telah menormalkan hubungan dengan Israel atau memiliki hubungan jalur belakang.

“Penekanan solidaritas diwakili, atau bisa dikatakan selesai, melalui olahraga,” kata al-Amour, berbicara dari Kota Gaza.

Sebagai imbalannya, bendera Aljazair hadir selama berbagai acara di seluruh alun-alun dan pusat-pusat juga toko-toko di seluruh kota seperti Ramallah, Kota Gaza dan Yerusalem, dan bahkan dikibarkan selama protes di Tepi Barat yang diduduki melawan pendudukan Israel. “Dukungan Aljazair dalam sepak bola untuk Palestina selalu menarik perhatian tentang perlunya dukungan Arab yang berkelanjutan untuk hak menentukan nasib sendiri bagi Palestina dan untuk mengakhiri pendudukan Israel,” al-Amour menjelaskan.

“Mereka yang memahkotai kemenangan mereka dengan bendera Palestina dan keffiyeh [syal] melakukannya untuk mengirim pesan satu darah, simbol persatuan Arab, dan penolakan terhadap kolonialisme dan normalisasi.” Bagi komentator BeIN Hafid Derradji, solidaritas Aljazair dengan Palestina adalah “intrinsik bagi setiap anak Aljazair”.

“Itu hadir di keluarga, jalan, masjid dan sekolah yang semuanya menanamkan nilai-nilai perlawanan, kebebasan dan cinta dan dukungan perjuangan rakyat Palestina melawan pendudukan,” katanya kepada Al Jazeera.

Solidaritas atas kolonialisme

Dijajah oleh Perancis selama 132 tahun, Aljazair mendapat julukan di antara dunia Arab sebagai “negara sejuta setengah martir”. Menurut jurnalis olahraga Aljazair Maher Mezahi, solidaritas dan cinta yang ada antara orang-orang Aljazair dan Palestina “berkaitan dengan fakta bahwa orang Aljazair memahami kehancuran kolonialisme pemukim”. “Ada sentimen membenci sistem [kolonial] itu,” katanya, berbicara dari ibu kota Aljir. Mantan Presiden Aljazair Houari Boumediene pada awal 1970-an mengatakan: “Kami bersama orang-orang Palestina, apakah mereka tertindas atau penindas.”

Perang kemerdekaan Aljazair tahun 1954-62 sangat mempengaruhi kebijakan luar negeri negara itu dan dukungannya untuk tujuan pembebasan orang-orang terjajah di seluruh dunia. Palestina tidak terkecuali, dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) mendirikan kantor di Aljir tak lama setelah kemerdekaan Aljazair.

Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1988, di Aljazair PLO bertemu untuk mendeklarasikan berdirinya negara Palestina. Bahwa perjuangan Palestina sangat penting bagi orang-orang Aljazair terlihat jelas di stadion, yang digambarkan Mezahi sebagai cerminan akurat dari apa yang dirasakan di masyarakat karena kebebasan berekspresi yang lebih besar yang dimiliki penggemar di ruang itu. “Stadion itu seperti corong yang memberikan suara kepada kelas pekerja di Aljazair,” katanya.

Pandangan ini diamini oleh Derradji, yang mengatakan bahwa pemuda yang menghadiri pertandingan sepak bola menunjukkan “kesadaran yang tinggi”. “Gerakan protes Aljazair pada 2019, sampai batas tertentu, dimulai di stadion,” kata Derradji, merujuk pada protes yang dalam beberapa bulan memaksa kepergian Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika. “[Pemuda] menolak untuk terlibat dengan asosiasi politik karena mereka menganggap mereka terlibat. Jadi mereka menggunakan stadion sebagai platform untuk mengekspresikan perasaan dan posisi mereka.”

Menurut al-Amour, stadion tidak lagi sebatas ruang untuk kompetisi olahraga. “Stadion sepak bola telah menjadi salah satu alat paling menonjol untuk menyuarakan dukungan, advokasi, atau meningkatkan kesadaran terhadap beberapa masalah politik dan sosial, melalui nyanyian, poster, atau lagu. Stadion juga merupakan alat untuk mengukur kesadaran massa populer,” jelasnya.

