Media Israel pada Jumat (30/8/2025) melaporkan bahwa sedikitnya empat prajuritnya hilang dan sejumlah lainnya tewas serta terluka dalam sebuah penyergapan besar oleh Brigade Al-Qassam di lingkungan Zeitoun, sebelah timur Kota Gaza.
Sumber di lapangan menyebutkan, operasi tersebut dimulai dengan penyergapan yang dirancang secara cermat, mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban jiwa dari pihak militer Israel. Beberapa laporan menyebutkan adanya korban luka berat.
Militer Israel kemudian mengerahkan enam helikopter tambahan guna mengevakuasi korban tewas dan luka dari lokasi kejadian. Sementara itu, pasukan Israel menembakkan suar dalam jumlah besar ke langit Gaza tengah sebagai bagian dari upaya pengamanan area operasi.
Media berbahasa Ibrani juga melaporkan bahwa militer Israel mengaktifkan Protokol Hannibal—sebuah prosedur darurat militer yang digunakan untuk mencegah penculikan tentara oleh musuh.
Sumber-sumber militer mengonfirmasi bahwa pasukan dari Divisi 162 dan Brigade Lapis Baja 401 yang menjadi korban penyergapan tengah berada di bawah tekanan hebat akibat pertempuran di lingkungan Zeitoun, terutama setelah masuknya lebih banyak pejuang Palestina untuk memperkuat serangan.
Dilaporkan pula bahwa Brigade Nahal merupakan unit pertama yang terperangkap dalam penyergapan di Zeitoun, mengakibatkan satu prajurit tewas dan sejumlah lainnya terluka. Dalam waktu singkat, pasukan Israel lainnya juga disergap di lingkungan Sabra, sehingga helikopter tempur dikerahkan untuk melakukan serangan ke lokasi tersebut.
Juru bicara Brigade Al-Qassam, Abu Obeida, menyatakan bahwa kelompok perlawanan Palestina kini berada dalam kondisi siaga tinggi menghadapi rencana Israel untuk menduduki Kota Gaza. Ia menyebutkan bahwa rencana tersebut akan berdampak besar bagi kepemimpinan politik dan militer Israel.
Dalam pernyataannya melalui Telegram pada Jumat malam, Abu Obeida menegaskan bahwa “pendudukan Gaza akan dibayar mahal dengan darah tentara Israel dan akan membuka peluang lebih besar untuk menangkap lebih banyak tentara musuh, insya Allah.”
Sementara itu, jumlah korban tewas di Gaza terus bertambah. Berdasarkan data terakhir, lebih dari 63.000 warga Palestina telah meninggal dunia sejak konflik kembali memanas pada Oktober 2023, termasuk lima orang yang dilaporkan meninggal karena kelaparan baru-baru ini.