Oleh: Mahdi Motlag
Dalam lanskap strategis Timur Tengah pascaperang, justru keheningan menjadi variabel paling menipu. Meski keseimbangan kekuatan tampak bergeser, kalangan keamanan di Tel Aviv menghadapi realitas yang jauh lebih kompleks daripada yang tergambar dalam tajuk-tajuk berita. Para perencana strategis Israel pada dasarnya sepakat pada satu konsensus tak tertulis: “masalah Iran” belum berakhir, melainkan hanya berubah bentuk.
Ironisnya, dalam dinamika perang asimetris modern, fenomena internal di Iran—yakni berlanjutnya aksi-aksi protes berskala kecil dan tersebar—justru berfungsi sebagai faktor penangkal terhadap agresi eksternal. Barat cenderung melihat rezim Teheran berada di ambang keruntuhan. Namun, penilaian yang lebih dingin dari komunitas intelijen Israel menunjukkan gambaran berbeda: kondisi “tidak stabil namun juga tidak runtuh” menempatkan Iran dalam zona abu-abu keamanan. Situasi ini memaksa Israel berhitung ulang dan secara tidak langsung memberi Teheran sumber daya strategis paling berharga: waktu.
Dilema “status quo ante”
Untuk memahami mengapa gejolak internal justru menguntungkan strategi “politik waktu” Teheran, perlu ditelaah kembali logika ancaman dari sudut pandang Israel. Memo-memo strategis Institute for National Security Studies (INSS) dalam proyeksi 2025 menegaskan bahwa garis merah Israel adalah mencegah Iran kembali ke status quo ante. Kebuntuan diplomatik saat ini dipandang sebagai skenario paling berbahaya, karena membuka ruang bagi Iran untuk memulihkan infrastruktur strategisnya di tengah pengawasan internasional yang melemah.
Secara klasik, ancaman semacam ini menuntut serangan pendahuluan atau setidaknya tekanan militer maksimum. Namun, variabel domestik Iran mengacaukan kalkulasi tersebut. Analisis INSS mengenai stabilitas rezim menyebutkan bahwa meski legitimasi politik menurun, struktur kekuatan keras—terutama Garda Revolusi (IRGC) dan Basij—tetap solid. Kesimpulan ini menyingkirkan opsi “pergantian rezim dari luar” dalam doktrin keamanan Israel, dan menggeser strategi ke arah pelemahan bertahap. Masalahnya, strategi atrisi membutuhkan waktu—dan waktu inilah yang justru dihasilkan oleh dinamika protes internal Iran.
Protes sebagai tameng sekaligus senjata
Bagi sebagian analis Israel, kondisi jalanan Teheran justru menciptakan perisai psikologis terhadap serangan asing. Ron Ben-Yishai, analis militer senior Ynet, menilai bahwa meskipun ketidakpuasan nyata, protes-protes tersebut belum memiliki kepemimpinan terpadu maupun kapasitas menjatuhkan rezim dalam waktu dekat.
Komunitas intelijen Israel sangat mewaspadai efek rally ’round the flag. Pengalaman perang Iran–Irak selama delapan tahun menunjukkan bahwa serangan eksternal berskala besar berpotensi memicu nasionalisme. Seperti diperingatkan The National Interest, serangan militer justru bisa membalikkan arah protes: rezim memperoleh legitimasi untuk menekan oposisi dengan dalih menghadapi “kolom kelima”.
Akibatnya, pengambil keputusan di Tel Aviv terjebak dilema. Menyerang berarti berisiko menyatukan barisan domestik Iran. Tidak menyerang memberi Iran ruang bernapas untuk membangun kembali kapasitasnya. Keberlanjutan protes yang berserak inilah yang mempertahankan keraguan tersebut dan membuat biaya politik-serta sosial—dari setiap aksi militer sulit diprediksi.
Ofensif tersembunyi: memindahkan beban pasivitas
Di balik strategi bertahan ini, tersembunyi tujuan yang lebih ofensif. Dengan mempertahankan tingkat kekacauan yang terkendali, Teheran secara efektif memindahkan beban “pasivitas” ke pihak Israel. Israel, yang sebelumnya berada dalam posisi inisiatif, kini terperosok dalam kebingungan strategis.
Retorika pejabat Iran yang secara konsisten menuding Mossad berada di balik keresahan domestik memiliki dua fungsi. Di dalam negeri, narasi ini mendeligitimasi protes. Di tingkat internasional, ia membangun justifikasi diskursif bagi tindakan balasan terhadap Israel atas nama “pembelaan nasional”. Pergeseran dari sikap defensif ke postur ofensif yang ambigu ini menandai titik balik penting: inisiatif perlahan bergeser ke tangan Teheran, sementara Israel menjadi pihak reaktif.
Penahanan aktif dan kebuntuan Barat
Dokumen kebijakan INSS merekomendasikan strategi hibrida: kombinasi kesepakatan restriktif dan ancaman militer yang kredibel. Namun, implementasinya tersendat di tengah ketegangan internal Iran. Negara-negara Barat—termasuk AS dan Eropa—cenderung menunda aksi militer besar terhadap negara yang berada dalam kondisi “tidak runtuh, namun tidak stabil”. Pendekatan “menunggu dan melihat” ini justru sejalan dengan kepentingan Teheran.
Analisis INSS mengenai pengaruh regional mencatat bahwa Iran kini berfokus pada rekonstruksi asimetris. Di tengah melemahnya kekuatan proksi, Teheran meningkatkan kuantitas dan presisi persenjataan misil serta mempertahankan posisi di ambang nuklir. Sementara perhatian media dan intelijen tersedot ke dinamika protes, lapisan teknokratis di bawahnya bekerja memulihkan rantai pasok dan mengembangkan sentrifugal. Dalam kondisi ini, Iran juga memanfaatkan waktu untuk memperkuat kemitraan strategis—termasuk dengan Rusia—yang akan sulit dilakukan dalam situasi perang terbuka.
Siapa diuntungkan oleh kabut ketidakpastian?
Tinjauan atas berbagai dokumen strategis di Tel Aviv dan Washington menunjukkan bahwa protes internal Iran telah berubah menjadi variabel penghasil waktu dalam konfrontasi dengan Israel. Israel ingin melemahkan kapasitas Iran, namun khawatir pada dampak tak terduga dari aksi militer.
Sebaliknya, Teheran memanfaatkan paradoks ini untuk membalik momentum psikologis konflik. Protes yang tersebar dan berkelanjutan mengubah perang dari keniscayaan menjadi skenario berisiko tinggi. Dalam dunia strategi, setiap hari penundaan perang adalah keuntungan bagi pihak yang sedang membangun kembali kekuatannya. Selama kabut ambiguitas ini bertahan, Israel tetap terjebak dalam keraguan—sementara waktu terus berpihak pada Teheran.