Melalui ruang itu, salah satu nyanyian paling organik dan populer berkembang di kalangan penggemar sepak bola Aljazair: “Falasteen Chouhada”, yang berarti “Palestina, [tanah] para martir”. Nyanyian itu dinyanyikan di ribun penonton sepanjang pertandingan di mana tim nasional atau klub Aljazair bermain. Menurut Youcef Fates, seorang profesor ilmu politik di Universitas Oran, Falasteen Chouhada didasarkan pada nyanyian Bab El Oued El Chouhada, yang mengacu pada lebih dari 500 orang Aljazair – kebanyakan pria muda dan pendukung sepak bola – yang dibunuh oleh pemerintah di kerusuhan 1988 setelah memprotes kondisi kehidupan mereka yang buruk di lingkungan Bab El Oued di ibu kota Aljir.

Versi Falasteen Chouhada, kata Mezahi, dimulai pada 1988 – yang juga menandai Intifada pertama, atau beberapa tahun kemudian pada awal 1990-an. “Nyanyian itu adalah pokok lain dari tim nasional Aljazair,” katanya. “Tim nasional Aljazair telah menjadi semacam kendaraan untuk advokasi perjuangan Palestina di seluruh Aljazair.”

Nyanyian itu menjadi sangat populer sehingga penggemar Aljazair mendukung tim Palestina melawan tim mereka sendiri dalam pertandingan persahabatan pada tahun 2016 yang dihadiri lebih dari 70.000 penggemar. Stadion meletus dalam euforia setelah tim Palestina mencetak gol, dan bagi banyak orang, ini tidak bisa lebih baik merangkum cinta Aljazair untuk Palestina. Perasaan itu, kata Maher al-Baqa dari Gaza, saling menguntungkan.

Sumber: Al Jazeera

 

Pembangunan Tembok Perbatasan dengan Gaza… Apa Selanjutnya?

Oleh Dr. Adnan Abu Amer

Karena penjajah Israel telah mengumumkan selesainya pembangunan tembok perbatasan bawah tanah dengan Jalur Gaza, maka hal ini menimbulkan tanda tanya tentang sejauh mana kelayakan militer yang sebenarnya dari tembok ini untuk mencegah pelaksanaan serangan gerilya bersenjata di satu sisi. Pada saat yang sama memberikan ruang padangan negara yang memiliki persenjataan lengkap namun membentegi dirinya tembok keamanan yang mengelilinginya dari empat sisi perbatasannya, termasuk laut itu sendiri di barat. Yang menimbulkan tanda tanya tentang tidak adanya rasa aman, stabilitas dan ketenangan di tengah lingkungan yang tidak bersahabat dengannya: darat, laut dan udara!

Dari segi angka, proyek tembok perbatasan ini menghasilkan pembangunan 65 km tembok, yang mengelilingi seluruh Jalur Gaza dari utara ke selatan, dan juga dari timur Jalur Gaza ke laut. Tinggi tembok ini dari atas tanah setingg 6 meter dan di kedalaman di bawah tanah hingga puluhan meter. Sementara jumlah biaya yang dikeluarkan mencapai 3,5 milyar shekel atau setara 1,1 miliar dolar. Proyek ini melibatkan 1.200 pekerja dan 28 pabrik. Sehingga seribu truk berhenti satu demi satu. Jumlah beton lebih dari dua juta meter kubik, setara dengan 220 ribu truk. Jumlah besi 140 ribu ton besi dan baja yang diimpor dari Australia.

Perlu diisyaratkan bahwa awal mula pemikiran tentang membangun proyek tembok perbatasan ini dimulai dengan penarikan Israel dari Gaza pada tahun 2005, ketika tentara penjajah Israel ingin membuat pemisahan fisik lengkap antara Jalur dan permukiman-permukiman Israel di wilayah selatan, sebagai awal dari pemisahan politik dan ekonomi, berdasarkan implementasi rencana “pelepasan” yang diajukan oleh Sharon saat itu.

Namun gagasan tersebut mulai mengambil jalur yang lebih operasional dan konkrit setelah serangkaian agresi yang dilancarkan oleh pendudukan Israel di Gaza mulai tahun 2006, kemudian tahun 2008-2009, hingga tahun 2012, dan terakhir tahun 2014, perang yang berlangsung selama lima puluh hari, yang diwarnai dengan pelaksanaan sejumlah serangan komando melalui jaringan terowongan perbatasan. Pada saat itu pendudukan Israel membuat keputusan strategis jangka panjang untuk melaksanakan pembangunan tembok perbatasan, karena potensi dan kemampuan perlawanan yang terungkap dari perang-perang tersebut menciptakan keyakinan pada pendudukan Israel bahwa tidak butuh waktu lama bagi para pejuang perlawanan untuk berpindah di antara perbatasan bersama. hal ini akan menempatkan permukiman-permuiman Israel berada di jangkauan tangan perlawanan ketika mereka melakukan infiltrasi atau serangan.

