Pakistan menegaskan tidak akan mengadakan dialog dengan Afghanistan, meski serangan lintas perbatasan antara kedua negara terus berlangsung untuk hari ketiga, yang disebut Pakistan sebagai “perang terbuka” antara tetangga.
Seruan internasional untuk mediasi terus meningkat. Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, meminta kedua negara menurunkan ketegangan dan membuka pembicaraan, mengingat kekerasan ini berpotensi memengaruhi kawasan lebih luas. Selain itu, Iran, Yordania, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mendesak de-eskalasi dan mediasi.
Pemerintah Taliban di Afghanistan menyatakan bersedia bernegosiasi untuk mengakhiri konflik. Namun, Pakistan menegaskan, Sabtu (28/2/2026), “tidak ada pembicaraan, tidak ada negosiasi. Terorisme dari Afghanistan harus dihentikan”, kata juru bicara Perdana Menteri Pakistan, Mosharraf Zaidi. Ia menekankan Pakistan bertanggung jawab melindungi warganya dan wilayah negara.
Serangan Balasan dan Korban
Dalam beberapa hari terakhir, serangan bolak-balik terjadi di perbatasan. Media Afghanistan melaporkan pasukan Taliban menembakkan serangan drone ke pos militer Pakistan di wilayah Miranshah dan Spinwam.
Sementara itu, media Pakistan, Dawn, melaporkan serangan drone mengenai sebuah masjid di kota Bannu, menewaskan atau melukai sedikitnya lima orang. Pakistan TV juga melaporkan pasukannya melancarkan serangan terhadap sejumlah posisi Taliban.
Kekerasan terbaru ini bermula setelah serangan udara Pakistan ke wilayah Afghanistan pekan lalu, yang memicu serangan balasan Taliban hingga menjangkau enam distrik di Pakistan pada Kamis. Pakistan pun melancarkan serangan udara besar-besaran pada Jumat dini hari, menargetkan ibu kota Afghanistan serta dua wilayah lain, Kandahar dan Paktia. Ini merupakan serangan udara pertama Pakistan ke basis kekuatan Taliban di selatan sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021.
Kedua pihak melaporkan kerugian besar dengan jumlah berbeda-beda. Pakistan menyebut 12 tentaranya tewas dan 274 pejuang Taliban gugur. Taliban menyatakan 13 pejuangnya tewas dan 55 tentara Pakistan tewas. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Dukungan Internasional
Amerika Serikat, yang menganggap Pakistan sebagai sekutu non-NATO utama, menyatakan mendukung hak Pakistan untuk “membela diri dari serangan Taliban”.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekerasan di Pakistan meningkat tajam, termasuk ledakan bunuh diri dan serangan terkoordinasi terhadap pasukan keamanan. Pakistan menuding Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) bertanggung jawab atas banyak serangan, serta menuduh Afghanistan memberikan tempat perlindungan bagi kelompok tersebut. Kabul membantah tudingan ini dan menegaskan tidak membiarkan siapa pun menggunakan wilayah Afghanistan untuk menyerang negara lain, termasuk Pakistan.
Pakistan memiliki senjata nuklir dan kemampuan militer jauh lebih unggul dibanding Afghanistan. Namun, Taliban dikenal tangguh dalam perang, terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun melawan pasukan pimpinan Amerika Serikat.
Kalau mau, aku bisa buatkan versi lebih ringkas 600 kata yang pas untuk berita online dengan subjudul dan highlight korban untuk menarik perhatian pembaca.
Mau aku buatkan versi itu juga?


