HomeBeritaOPINI – Dukungan Global untuk Israel Merosot, Netanyahu Bukan Satu-Satunya Penyebab

OPINI – Dukungan Global untuk Israel Merosot, Netanyahu Bukan Satu-Satunya Penyebab

Oleh: Einav Schiff, Yedioth Ahronout

Pihak oposisi tidak menyerang peringatan Anggota DPR California Brad Sherman mengenai penurunan tajam posisi Israel di mata pemukim Amerika karena mereka tahu  peringatan itu benar—sementara sebagian besar pemukim Israel memang tidak ingin mendengarnya.

Menambah banyaknya data yang menunjukkan merosotnya posisi Israel dalam opini publik Amerika, muncul sebuah peringatan yang tidak biasa pada akhir pekan lalu. Brad Sherman, anggota Kongres dari Partai Demokrat dan salah satu tokoh pro-Israel dari generasi lama yang masih bertahan, mengunggah sebuah video yang menampilkan hasil jajak pendapat yang mengkhawatirkan dari Juli. Menurut pandangannya, pemukim Israel dan para pejabat yang mereka pilih tidak memahami seberapa besar dan seberapa mendesaknya bahaya yang sedang dihadapi.

Atas permintaannya, pernyataan Sherman kemudian diterjemahkan dan dikutip oleh media Israel.

Di permukaan, para pemimpin kubu “perubahan”, terutama mereka yang melihat dirinya sebagai calon perdana menteri, semestinya segera memanfaatkan pernyataan Sherman sebagai bukti  bahkan dalam isu yang dianggap sebagai bidang keunggulan Benjamin Netanyahu, ia telah menyeret Israel ke jurang keruntuhan.

Hal itu semakin relevan menjelang perjalanan Netanyahu ke Sidang Majelis Umum PBB. Tahun ini, agenda tersebut tampaknya akan berlangsung jauh dari suasana meriah.

“Konflik berpotensi meningkat dengan cepat”: AS keluarkan peringatan terkait Timur Tengah saat Trump meninggalkan Camp David lebih awal

Dalam sebuah unggahan, Sherman mengatakan setiap pejabat dan pemilih Israel seharusnya menyaksikan video tersebut dan video itu perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani.

Ia mengatakan sehari sebelumnya dirinya telah berbicara dengan Duta Besar Israel, namun menurutnya baik sang duta besar maupun mayoritas pemukim Israel tidak menyadari apa yang sebenarnya dipertaruhkan.

Namun hingga artikel ini ditulis, tokoh-tokoh seperti Gadi Eisenkot, Naftali Bennett, dan Avigdor Liberman belum memberikan tanggapan terhadap pernyataan Sherman.

Yair Lapid menulis di X, “Kami tahu bagaimana memperbaikinya,” tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan “memperbaikinya”. Mungkin, tulis artikel tersebut secara menyindir, ia baru akan membagikan informasinya setelah pemilu.

Sekilas, hal ini bisa dianggap sebagai contoh lain dari buruknya strategi kampanye, sesuatu yang  sudah banyak terjadi. Namun setidaknya dalam persoalan ini, persoalannya tampaknya lebih dalam. Sherman sendiri menunjuk langsung pada masalah tersebut.

Dalam pernyataan yang dipublikasikannya, Sherman secara khusus menyebut Menteri Itamar Ben-Gvir sebagai “bahaya eksistensial”, serta Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat yang menurutnya “tidak memahami tingkat keparahan masalah”.

Sementara itu, bagian lain dari pesannya ditujukan kepada “sebagian besar pemukim  ilegal Israel”.

“Ketika saya mendengar pemukim ilegal Israel mengatakan kepada saya tindakan teror yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina dapat dibenarkan, maka mereka tidak memiliki masalah dengan merosotnya simpati global terhadap Israel, hal itu menunjukkan kebodohan mereka terhadap sejarah Yahudi.”

Dan, justru di situlah persoalannya.

Para pemimpin kubu tersebut tidak memiliki banyak hal untuk ditawarkan karena sebagian besar pemukim Israel memang belum berada pada posisi untuk menerima pesan tersebut dan tidak ingin mendengarnya. Penulis menunjuk kontroversi yang muncul seputar sebuah film dokumenter Naza sebagai salah satu contohnya.

Kepemimpinan di Israel saat ini berarti  jika pemukim tidak ingin mendengar sesuatu, maka para pemimpin tidak menyampaikannya kepada mereka.

Hal itu, berlaku bagi Bennett, yang mendukung pembangunan di kawasan E1—sebuah langkah yang pemukim tersebut mempercepat munculnya sanksi Eropa. Hal serupa juga dikaitkan dengan Liberman, yang pernah menyatakan  “tidak ada orang yang tidak bersalah di Gaza”.

Sementara Eisenkot disebut pernah menghadapi upaya untuk menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang siap melakukan “penarikan diri” dari Gaza. Penulis menyatakan  pada akhirnya ia tetap mendukung kehancuran besar-besaran yang membuat Israel semakin dikucilkan.

Anggota DPR AS Brad Sherman

Penulis menyindir  pendekatan “kanan lunak” tidak menghasilkan perubahan. Namun, menurutnya, pendekatan lain juga belum tentu menghasilkan perubahan, meskipun hal itu tidak menghentikan para politisi untuk berbicara mengenai apa yang disebut sebagai “model Hungaria”.

‘’Seseorang bisa terus berbicara hingga Yom Kippur berikutnya mengenai “hasbara”, “uang Qatar”, atau bahkan menyalahkan segala sesuatu kepada Ben-Gvir dan, tentu saja, Netanyahu.

Namun, menurutnya, kenyataannya lebih kompleks.

Trauma 7 Oktober bergabung dengan sejumlah peristiwa besar lainnya—terutama serangkaian bom bunuh diri pada 1990-an dan Intifada Kedua, serta berbagai perang yang terjadi setelah keputusan pelepasan permukiman—dan kemudian membentuk apa yang disebut di luar negeri sebagai “Planet Israel”.

Istilah tersebut menggambarkan sebuah realitas di mana pemukim Israel memahami dengan baik bagaimana mereka dipandang dari luar, tetapi memilih untuk tidak peduli.

Sikap tersebut dapat muncul karena kemarahan terhadap kemunafikan dan antisemitisme, ataupun karena naluri untuk bertahan hidup. Hal itu tercermin dalam gagasan “bangsa yang tinggal sendirian”, baik sebagai pandangan hidup maupun sebagai sumber kebanggaan.

Kenyataan seorang anggota Kongres AS harus mengatakan hal ini—alih-alih seorang pemimpin Israel yang berani menyampaikannya—menunjukkan betapa bobroknya sistem (zionisme) yang mulai runtuh tersebut.

 

ARTIKEL TERKAIT

Terkini