Hari ini, setelah pendudukan Israel mengumumkan selesainya pembangunan tembok perbatasan dengan Gaza, tidak diragukan lagi bahwa hal itu menimbulkan pertanyaan operasional bagi perlawanan mengenai kemampuannya untuk mengatasi tantangan baru ini, dengan mencari opsi-opsi yang lebih disesuaikan dengan realitas keamanan dan militer, dan itu tempatnya untuk membahas di sini, akan tetapi perkembangan dari setiap konfrontasi yang akan datang dapat mengungkap sejauh mana perlawanan telah dapat menemukan alternatifnya, berdasarkan kaedah militer yang mengatakan bahwa “setiap senjata memiliki kontra-senjata.”[]

Update Sertifikasi Halal di Indonesia: Ekspektasi dan Kenyataan

Oleh Dr. H. Mastuki, M.Ag (Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, BPJPH)

Sebagai lembaga yang diberi amanah Undang-Undang Nomor 33 tahun 2014, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menandai era baru jaminan produk halal di Indonesia. Jika sebelumnya jaminan produk halal (JPH) dilaksanakan oleh masyarakat dan bersifat voluntary, melalui UU 33/2014, tugas JPH beralih dan menjadi tanggung jawab negara (pemerintah) dan bersifat mandatory. Sebelum UU 33 /2014, penjaminan produk halal dilaksanakan atas kesadaran individual atau organisasional, saat ini menjadi tanggung jawab kolektif (jama’i).

Konsekuensi kewajiban bersertifikat halal bagi produk (baik barang dan jasa) sangat krusial. Satu sisi, mandatory ini memastikan produk yang dikonsumsi dan digunakan oleh masyarakat terjamin kehalalannya. Namun di sisi lain, diksi “kewajiban” ini menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah untuk menghubungkan banyak sekali halal value chain yang saat ini masih terserak ke dalam berbagai sektor.

Beruntung Indonesia telah memiliki roadmap pengembangan ekonomi syariah dan industri halal nasional. Salah satu poin penting roadmap itu adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat atau destinasi halal dunia (global halal hub).

Ekspektasi menjadikan Indonesia sebagai global halal hub dan produsen terbesar produk halal di dunia sesungguhnya amat rasional. Kita memiliki apa yang saya sebut sebagai modal halal (halal capital). Dari sisi modal religius dan demografis, Indonesia memiliki jumlah pemeluk muslim terbesar di dunia, mencapai 209,1 juta jiwa atau sekira 13,1% dari populasi muslim dunia. Dengan jumlah ini, kebutuhan akan produk halal dipastikan meningkat dan makin menantang. Apalagi secara global, kebutuhan akan produk-produk halal baik pangan olahan, hasil pertanian, perikanan, kosmetik, obat dan farmasi, serta fashion dan barang gunaan tambah meningkat dari tahun ke tahun. Produk halal telah menjadi bagian bisnis dunia yang nilainya sangat besar dan menjanjikan, bukan saja di kalangan masyarakat muslim tetapi juga non-muslim. Bukan hanya menjadi pusat perhatian negara-negara Islam tetapi juga negara-negara “sekuler” atau minoritas muslim.

Modal halal lainnya adalah modal sosial dan kultural. Munculnya tren gaya hidup halal; kreativitas masyarakat membuat aneka produk; kekayaan kuliner dan produk unggulan atau khas daerah seantero nusantara; daya tahan masyarakat menghadapi kesulitan; tradisi gotong royong; dan sebagainya adalah sebagian penyangga industri halal Indonesia yang potensial ditingkatkan di negara kita ini.

Tak kalah pentingnya adalah modal manusia. Kita memiliki perguruan tinggi dengan ribuan akademisi, peneliti, dan praktisi halal. Pelaku industri halal, auditor halal, penyelia halal, juru sembelih halal, chef halal, pengawas halal, belum lagi pendamping atau pembina halal  menjadi daya dorong dan daya ungkit pelaksanaan sertifikasi halal secara massif. Modal manusia ini gabungan dari knowledge, abilities, experience, networking, and skills yang sangat penting dalam menopang perkembangan industri halal di tanah air.

Penahapan dan Digitaliasi Sertifikasi Halal

Terhitung sejak 17 Oktober 2019 BPJPH melaksanakan tugas penahapan pertama kewajiban bersertifikat halal bagi produk makanan dan minuman, serta jasa terkait makanan dan minuman. Setelah dua tahun yang penuh dinamika dan pergumulan dalam penyelenggaraan sertifikasi halal, per 17 Oktober 2021, BPJPH memulai penahapan kedua kewajiban sertifikat halal bagi produk kosmetik, obat, barang gunaan, dan produk biologi, kimia, dan rekayasa genetika plus jasa logistik, pergudangan, distribusi, penjualan, dan penyajian produk.

Respon dan reaksi publik terhadap penahapan kedua ini cukup menarik dan heboh, menandai suatu kesadaran halal yang tumbuh meluas di Indonesia. Dunia industri dan kalangan usaha yang telah mensertifikasi halal produknya sejak beberapa tahun lalu menjadi best practice dan lesson learned bagi layanan sertifikasi halal lebih baik. Pelaku usaha mikro dan kecil bergeliat dan menunjukkan gairah tinggi untuk mengajukan produknya bersertifikat halal. Data Sistem Informasi Halal BPJPH menyebut, sampai 5 November 2021 ada 31.529 pelaku usaha yang mengajukan sertifikasi halal. Dari jumlah tersebut mayoritas pelaku usaha mikro yang mencapai 19.209 atau 60,92%. Menyusul pelaku usaha kecil sejumlah 5.099 atau 16,17%. Jadi total 76% adalah pelaku UMK (usaha mikro dan kecil).

Dilihat dari jenis produk yang diajukan, jumlah terbesar adalah makanan ringan (20%), roti dan kue (15,45%), kemudian minuman dan bahan minuman, ikan dan produk ikan olahan, dan 5 besar adalah produk rempah, bumbu, dan kondimen. Data-data ini dapat dipantau secara real time melalui aplikasi yang BPJPH kembangkan bernama Sihalal (Sistem Informasi Halal). Pendaftar sertifikasi halal dapat melakukan tracking dan mengupdate informasi pengajuan sertifikatnya melalui sistem ini.

Digitalisasi menjadi isu yang krusial dalam layanan sertifikasi halal. Dengan jumlah pelaku usaha terkena kewajiban halal mencapai puluhan juta dan tersebar di seluruh daerah, satu-satunya jawaban adalah layanan berbasis elektronik. Saat ini, BPJPH bekerjasama dan dibantu lembaga bonafide sedang mengembangkan digitalisasi layanan terintegrasi dengan ekosistem halal dan pemangku kepentingan halal. Grand design dan roadmapnya sudah disusun. Perangkat dan sumberdayanya juga sedang disiapkan. Pembiayaan akan dicover melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) maupun skema public-private partnership.

Ekosistem Halal dan Kepentingan Multi Pihak

Sertifikasi halal tak bisa hanya diartikan selembar sertifikat yang menandai produk telah ditetapkan halal. Saya ingin mengutarakan tiga konteks sertifikasi halal yang menjadi konsen BPJPH.

Pertama, sertifikasi halal menjadi pilar penting membangun ekosistem halal Indonesia. Sertifikasi halal berada pada posisi tengah (intermediate position) di antara mata rantai produk halal yang sangat penting dalam penentuan kepastian dan jaminan produk halal yang beredar dan dikonsumsi masyarakat. Karena posisinya “di tengah” itu, pelaksanaan sertifikasi halal sangat tergantung dan interdependensi dengan faktor-faktor lain.

Produk halal (berupa barang dan jasa yakni makanan, minuman, obat, kosmetik, produk biologi, produk kimia, produk rekayasa genetika, dan barang gunaan maupun jasa penyembelihan, pengolahan, pendistribusian sampai penyajian) dapat disertifikasi jika telah jelas bahan dan proses produk halalnya (PPH). Di samping itu, ada komitmen dan tanggung jawab pelaku usaha untuk menjamin produknya halal melalui sistem jaminan produk halal (SJPH) yang dijalankan. Pada saat yang sama, produk yang sudah tersertifikasi halal perlu mendapat kemudahan dan konsesi lain agar dapat diproduksi, diedarkan, dan diperdagangkan tanpa hambatan yang berarti.

Bahan halal menjadi hal krusial dalam mata rantai produk halal. Ketersediaan bahan baku halal (halal raw material) tak bisa disediakan tanpa keterlibatan dunia industri dan pelaku usaha yang berorientasi halal. Apalagi menyangkut bahan tambahan dan bahan penolong yang selama ini masih banyak didatangkan dari luar negeri (impor) untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Dalam beberapa kasus, industri kosmetik dan obat kesulitan memperoleh bahan halal baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Berkaitan dengan kebutuhan bahan halal, pasar dalam negeri didominasi oleh pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) yang jumlahnya hampir mencapai 65 juta unit usaha. Sekitar 70% dari jumlah itu bergerak di bidang makanan, minuman, dan kuliner. Artinya, bahan baku menjadi masalah krusial untuk menghasilkan produk halal. Sebagaimana diketahui, industri makanan dan minuman sudah berkembang sedemikian rupa dengan pola, aneka, rupa, kemasan, tambahan bahan (food additive), dan pengolahan yang makin canggih, termasuk penggunaan teknologi.

Namun justru di situ problematiknya. Pengolahan industri makanan dan minuman rawan titik kritis (medium and high risk) pada bahan dan cara pengolahan. Ini berkaitan dengan proses produk halal (PPH) yang menjadi konsen dari sertifikasi halal.

Ketersediaan bahan dan terjaminnya proses produk halal akan memudahkan pelaku usaha menjaminkan bahwa produknya halal. Kepastian bahan halal dalam proses produksi juga akan memangkas proses yang harus dilakukan oleh auditor halal dalam melaksanakan pemeriksaan dan/atau pengujian kehalalan produk. Kondisi ini akan mempercepat proses sertifikasi halal, terutama tahapan audit produk yang dijalankan oleh Lembaga Pemeriksa Halal (LPH).

Selain kejelasan bahan baku dan PPH, prinsip sertifikasi halal menganut prinsip traceability dan autentikasi. Tujuan traceability untuk mengetahui dengan pasti di mana produk diproduksi, bagaimana proses produksinya, apa bahan yang digunakan, dari produsen mana, dan bagaimana status kehalalannya. Sedangkan autentikasi untuk memastikan tidak terjadi pemalsuan produk halal dengan produk haram, tidak terjadi percampuran atau kontaminasi silang antara bahan haram dengan atau ke dalam produk halal melalui analisis laboratorium.

Pada level ini, dukungan pemerintah sangat penting untuk memastikan rantai pasok (supply chain) berjalan baik dan tersedia dari hulu ke hilir. Komitmen industri besar dan menengah untuk mensertifikasi halal produknya menjadi solusi mengatasi kesulitan bahan baku halal, terutama bagi industri kecil dan mikro. Misalnya minyak goreng, tepung, gula, dan daging. Tak kalah pentingnya riset dan pengembangan halal yang dilakukan perguruan tinggi atau lembaga penelitian dalam mendukung industri. Riset-riset bahan pengganti nonhalal untuk produk kosmetik atau obat masih cukup terbuka dikembangkan.

Poin kedua, membangun ekosistem halal memerlukan kolaborasi dan sinergi besar antar pemangku kepentingan halal. Pelaksanaan sertifikasi halal (sebagai bagian dari jaminan produk halal) meliputi mata rantai yang panjang, dari hulu ke hilir. Halal-value chain sertifikasi halal juga berkaitan dengan multi-stakeholders. Penetapan kehalalan produk perlu peran institusi lain: otoritas keagamaan (MUI) dan pemeriksa atau pengujian produk (LPH). Fungsi pengawasan produk dilakukan oleh BPOM, peredaran barang/produk menjadi kewenangan kementerian perindustrian, perdagangan, pertanian, dan bea cukai. Kerjasama internasional dengan lembaga halal negeri menjadi otoritas kementerian luar negeri. Belum lagi jenis usaha yang terdiri atas perusahaan besar, menengah, kecil dan mikro di bawah kordinasi dan pembinaan kementerian/lembaga lain (Kemenkes, Kemenkop UKM, Pemda, dan Kemendag).

Banyak pihak yang terlibat dalam proses sertifikasi halal. Lebih-lebih dalam skema halal self declaration oleh pelaku UMK mesti melibatkan ormas keagamaan, lembaga keagamaan Islam, perguruan tinggi, pemerintah daerah, asosiasi, paguyuban, dan stragtegic partnership lainnya, tak terkecuali e-commerce dan platform digital. Untuk memastikan layanan sertifikasi halal dipersiapkan dengan optimal, konsolidasi internal dan kordinasi serta komunikasi lintas instansi mesti harus tempuh.

Ketiga, kerjasama internasional jaminan produk halal. Salah satu isu penting kehalalan produk adalah masuknya produk dari luar negeri ke Indonesia. Selama ini, sertifikasi halal produk luar negeri dilakukan B to B (business to business cooperation). Namun dengan UU 33 tahun 2014 dan UU Cipta Kerja 11 tahun 2020, serta PP no 39 tahun 2021, kerjasama internasional dibangun atas dasar saling pengakuan dan keberterimaan sertifikat halal (mutual recognition and agreement, MRA). Pada level hubungan bilateral dan multilateral antar negara, keberadaan halal certification body memainkan peran penting untuk memastikan produk luar negeri yang masuk Indonesia sesuai standar kehalalan. Atau sebaliknya, dengan keberterimaan timbal balik, produk halal dalam negeri (ekspor) dapat diterima di berbagai negara karena sudah ada kesamaan standar halal.

Kerjasama internasional di bidang halal mencakup banyak bidang misalnya penjaminan mutu halal, pengembangan sumberdaya halal, teknologi di bidang halal, dan pengakuan sertifikat halal (ref. PP 39 tahun 2021, Pasal 119). Indonesia potensial menjadi ‘pemimpin halal level dunia’. Standar halal Indonesia (yang selama ini dilaksanakan oleh MUI dan LPPOM-MUI) mendapat pengakuan puluhan negara.

Keuntungan lain dari kerjasama ini adalah investasi halal dari negara-negara lain. Selain akan menambah kedekatan hubungan bilateral, pengakuan dan keberterimaan produk-produk halal yang selama ini menjadi hambatan akan mudah diurai dan diatasi. Keuntungan bagi pengusaha dan pelaku usaha nasional juga akan bertambah dengan kerjasama pengembangan teknologi di bidang halal, diversifikasi produk yang diminati dan menjadi kebutuhan di negara investor, selain kontak bisnis, mendorong ekspor produk halal dari Indonesia sesuai dengan obsesi Indonesia sebagai produsen halal terbesar di dunia.[]

 

 

Resolusi 181 Tahun 1947 dan Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina

Oleh:  dr. Thaer Al Akkado

Hari ini menandai peringatan ke-74 dari penerbitan resolusi paling berbahaya dalam sejarah perjuangan Palestina (Resolusi 181 tahun 1947 M), yang menurutnya entitas Yahudi ditanam di Palestina di 56% tanah Palestina, dengan negara Arab , dan Yerusalem dan Betlehem ditempatkan dalam sistem internasional khusus yang disponsori oleh PBB.

Resolusi yang dikenal sebagai keputusan untuk membagi Palestina menjadi dua negara Yahudi dan Arab dengan rezim khusus untuk Yerusalem ini dikeluarkan oleh Majelis Umum PBB dengan persetujuan 33 negara, 13 negara menentang, dan sepuluh negara abstain.

Jika kita memeriksa legalitas keputusan ini dari sudut pandang hukum internasional, kita akan menemukan di dalamnya pelanggaran mencolok terhadap sejumlah prinsip hukum internasional yang sudah mapan, yang paling penting adalah:

Keputusan tersebut jelas merupakan pelanggaran dan pelanggaran berat terhadap instrumen Mandat Inggris untuk Palestina, yang telah disetujui oleh Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1922, di mana peran Mandatory State on Palestine (Inggris) sebatas bekerja untuk menciptakan dan mengkonsolidasikan kemerdekaan politik Negara Palestina, dan untuk mendirikan entitas independennya sendiri.

Pelanggaran eksplisitnya terhadap hak masyarakat untuk menentukan nasib sendiri, yang merupakan hak alami dan hak asasi manusia yang diabadikan dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (ayat dua / Pasal satu), dan oleh Liga Bangsa-Bangsa, keputusan ini melanggar hak ini, melalui Majelis Umum membahas nasib orang lain, hak yang tidak Ini akhirnya disahkan, karena tidak memiliki hak untuk mendirikan negara, dan tidak memiliki hak untuk mengambil alih tanah negara untuk kepentingan entitas lain (Israel ), dan inilah yang dinyatakan dalam alinea keempat Pasal 2 Piagam.

Tapi Inggris bekerja sebaliknya, melalui aliansi erat dengan Zionisme global sejak Deklarasi Balfour pada tahun 1917, dan melewati kekuasaannya sebagai otoritas Mandat yang terkandung dalam Instrumen Mandat, dengan memfasilitasi imigrasi Yahudi ke Palestina, dan memberikan perlindungan kepada geng-geng Zionis untuk melaksanakan kejahatan dan rencana mereka yang bertujuan untuk menggusur rakyat Palestina.

Resolusi 181 jauh lebih berbahaya daripada Deklarasi Balfour, karena janji tersebut mencakup janji untuk mendirikan tanah air nasional bagi orang-orang Yahudi, tetapi resolusi tersebut menciptakan negara, melegitimasi keberadaan internasional dan hukumnya, dan menetapkan perbatasan dan persentasenya (56%) di tanah orang lain yang kehilangan penentuan nasib sendiri.

Di antara indikasi pentingnya keputusan ini, kami menemukannya diatur dalam Deklarasi Kemerdekaan Israel tahun 1948, dan dalam keputusan untuk menerima keanggotaannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1949 di bawah Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 273 tahun 1949, yang menerima keanggotaan Israel di Perserikatan Bangsa-Bangsa setelah rekomendasi Dewan Keamanan untuk melakukannya, asalkan resolusi 181 dilaksanakan tahun 1947, dan Resolusi 194 tahun 1948, yang mengatur pemulangan, kompensasi dan pemulangan pengungsi Palestina, namun Israel belum mematuhi persyaratan keanggotaannya, juga tidak melaksanakan kewajiban internasional, dan selalu terbukti bahwa ia bukanlah negara yang cinta damai atau negara yang mau melalui pelanggaran terus-menerus terhadap hukum humaniter internasional dan hukum Dewan Hak Asasi Manusia Internasional, dan pelanggarannya terhadap semua hukum internasional. resolusi, yang menyerukan peninjauan kembali keanggotaannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Terlepas dari ketidakadilan historis yang dibawa oleh resolusi ini terhadap rakyat Palestina, dan perampokan mereka atas sebagian besar tanah mereka, Israel tidak mematuhi resolusi ini, yang memberi wewenang kepada Dewan Keamanan untuk mempertimbangkan setiap upaya untuk mengubah penyelesaian yang terkandung dalam resolusi ini dengan memaksa dan menganggapnya sebagai ancaman bagi perdamaian, pelanggaran terhadapnya, atau Tindakan agresi berdasarkan Pasal 39 Piagam, namun ketentuan ini tidak ditegakkan.

Pada tahun 1977, Majelis Umum memutuskan untuk menetapkan tanggal 29 November setiap tahun sebagai hari solidaritas global dengan rakyat Palestina berdasarkan resolusinya (40/32).Apakah resolusi ini merupakan kompensasi, bahkan sebagian, atas ketidakadilan berat yang diderita oleh rakyat Palestina, sebagaimana di dalamnya berisi sejumlah hak bagi rakyat Palestina, antara lain; Haknya atas perwakilan politik, dengan menganggap PLO sebagai wakilnya. Hak untuk menentukan nasib sendiri, kemerdekaan nasional dan kedaulatan nasional dan terakir adalah Hak untuk kembali.

Terlepas dari pentingnya ini, dan apa yang dihasilkan darinya, itu tidak mengarah pada hasil yang nyata di lapangan dan tidak mengembalikan sebagian dari hak-hak rakyat Palestina yang dicuri, dan hari ini tetap ada meskipun beberapa dekade yang lalu disetujui sebagai hari untuk pidato. dan slogan saja.

Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa, terlepas dari pelanggaran berbahaya mereka terhadap ketentuan Piagam dan ketidakadilan rakyat Palestina, tetap hanya tinta di atas kertas, dan tidak dapat menahan arogansi Israel dan mewajibkan mereka untuk menerapkannya.

Kesimpulan PBB menciptakan Israel, melegitimasi keberadaannya, dan membiarkannya melanggar bahkan melanggar resolusinya. Puluhan tahun kemudian, PBB menciptakan bagi kita Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina untuk menyampaikan pidato dan slogan tentang ketidakadilan sejarah yang ditimbulkan pada kita. []